MRSA atau Methicillin-resistant Staphylococcus aureus merupakan salah satu jenis bakteri yang bersifat kebal terhadap beberapa pengobatan antibiotik. Pengobatan infeksi bakteri MRSA sendiri sangat sulit karena kekebalan bakteri tersebut terhadap sejumlah pengobatan antibiotik. Infeksi bakteri MRSA telah menjadi masalah di seluruh dunia yang menyebar di beberapa negara. Kasus kejadian infeksi MRSA sendiri masih tinggi dan masih terjadi peningkatan jumlah kasus di berbagai belahan dunia.
Menurut data dari WHO, MRSA merupakan kuman penyebab infeksi prioritas ke-2 untuk diteliti dan diperdalam untuk membuat antibiotik baru. Infeksi MRSA dapat menyebabkan berbagai macam penyakit mulai dari infeksi kulit dan infeksi luka hingga infeksi paru pneumonia serta infeksi pada peredaran darah yang dapat menyebabkan sepsis bahkan kematian. Selain itu, MRSA juga dikatakan sebagai penyebab utama infeksi nosokomial di seluruh dunia. Dikatakan bahwa orang dengan infeksi bakteri MRSA pada tubuh mereka diperkirakan memiliki kemungkinan 64% lebih tinggi untuk mengalami kematian dibandingkan dengan orang yang terinfeksi bakteri yang tidak bersifat kebal terhadap berbagai macam obat. Oleh karena itu terapi infeksi bakteri MRSA ini sangat penting dalam masyarakat.
Berdasarkan keilmuan terbaru, yang terfokus pada penggunaan antibiotik terhadap bakteri MRSA sudah dilakukan di berbagai negara. Didapatkan data bahwa penggunaan antibiotik untuk terapi terhadap infeksi bakteri MRSA masih bermacam-macam pada berbagai tempat. Namun, hingga saat ini Vankomisin dikatakan tetap menjadi pilihan pengobatan untuk infeksi bakteri MRSA. Akan tetapi, karena distribusi Vankomisin ke dalam tubuh yang terbatas dan munculnya bakteri MRSA yang kebal terhadap antibiotik Vankomisin maka dibutuhkan antibiotik alternatif untuk terapi infeksi bakteri MRSA.
Penatalaksanaan infeksi bakteri MRSA bergantung pada usia, berat badan, indikasi, tingkat keparahan infeksi, dan kondisi klinis pasien masing-masing. Antibiotik Vankomisin sampai saat ini merupakan antibiotik yang paling banyak digunakan untuk terapi infeksi bakteri MRSA. Sebagian besar dokter menggunakan Vankomisin sebagai terapi pilihan dalam mengatasi infeksi bakteri MRSA sebagaimana diuraikan dalam pedoman dari Infectious Diseases Society of America (IDSA). Diketahui terdapat beberapa kelemahan dari antibiotik Vankomisin sebagai terapi infeksi bakteri MRSA, seperti buruknya distribusi Vankomisin dalam tubuh dan kebalnya bakteri MRSA terhadap antibiotik Vankomisin, maka ada juga beberapa antibiotik alternatif yang dapat digunakan sebagai pilihan terapi infeksi bakteri MRSA. Beberapa antibiotik alternatif selain Vankomisin yang dapat digunakan untuk infeksi bakteri MRSA berdasarkan pedoman dari Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI), antara lain adalah Klindamisin, Linezolid, Kotrimoksazol, Tigesiklin, Telavansin, Ceftraroline, dan Daptomisin.
Jika membandingkan antibiotik Vankomisin dengan antibiotik alternatif lainnya selain Vankomisin, didapatkan data yang menunjukkan bahwa antara antibiotik Vankomisin dengan antibiotik alternatif tidak menunjukkan perbedaan terhadap durasi lama perawatan pasien. Hal ini berarti antibiotik alternatif dapat bersaing dengan antibiotik Vankomisin dan dapat digunakan sebagai opsi alternatif terapi infeksi bakteri MRSA. Hal ini dapat terjadi akibat antibiotik alternatif mampu melakukan pembuangan bakteri MRSA dalam tubuh dengan waktu yang lebih cepat dibandingkan dengan antibiotik Vankomisin.
Selain itu, kelompok pasien dengan infeksi bakteri MRSA yang diberi terapi antibiotik Vankomisin memiliki angka kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan antibiotik alternatif yakni Kotrimoksazol, Daptomisin, Linezolid, dan kombinasi Vankomisin plus Fluklosasilin. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama yaitu karena aktivitas antibiotik alternatif dalam membunuh bakteri MRSA lebih cepat dibandingkan dengan Vankomisin. Kedua, tubuh pasien telah kebal terhadap antibiotik Vankomisin sehingga obat tersebut tidak mampu untuk melawan infeksi bakteri MRSA. Ketiga yaitu karena obat Vankomisin buruk dalam hal masuk ke dalam jaringan tubuh sehingga pengobatan tidak berjalan lambat dan efektif.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka perlu dipertimbangkan kembali mengenai rekomendasi pedoman yang menyarankan peralihan ke antibiotik alternatif ketika infeksi bakteri MRSA memiliki jumlah minimal obat yang dibutuhkan untuk dapat membunuh infeksi bakteri MRSA pada antibiotik Vankomisin yang nilainya tinggi atau jika pasien tidak membaik selama pemberian terapi. Selain itu juga perlu ditingkatkan dalam upaya pengawasan ketat mengenai penggunaan antibiotik berdasarkan indikasi penyakit, dosis obat, frekuensi dalam konsumsi obat, dan durasi pemberian antibiotik untuk mengurangi kasus kekebalan seseorang terhadap suatu obat dan mengurangi angka kematian pada masyarakat.
Penulis: Maftuchah Rochmanti, Almira Disya Salsabil, Agung Dwi Wahyu Widodo
Detail tulisan lengkap dapat dilihat:
Almira Disya Salsabil, Maftuchah Rochmanti, Agung Dwi Wahyu Widodo, 2022. Vancomycin Monotherapy vs Alternative Antibiotics for MRSA Patients: A Systematic Review. International Journal of Research Publications, Volume: 92, Issue: 1.
DOI:





