Kebijakan Pasar Tenaga Kerja Aktif (Active Labour Market Policies / ALMPs) adalah inisiatif pemerintah yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi pasar tenaga kerja dengan memfasilitasi penyesuaian antara permintaan dan penawaran tenaga kerja (Kluve dan Rani 2016; McKenzie 2017). Tujuannya adalah untuk mempertahankan peluang kerja yang ada, menciptakan lapangan kerja baru, mendorong keberlanjutan di pasar tenaga kerja, mendukung masuk kembali pekerja yang telah menganggur dalam jangka panjang, dan mempercepat proses pencarian serta pencocokan pekerjaan (McKenzie 2017; Ernst dkk. 2022). Di Indonesia, ALMP dijalankan melalui Program Kartu Prakerja yang dilaksanakan berdasarkan Peraturan Presiden No. 76 Tahun 2020. Inisiatif ini berfokus pada pengembangan kompetensi tenaga kerja, produktivitas, daya saing, dan keterampilan kewirausahaan. Sejak dimulai saat pandemi COVID-19, program ini telah memberikan pelatihan dan bantuan tunai kepada lebih dari 11,4 juta penerima, dengan total anggaran sebesar Rp 41,05 triliun, mencerminkan komitmen kuat pemerintah terhadap keberhasilan program ini (APEC 2021; Kemenko Bidang Perekonomian RI 2022).
Optimisme ini diperkuat oleh bonus demografi Indonesia saat ini, dengan peningkatan signifikan pada jumlah penduduk usia produktif yang diperkirakan mencapai puncaknya antara tahun 2020 hingga 2030 (BPS 2022). Mengintegrasikan pasokan tenaga kerja ke dalam pekerjaan produktif sangat penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan secara keseluruhan. Pengangguran merupakan indikator makroekonomi yang penting karena mencerminkan ketidaksesuaian antara permintaan dan penawaran tenaga kerja di pasar kerja, yang mengarah pada pemanfaatan sumber daya tenaga kerja yang kurang optimal (Romer 2012; Sage 2018). Seperti banyak negara berkembang lainnya, pasar tenaga kerja muda di Indonesia ditandai dengan tingkat pengangguran yang tinggi, ketidaksesuaian keterampilan, dan ketergantungan kuat pada sektor informal (ILO 2022).
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran pemuda (usia 1524 tahun) hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan orang dewasa, mencerminkan tantangan yang dihadapi anak muda dalam mendapatkan pekerjaan yang stabil. Selain itu, proporsi yang signifikan (38,95%) dari pekerja muda diklasifikasikan sebagai pekerja tidak penuh waktu, dengan jam kerja kurang dari standar 35 jam per minggu (BPS 2021). Mengatasi tantangan ini sangat penting untuk memanfaatkan bonus demografi Indonesia, sekaligus meningkatkan potensi tenaga kerja dan mengurangi dampak ekonomi dari penuaan penduduk. Namun demikian, efektivitas ALMP dalam meningkatkan kesempatan kerja, terutama di kalangan tenaga kerja muda, masih menjadi perdebatan. Beberapa studi menunjukkan dampak positif terhadap ketenagakerjaan pemuda (Escudero dkk. 2019; Focacci 2020; Kluve dkk. 2019; Kruppe dan Lang 2018; Pastore dan Pompili 2020), sementara studi lain melaporkan hasil yang kurang menggembirakan. Kajian oleh Card dkk. (2018) juga menemukan hasil yang beragam, dengan efek positif yang kurang konsisten untuk peserta yang lebih muda. Temuan yang beragam ini menunjukkan bahwa keberhasilan ALMP sangat bergantung pada desain dan implementasinya, yang dapat berbeda-beda antar negara dan kelompok demografis.
Program Kartu Prakerja di Indonesia merupakan langkah penting untuk meningkatkan hasil ketenagakerjaan sejak pandemi COVID-19. Namun, dampaknya terhadap tenaga kerja muda masih kurang dievaluasi. Studi ini bertujuan untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis efektivitas program dalam meningkatkan peluang memperoleh pekerjaan dan jam kerja yang layak bagi pekerja muda di Indonesia. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas Program Kartu Prakerja攕ebuah ALMP di Indonesia攄engan fokus pada probabilitas memperoleh pekerjaan dan jam kerja di kalangan tenaga kerja usia muda. Dengan menggunakan 8.164 observasi dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2021, penelitian ini menerapkan metode matching untuk membandingkan peserta dan non-peserta secara lebih andal. Temuan menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan terhadap peluang kerja bagi peserta yang sebelumnya menganggur, namun tidak ada dampak signifikan terhadap jam kerja bagi mereka yang sudah bekerja saat mengikuti program. Hal ini menunjukkan kekuatan program dalam meningkatkan akses kerja melalui pelatihan keterampilan, tetapi juga mengindikasikan keterbatasan dalam mengatasi masalah kekurangan jam kerja (underemployment).
Studi ini memberikan kontribusi penting baik dalam diskusi akademik maupun kebijakan dalam beberapa aspek utama. Studi ini memperluas literatur ALMP yang selama ini lebih banyak berfokus pada negara maju. Dari sisi metodologi, studi ini memperkuat penelitian efektivitas ALMP dengan menerapkan Propensity Score Matching (PSM) yang dilengkapi dengan analisis sensitivitas Rosenbaum untuk mengevaluasi program skala besar, sekaligus mengatasi bias seleksi yang umum dalam studi observasional. Pendekatan ini meningkatkan kekuatan evaluasi dampak dalam konteks di mana desain eksperimental tidak memungkinkan.
Dari sisi kebijakan, studi ini memberikan bukti empiris mengenai efektivitas ALMP di negara berkembang di mana pengangguran usia muda dipengaruhi oleh informalitas dan ketidaksesuaian keterampilan. Meskipun ada perubahan regulasi terhadap Program Kartu Prakerja antara 2021 dan 2024, hasil studi ini tetap relevan secara kebijakan karena komponen inti program攖ermasuk kriteria kelayakan, modul pelatihan digital, dan insentif penyelesaian攖etap konsisten. Dengan demikian, studi ini menjadi referensi yang berharga untuk menilai dampak jangka panjang program, terutama dalam konteks ekonomi yang menghadapi tantangan struktural di pasar tenaga kerja.
Penulis: Rizki Anggara dan Ilmiawan Auwalin
BPS Kebupaten Prabumulih, Sumatera Selatan, Indonesia dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 51动漫, Surabaya, Indonesia
Tulisan ini diringkas dari artikel jurnal dengan judul: 淓valuating active labour market programmes: Possibilities for youth employment in Indonesia and beyond yang telah diterbitkan di jurnal Economic and Labour Relations Review (Scopus Q2). Artikel jurnal dapat diakses di:





