Tujuan identifikasi forensik adalah untuk membantu penyidik dalam menentukan identitas seseorang. Reliabilitas dalam mengidentifikasi sisa-sisa manusia dari bencana alam, bencana buatan manusia, dan situasi yang melibatkan orang hilang telah berkembang pesat. Pemeriksaan antropologis dan profil genetik forensik sangat bermanfaat ketika prosedur identifikasi terdahulu, seperti sidik jari atau pengenalan mata, tidak memungkinkan. Bahkan dalam kasus di mana hanya sisa-sisa kerangka yang ada, penyelidikan antropologis dan pemeriksaan genetik forensik dari bagian tubuh yang tersisa dapat memastikan identitas dan hubungan keluarga individu yang selamat.
Dalam laporan kasus yakni telah ditemukan tengkorak yang terpenggal dengan kehilangan rahang bawahnya dan terdiri dari beberapa tulang servikal. Para penyelidik berpikir bahwa kepala yang terpenggal tersebut adalah bagian dari korban yang sebelumnya dimakamkan. Melalui proses pemeriksaan otopsi, analisis antropologis, dan melaporkan proses identifikasi mutilasi tulang tengkorak pada korban pembunuhan menggunakan pendekatan kedokteran forensik, antropologi, dan genotip DNA. Proses pemeriksaan otopsi dan investigasi antropologis untuk mengumpulkan data dari sisa-sisa kerangka dan analisis genetik dengan mengumpulkan sampel gigi dan darah dari orang tua korban. Dari otopsi dan analisis antropologi: berasal dari individu tunggal. Dalam pemeriksaan makroskopis, tulang-tulang tersebut menunjukkan kemiripan mencolok dengan struktur kepala dan leher manusia. Kehadiran jaringan yang masih melekat pada tulang menunjukkan bahwa waktu kematian melebihi 10 hari. Bentuk sutura tulang tengkorak menunjukkan bahwa tulang tersebut milik individu berusia antara 21 dan 39 tahun. Kehadiran gigi berbentuk sekop, bentuk palatum yang bulat, sutura palatum yang lurus, dan gigi geraham dengan empat puncak memberikan identifikasi yang kuat bahwa individu yang meninggal tersebut termasuk dalam ras Mongoloid. Penilaian tinggi badan menjadi sulit karena tidak adanya tulang panjang. Kemudian beberapa sampel ini kemudian digunakan untuk ekstraksi DNA, perhitungan tingkat dan kemurnian DNA, amplifikasi, dan identifikasi genotipe. Pada pemeriksaan ini melibatkan amplifikasi sampel DNA menggunakan kombinasi 21 penanda penyandi mikrosatelit, satu penanda penyandi kromosom Y, satu penanda Y-indel, dan satu penanda jenis kelamin (Amelogenin). Penanda ini disatukan dalam kit GlobalFiler庐, yang diproduksi oleh Applied Biosystems di Amerika Serikat. Data yang diperoleh dari ABI 3500XL Genetic Analyzer (Applied Biosystems, USA) diolah menggunakan GeneMapper庐 ID-X Software v1.4 (Applied Biosystems, USA). Indeks ayah adalah 1: 408.064.538, menunjukkan probabilitas 99,999%.
Pemeriksaan kedokteran forensik, antropologi, dan profil genetik memainkan peran penting dalam mengidentifikasi korban dan menentukan penyebab kematian. Otopsi dan analisis antropologis dapat memastikan profil khas seseorang dalam skenario ini. Selanjutnya, profil genetik yang diperoleh baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk menentukan identitas tulang tengkorak yang ditemukan
Penulis : Prof.Dr.Ahmad Yudianto,dr.SpF.M.Subsp.S.B.M[K].,SH.,M.Kes
Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami di
Setya Aji Priyatna, Satria Perwira, Vernando Parlindungan Simanjuntak, Sari Nur Indahty Purnamaningsih, I Ketut Heru Suryanegara, Desy Martha Panjaitan, Ahmad Yudianto, Identification of Murder Victims’ Cranial Bone Mutilation Using Forensic Medicine, Anthropology, and Genotype DNA Approaches Pharmacogn J. 2024; 16(6): 1404-1407
Baca juga: Trauma Mata Akibat Bahan Kimia Dalam Tindakan Penyerangan





