Wirausaha merupakan kegiatan dimana seseorang berusaha mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk mengembangkan kegiatan usaha mulai dari proses produksi, pemasaran, penjualan, hingga pengelolaan keuangan. Terdapat berbagai bentuk dari aktivitas wirausaha, mulai dari perdagangan, penyediaan jasa, dan sebagainya dalam berbagai sektor ekonomi. Seiring berjalannya waktu, kegiatan wirausaha juga terus berkembang ditambah dengan dukungan teknologi dan media digital. Seperti saat ini, banyak dikenal aktivitas wirausaha seperti dengan menjadi reseller, dropshipper, tukang desain, sampai penjual makanan dan minuman kekinian.
Kegiatan wirausaha diyakini sebagai suatu aktivitas yang dapat meningkatkan potensi nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, hingga peningkatan kesejahteraan sosial suatu masyarakat. Dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga telah mempertimbangkan pentingnya kegiatan wirausaha sebagai bagian dari poin pendidikan dan pertumbuhan ekonomi.
Berbagai instansi pendidikan juga mulai menyoroti kemampuan berwirausaha sebagai skill yang perlu diperbekalkan kepada generasi muda, sehingga muncullah kurikulum di dunia pendidikan terkait wirausaha. Di kalangan mahasiswa perguruan tinggi, saat ini pemerintah Indonesia pun begitu memberikan support melalui berbagai program seperti Wirausaha Merdeka yang menjadi bagian dari proyek besar pemerintah Mahasiswa Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Disisi lain, Islam merupakan agama yang sejak dahulu menganjurkan pemeluknya untuk menjalankan aktivitas Wirausaha. Sebagaimana suatu hadist dari Rasulullah SAW yang berbunyi : 淗endaklah kalian berdagang, karena sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari perdagangan (Al-Tabarani, 1994). Sejak awal abad ke-21, aktivitas bisnis yang sesuai dengan Syariah terus mengalami perkembangan. Namun, perlu adanya peninjauan lebih lanjut terkait apakah pendidikan bisnis Islam yang telah ada turut menumbuhkan hasrat orang-orang yang mempelajarinya untuk memulai bisnis baru?
Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi niat wirausaha seseorang. Diantaranya yaitu latar belakang individu, faktor lingkungan, ketersediaan sumber daya, tingkat efikasi atau keyakinan pada kemampuan diri, kecerdasan emosional, dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki latar belakang keluarga bergerak di bidang wirausaha, terbekali dengan skill pendukung, memiliki kecerdasan emosional yang baik, akan memiliki kemungkinan lebih tinggi dalam memulai berwirausaha.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ali Shah, dkk pada tahun 2022 mempelajari lebih lanjut terkait niatan atau hasrat wirausaha generasi muda, terutama di kalangan mahasiswa Pakistan. Penelitian tersebut berusaha menemukan letak perbedaan niat berwirausaha mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah Studi Bisnis Islam dengan mahasiswa yang mengambil mata kuliah bisnis konvensional. Penelitian tersebut mengambil data dari 344 mahasiswa Sarjana maupun Pascasarjana dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Punjab, Republik Islam Pakistan.
Hasil dari penelitian yang telah dilakukan menunjukkan temuan yang sangat menarik, dimana mahasiswa yang telah menerima materi atau pembelajaran lebih banyak seputar bisnis Islam malah memiliki hasrat yang lebih rendah untuk segera memulai bisnisnya sendiri. Sebaliknya, mahasiswa yang tidak pernah mempelajari terkait bisnis Islam secara teoritis maupun praktis didapati memiliki hasrat yang lebih tinggi untuk memulai bisnis. Atau bisa disimpulkan, bahwa mempelajari bisni Islam secara mendalam melalui pendidikan atau mata kuliah khusus tidak berdampak signifikan pada niat mahasiswa untuk memulai bisnisnya.
Salah satu hal yang diperkirakan menjadi penyebab hasil tersebut yakni banyaknya generasi muda yang mengambil pendidikan bisnis Islam hanya untuk menguasai dari segi materi bukan praktiknya. Hal itu mungkin dilakukan untuk mencari celah peluang pekerjaan di masa mendatang mengingat perkembangan perbankan Islam terus meningkat di Pakistan. Selain itu, perkembangan studi Bisnis Islam yang relatif baru dirasa masih memerlukan banyak penyempurnaan baik dari segi materi, maupun cara pengajarannya di masa mendatang. Faktor Keturunan juga menjadi salah satu alasan kuat para mahasiswa dalam memiliki ketertarikan untuk berwirausaha. Seseorang yang dilahirkan dari keluarga yang menjalankan bisnis cenderung akan memiliki hasrat berwirausaha yang tinggi.
Penelitian lebih lanjut terkait sebab mahasiswa Studi Islam memiliki hasrat Wirausaha lebih rendah daripada mahasiswa studi bisnis Konvensional, Kekurangan pada Kurikulum Studi Bisnis Islam yang menyebabkan kurangnya motivasi wirausaha, hingga keterkaitan antara pertumbuhan industri keuangan syariah suatu negara dengan niat berwirausaha mahasiswa, sangat potensial untuk dilakukan di masa mendatang. Selain memberikan gambaran lebih nyata terkait sebab dan kondisi yang ada, juga dapat memberikan gambaran bagi berbagai pihak termasuk para mahasiswa dalam mengambil keputusan memilih studi lanjut untuk mendukung ketertarikannya mengembangkan wirausaha.
Penulis: Prof. Dr. Raditya Sukmana, S.E., M.A.
Link:





