Dalam melakukan pembedahan untuk mengangkat suatu jaringan tumor, salah satu hal yang menjadi kekhawatiran ahli bedah adalah potensi perdarahan yang ditimbulkan. Tumor merupakan suatu jaringan baru dengan pembuluh darah yang berlebih, sehingga kesalahan langkah sedikit saja dapat berujung pada perdarahan hingga kematian. Prosedur pembedahan membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian yang tinggi. Sekalipun dikerjakan oleh ahli bedah yang sudah berpengalaman pun, risiko perdarahan yang sulit diatasi itu tetap ada.
Salah satu solusi yang dikembangkan adalah embolisasi pembuluh darah arteri utama yang mengaliri tumor tersebut. Setelah pembuluh darah diembolisasi, barulah jaringan tumor itu dibuang. Embolisasi adalah penyumbatan suatu pembuluh darah, yang dalam hal ini dilakukan secara sengaja. Harapannya, aliran darah yang melalui arteri tersebut berkurang bahkan berhenti, sehingga mengurangi risiko perdarahan masif selama operasi. Penyumbatan ini dilakukan secara selektif sehingga hanya pembuluh darah target yang disumbat, sementara aliran darah ke organ-organ lain tidak terganggu.
Dalam konteks kelainan ginjal, metode embolisasi telah diperkenalkan sejak tahun 1970an. Literatur melaporkan penggunaan embolisasi pada kasus-kasus seperti kencing darah (hematuria), tumor ginjal, kelainan bawaan pembuluh darah, hingga trauma atau perlukaan pada ginjal dengan hasil yang cukup memuaskan. Teknik ini juga digunakan dalam prosedur preoperatif sebagai upaya mengurangi perdarahan saat pembedahan, walaupun dengan hasil yang belum konklusif. Beberapa laporan menuliskan pengurangan jumlah perdarahan yang signifikan, sementara lainnya menyatakan tidak ada perbedaan yang berarti. Walau demikian, penggunaannya dalam kasus prosedur preoperatif sebelum reseksi (pengangkatan) tumor dinilai berpotensi menguntungkan.
Bahan yang digunakan bervariasi dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, di antaranya fibrin glue, coils, polyvinyl alcohol, gel foam, serta PVA microspheres. Suatu alat embolisasi yang tergolong baru adalah Amplatzer Vascular Plug (AVP) (produk St. Jude Medical) yang terbuat dari anyaman berbahan nitinol. Penggunaannya untuk embolisasi pembuluh darah perifer/tepi.telah disetujui oleh The United States Food and Drug Administration (FDA) sejak 2004. Alat ini dilepaskan menelusuri kateter yang telah dimasukkan ke dalam pembuluh darah target. Setelah mencapai posisi yang diinginkan, AVP akan dikembangkan hingga menyumbat pembuluh darah tersebut. Untuk mencapai efektivitas maksimal dalam penggunaan AVP, perlu adanya penyesuaian ukuran pembuluh darah target dengan ukuran alat yang akan digunakan. Alat yang dipilih idealnya berukuran 30-50% lebih besar agar dapat menutup pembuluh darah target dengan optimal. Salah satu kelebihan AVP dibanding bahan-bahan lainnya, alat ini masih dapat ditarik kembali dan direposisi ke titik yang diinginkan walaupun sudah dilepaskan dalam pembuluh darah. Ahli bedah biasanya meminta pemeriksaan CT (Computed Tomography) Scan atau MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melakukan pengukuran pembuluh darah target sekaligus mendeteksi adanya pembuluh darah tambahan pada ginjal yang perlu diembolisasi juga.
Kami telah melakukan prosedur embolisasi pembuluh darah ginjal dalam kasus tumor ginjal pada 3 pasien. Prosedur ini dilakukan sebelum operasi pengangkatan tumor untuk meminimalisir perdarahan selama operasi tersebut. Pada 2 dari 3 kasus ini, di samping pembuluh darah utama ginjal, ditemukan pula pembuluh darah tambahan yang juga memerlukan embolisasi. Dalam kedua kasus tersebut kami menggunakan AVP untuk embolisasi pembuluh darah utama ditambah bahan embolisasi lain untuk pembuluh darah tambahan tersebut. Pada kasus pertama, pembuluh darah tambahan diembolisasi dengan gel foam, sementara pada kasus kedua digunakan kombinasi PVA dan gel foam. Dalam kasus ketiga tidak ditemukan adanya pembuluh darah tambahan, sehingga embolisasi dengan AVP saja pada pembuluh darah utama ginjal sudah cukup untuk kontrol perdarahan selama operasi pengangkatan tumor. Hal ini dikonfirmasi oleh tim bedah urologi yang melakukan operasi pengangkatan tumor di hari setelah embolisasi, bahwa perdarahan yang terjadi selama ketiga operasi dapat teratasi dengan baik.
Embolisasi pembuluh darah dalam konteks kelainan ginjal hingga saat ini belum memiliki pedoman yang disepakati secara luas, namun prosedur ini dinilai berpotensi menguntungkan. Persiapan sebelum prosedur embolisasi perlu dilakukan secara teliti, mulai dari pemilihan bahan hingga pemilihan ukuran alat yang akan digunakan, untuk mencapai hasil seoptimal mungkin, yaitu meminimalisir perdarahan selama operasi selanjutnya.
Penulis: Danang Himawan Limanto, dr.
Link Jurnal: /





