Pneumonia merupakan peradangan paru yang disebabkan oleh berbagai), terutama disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae (pneumococcus), Staphylococcus aureus, Streptococcus Grup A, Klebsiella pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan bakteri atipikal seperti Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, dan Legionella pneumophila. Berdasarkan derajat keparahannya, pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi pneumonia ringan, pneumonia sedang dan pneumonia berat. Pneumonia berat memerlukan perawatan intensif di ICU dan penanganan segera dengan antibiotika yang merupakan terapi utama pneumonia. Dalam sebuah penelitian terhadap 7749 pasien Community-Acquired Pneumonia (CAP), 23% pasien dirawat di unit perawatan intensif (ICU), dan angka kematiannya sekitar 47% dalam 1 tahun. Penggunaan antibiotika yang tidak rasional yang mencakup ketidaktepatan indikasi, pemilihan antibiotika dan regimentasi dosis dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotika, yang perlu menjadi perhatian dalam mengobati infeksi pneumonia.
WHO berupaya untuk mengurangi kejadian resistensi antibiotika dengan cara membuat perencanaan aksi global dengan meningkatkan penggunaan antibiotika secara tepat/bijak dan dengan melakukan evaluasi penggunaan antibiotika. Teknik Anatomical Therapeutic Chemical (ATC)/Defined Daily Dose (DDD) dapat digunakan untuk mengevaluasi jenis dan jumlah penggunaan antibiotika. WHO menyetujui sistem ATC/DDD sebagai standar pengukuran internasional untuk penelitian penggunaan obat.
Unit pengukuran ATC/DDD dengan DDD/100 pasien-hari digunakan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotika secara kuantitatif. Dari hasil penelitian yang dilakukan di ICU RSUA pada 68 pasien pneumonia berat (48% pasien perempuan dan 52% pasien laki-laki), diketahui sebagian besar pasien (81%) mengalami infeksi Community-acquired Pneumonia (CAP). Baik CAP maupun HAP dapat berkembang menjadi infeksi pneumonia berat apabila terjadi reaksi inflamasi yang tidak terkontrol yang disebabkan oleh faktor pathogen penyebab dan/atau faktor dari masing-masing individu seperti bertambahnya usia serta adanya penyakit penyerta. Jenis gejala yang paling banyak dialami pasien yaitu sesak napas. Sesak napas pada pneumonia dipicu oleh peradangan pada alveoli yang menyebabkan area ventilasi menurun sehingga napas meningkat untuk mempertahankan ventilasi yang cukup. Selain itu juga ditemui gejala penurunan kesadaran pada 10 pasien. Pada saat terjadi infeksi khususnya jatuh pada kondisi sepsis, tubuh mengalami peningkatan kebutuhan oksigen sehingga terjadi takipnea (peningkatan frekuensi pernapasan). Apabila tidak teratasi dengan baik, kondisi ini akan memicu hipoksia dan otak merupakan salah satu organ yang terkena dampaknya sehingga pasien dapat mengalami penurunan kesadaran.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat 13 jenis antibiotika yang digunakan sebagai terapi pneumonia berat antara lain sefazolin, seftazidim, seftriakson, sefoperazon-sulbaktam, meropenem, sulfametoksazol-trimetoprim, eritromisin, gentamisin, amikasin, moksifloksasin, levofloksasin dan vankomisin. Ketika dilakukan penghitungan nilai DDD diketahui bahwa total penggunaan antibiotika pada pasien pneumonia berat yang menjalani rawat inap di ICU RSUA periode Januari-Desember 2019 sebesar 73,64 DDD/100 patient-days. dari 13 antibiotika yang digunakan sebagai terapi pneumonia berat, levofloksasin parenteral merupakan antibiotika yang paling banyak digunakan dengan jumlah penggunaan sebesar 21,92 DDD/100 patient-days yang dapat diartikan bahwa dalam 100 hari rawat inap di RSUA terdapat 21-22 pasien pneumonia berat yang mendapatkan terapi levofloksasin parenteral sesuai dosis harian rata-rata yang telah ditentukan oleh WHO yaitu 0,5 gram per hari. Levofloksasin termasuk jenis antibiotika yang paling banyak diresepkan untuk terapi pneumonia karena merupakan antibiotika golongan fluorokuinolon yang efektif dalam mengatasi infeksi saluran napas atas maupun bawah dengan aktivitas yang tinggi terhadap bakteri gram positif dan bakteri atipikal penyebab pneumonia.
Penggunaan antibiotika terbanyak kedua adalah seftriakson dengan jumlah penggunaan sebesar 20.45 DDD/100 patient-days. Seftriakson merupakan salah satu antibiotika spektrum luas dari golongan sefalosporin generasi ketiga yang paling aktif terhadap strain pneumococci yang resisten terhadap penisilin, sehingga banyak digunakan sebagai terapi empiris untuk infeksi berat yang disebabkan oleh patogen tersebut. Sementara itu, penggunaan antibiotika terbanyak ketiga adalah meropenem dengan jumlah penggunaan sebesar 14.29 DDD/100 patient-days. Meropenem merupakan golongan karbapenem yang aktif terhadap berbagai bakteri aerob dan anaerob, termasuk strain pneumococci yang resisten terhadap penisilin seperti halnya seftriakson dan telah menunjukkan efektivitas yang baik dalam terapi pneumonia berat. Karbapenem merupakan golongan antibiotika dengan spektrum antibakteri paling luas dibandingkan dengan antibiotika 尾-laktam lainnya dan telah dilaporkan tahan terhadap hidrolisis oleh sebagian besar 尾-laktamase, termasuk ESBL sehingga utamanya digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri gram negatif multiresisten seperti P. aeruginosa. Namun, saat ini telah ditemukan bakteri yang memproduksi karbapenemase yaitu 尾-laktamase yang mampu menghidrolisis karbapenem sehingga hal tersebut perlu dipertimbangkan ketika memberikan meropenem sebagai terapi infeksi. Nilai DDD menunjukkan penggunaan antibiotika yang tinggi, tetapi penggunaan antibiotika yang tinggi tidak berarti menunjukkan penggunaan obat yang tidak rasional, sehingga perlu dilakukan tinjauan kualitas penggunaan antibiotika dengan metode Gyssens.
Penulis: Mareta Rindang Andarsari
Detail tulisan artikel ini dapat dilihat pada:
Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 9 No. 2(2022): Assessment of Antibiotic Use in ICU Patients with Pneumonia Using ATC/DDD as a Quantitative Analysis Method





