51动漫

51动漫 Official Website

Fungsi Sawar Kulit pada Pengrajin Batik

Foto by Travel Kompas

Seni membatik adalah salah satu seni yang dilestarikan di Indonesia dan telah diakui secara internasional oleh UNESCO dalam daftar representatif Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi. Selain di Pulau Jawa, sentra batik di pulau-pulau lain di Indonesia juga berkembang dan dikenal di seluruh tanah air, termasuk sentra batik di Pulau Madura. Produk batik yang dibuat di Pulau Madura memiliki ciri khas tersendiri dengan pilihan warna yang cerah seperti merah, kuning, biru, dan hijau, serta motif yang menggunakan pola bunga atau hewan. 淏atik gentongan merupakan produk batik dengan teknik pewarnaan yang khusus, yaitu dengan menggunakan gentongan dari tanah liat untuk merendam kain dalam zat pewarna. Teknik pewarnaan ini dikembangkan di Kecamatan Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura.

Dalam pembuatan kain batik, terdapat banyak langkah yang harus dilakukan. Pekerjaan kering dilakukan oleh pembatik yaitu menggambar pola pada kain dengan malam, sedangkan pekerjaan basah yang dilakukan oleh pencelup yaitu mewarna, merendam, merebus, atau mencuci kain. Pengrajin batik yang terlibat dalam pekerjaan kering maupun basah dapat terpapar zat kimia yang dapat mempengaruhi kesehatannya. Kulit tangan merupakan bagian yang sangat rentan akan paparan zat yang dapat menyebabkan iritasi atau alergi seperti lilin/malam, pewarna, pelarut, dan zat lain yang digunakan selama proses membatik. Kulit yang terpapar oleh zat tersebut dapat mengalami gangguan fungsi sawar kulit. Gejala gangguan sawar kulit seperti kulit kering seringkali diabaikan bila tidak tampak kelainan kulit, hal ini dapat memperparah gangguan fungi sawar kulit dan terjadinya peradangan atau infeksi kulit.

Fungsi sawar kulit dapat digambarkan dengan melihat tingkat hilangnya air melalui kulit atau TEWL (Transepidermal Water Loss), tingkat hidrasi kulit, maupun tingkat keasaman kulit. Terdapat beberapa kondisi yang mempengaruhi hasil pengukuran fungsi sawar kulit antara lain faktor dari dalam tubuh (usia, jenis kelamin, lokasi/bagian tubuh yang diukur, etnis dan kondisi kesehatan kulit), faktor dari luar tubuh (paparan deterjen, pekerjaan basah, konsumsi kafein atau merokok), faktor lingkungan (suhu, kelembapan, sinar matahari, dan musim) serta faktor alat (tipe alat, kalibrasi alat, dan cara pemakaian alat). Penelitian terhadap fungsi sawar kulit pada pengrajin batik menemukan nilai TEWL yang lebih tinggi pada telapak tangan dibandingkan punggung tangan baik pada kelompok pembatik maupun pencelup. Hal ini mengindikasikan tingkat kehilangan air melalui kulit lebih banyak pada telapak tangan. Begitu pula pada penilaian tingkat hidrasi kulit, didapatkan bahwa telapak tangan memiliki hidrasi yang lebih rendah dibandingkan punggung tangan.

Hal ini dapat menunjukkan bahwa telapak tangan telah terpapar oleh zat untuk frekuensi yang lebih lama atau durasi yang lebih lama selama bekerja daripada punggung tangan sehingga menyebabkan peningkatan TEWL dan penurunan hidrasi pada telapak tangan para pengrajin batik. Pengrajin batik yang bekerja sebagai pencelup diperkirakan lebih banyak terpapar oleh zat kimia. Namun, pada pembatik juga mendapat paparan zat seperti lilin/malam atau zat pewarna yang juga dapat mengakibatkan gangguan sawar kulit. Tingkat keasaman kulit yang normal adalah pH 4.1 5.8 dengan beberapa variasi pada area tubuh tertentu. Walaupun nilai rata-rata keasaman kulit pada pengrajin batik didapatkan normal, ditemukan beberapa pengrajin yang mengalami peningkatan keasaman kulit. Tingkat keasaman kulit yang tinggi dapat mempengaruhi kestabilan lapisan terluar kulit sehingga menyebabkan rusaknya sawar kulit.

Terganggunya fungsi sawar kulit dapat menyebabkan peningkatan kadar TEWL dan mengganggu keseimbangan air di dalam kulit. Kondisi ini akan menyebabkan penurunan hidrasi kulit dan timbulnya gejala kulit kering dan bersisik. Para pengrajin batik harus mendapatkan edukasi yang memadai tentang pencegahan kerusakan sawar kulit, seperti membatasi paparan zat yang berbahaya, memakai alat pelindung diri saat bekerja, dan menggunakan pelembap secara teratur untuk menjaga fungsi sawar kulit.

Penulis : Prof.Dr.Cita Rosita Sigit Prakoeswa,dr.,Sp.KK(K)

Informasi lengkap dari tulisan ini dapat dilihat pada artikel kami di :

Profile of Transepidermal Water Loss (TEWL), Skin Hydration, and Skin Acidity (pH) in Indonesian Batik Workers

Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Damayanti, Sylvia Anggraeni, Menul Ayu Umborowati, Sri Awalia Febriana, Katharina Oginawati, Ikeu Tanziha

AKSES CEPAT