Nyeri orofasial (OFP) adalah istilah umum untuk rasa nyeri yang muncul di mulut, rahang, dan wajah. Sekitar 27,5% dari populasi umum mengalaminya, dan di Indonesia, bahkan lebih umum dengan angka 49,9%. Nyeri ini dapat disebabkan oleh berbagai masalah pada otot, saraf, pikiran, atau dalam kepala. Ketika nyeri terjadi karena akibat adanya kerusakan struktur atau malfungsi saraf, jenis nyeri tersebut disebut dengan nyeri neuropatik. Kondisi ini memengaruhi sekitar 7-8% orang, dan bagi 20-25% dari mereka, itu berlangsung lama (kronis).
Obat-obatan yang tersedia saat ini untuk pengobatan nyeri neuropatik seringkali hanya memiliki efek sementara dalam menurunkan nyeri dan berpotensi untuk menimbulkan efek samping yang berkepanjangan. Itulah mengapa kita memerlukan terapi yang dapat mengeliminasi salah satu faktor penyebab dari beberapa kasus nyeri neuropatik, yakni kerusakan saraf. Strategi terapi yang dapat membantu perbaikan saraf dalam kasus nyeri neuropatik adalah dengan mengaplikasikan bahan yang mampu memicu aktivasi sel-sel dan zat yang bersifat regeneratif di sekitar jaringan saraf yang mengalami kerusakan.
Penelitian oleh Winias dkk. (2023) bereksperimen dengan menggunakan freeze-dried platelet-rich plasma (FD-PRP) atau plasma kaya trombosit yang diaplikasikan pada saraf wajah yang mengalami kerusakan pada hewan coba. Penelitian ini diawali oleh studi-studi sebelumnya yang telah melaporkan bahwa PRP memiliki kemampuan yang sangat baik untuk memicu penyembuhan luka kulit. Selain itu, modifikasi PRP dengan teknik freeze-dried juga dapat meningkatkan ketahanan dari zat-zat aktif yang terkandung di dalam PRP. Kemampuan regeneratif dari PRP diperankan oleh kandungan faktor-faktor pertumbuhan (growth factor) dan zat-zat lain yang dapat mengontrol aktivitas sel-sel yang berperan dalam memicu perbaikan saraf.
Pada studi Winias dkk. melakukan pemodelan nyeri neuropatik dengan melakukan melakukan perlukaan saraf wajah dengan melakukan penekanan pada saraf infraorbitalis tikus Wistar. Setelah didapatkan model nyeri neuropatik orofasial yang representatif, tim peneliti melakukan aplikasi FD-PRP pada saraf yang mengalami kerusakan lalu mengevaluasi respon penyembuhannya. Studi ini mendapatkan bahwa FD-PRP memiliki kemampuan neuroregeneratif dibuktikan oleh peningkatan molekul brain-derived neutrophic factor (BDNF), yaitu suatu molekul yang dapat secara langsung meningkatkan regenerasi saraf. Selain itu, didapatkan pula bahwa pengaplikasian FD-PRP dapat meningkatkan jumlah Krox20, protein yang dapat menggambarkan aktivitas remielinasi (proses pemulihan protein mielin pada saraf).
Berdasarkan hasil penelitian Winias dkk. (2023) – BDNF and Krox20 as Indicators of Platelet-rich Plasma-Induced Nerve Regeneration in a Neuropathic Orofacial Pain Model yang dipublikasikan di European Journal of Dentistry (Q1), terbukti bahwa FD-PRP merupakan teknologi yang dapat dikembangkan untuk menjadi modalitas terapi perbaikan jaringan saraf yang mengalami kerusakan sehingga berpotensi untuk menyembuhkan kasus-kasus nyeri neuropatik khususnya yang terjadi pada daerah orofasial. Namun, penelitian ini masih memiliki keterbatasan sehingga dibutuhkan studi lebih jauh dalam mengevaluasi potensi FD-PRP sebagai bahan regenerasi saraf.
Penulis: Dr. Desiana Radithia, drg., Sp.PM.
Jurnal: BDNF and Krox20 as Indicators of Platelet-rich Plasma-Induced Nerve Regeneration in a Neuropathic Orofacial Pain Model





