51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Kompetisi Industri Perbankan dan Efisiensi Bank Umum di Indonesia

Foto oleh bprwm.co.id

Sebagai sumber pendanaan utama, bank memiliki peran penting dalam keberlangsungan sistem keuangan di Indonesia. Di negara berkembang seperti Indonesia, bank memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kegiatan ekonomi dimana bank menjadi saluran utama aliran modal. Sistem perbankan yang sehat, efektif, dan efisien dapat menciptakan stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, industri perbankan harus berjalan secara sehat, stabil, dan efisien untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berkelanjutan.

Selanjutnya, efisiensi perbankan merupakan indikator penting untuk menganalisis kinerja bank dan menjadi alat untuk meninjau efektivitas kebijakan moneter yang diterapkan oleh suatu negara. Efisiensi perbankan dipengaruhi oleh beberapa factor, salah satunya adalah tingkat kompetisi atau persaingan. Beberapa penelitian sebelumnya menemukan bahwa tingkat persaingan memiliki dampak positif terhadap efisiensi, tetapi ketidakstabilannya juga dapat memiliki dampak negatif.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Sajida Sari, Shochrul Rohmatul Ajija, Wasiaturrahma, dan Raja Adzrin Raja Ahmad melakukan sebuah penelitian mengenai pengaruh persaingan industri perbankan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Hasil penelitian ini dipublikasikan pada Jurnal Sustainability yang terindeks Scopus Q1 pada Volume 14 No. 17. Penelitian ini menggunakan data panel dengan unit cross section 38 bank umum yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan unit time series dai tahun 2010 “ 2019. Penelitian ini menggunakan tiga metode kuantitatif. Tingkat efisiensi bank diukur dengan metode Data Envelopment Analysis (DEA). Selanjutnya, tingkat kompetisi indsutri perbankan diukur dengan metode Panzar and Rosse H-Statistics. Sedangkan, analisis fator-faktor yang mempengaruhi efisiensi industri perbankan dilakukan dengan menggunakan metode Tobit.

Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat persaingan di industri perbankan yang diukur dengan Panzar“Rosse™s H-Statistics model menunjukkan bahwa persaingan di industri perbankan Indonesia bersifat monopoli. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai H-Statistics yang berkisar antara 0 dan 1 selama periode penelitian. Sedangkan, efisiensi bank umum di Indonesia berada pada kategori cukup efisien. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai efisiensi rata-rata bank umum di Indonesia yang sebesar 0,7123.

Hasil penelitian menggunakan estimasi Tobit menunjukkan bahwa kompetisi di industri perbankan, Loan to Deposit Ratio (LDR), Capital Adequacy Ratio (CAR), dan pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh signifikan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Sedangkan, Non-Performing Loans (NPL) dan ukuran bank tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Kompetisi di industri perbankan berpengaruh negatif terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Artinya, tingkat persaingan yang tinggi di industri perbankan akan menurunkan tingkat efisiensi bank. Penelitian ini mendukung Competition-Inefficiency Hypothesis yang menunjukkan bahwa kompetisi akan menyebabkan penurunan efisiensi bank. Hal ini disebabkan karena persaingan yang semakin ketat mendorong bank untuk menurunkan persyaratan kredit, sehingga akan terjadi peningkatan biaya pemantauan untuk mencegah kredit macet dan penurunan efisiensi (Tan & Anchor, 2017).

Loan to Deposit Ratio (LDR) yang merupakan rasio yang digunakan untuk menunjukkan ekspansi kredit dan likuiditas bank juga berpengaruh negatif signifikan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Jika rasio LDR meningkat, maka efisiensi bank umum akan menurun. Menurut Wasiaturrahma dkk. (2020), hubungan negatif antara LDR dengan efisiensi bank dapat terjadi jika karakteristik kredit yang disalurkan oleh bank cukup berisiko sehingga dapat berdampak negatif terhadap efisiensi perbankan.

Capital Adequacy Ratio (CAR) yang merupakan proksi dari modal bank berpengaruh positif terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Hal ini mengimplikasikan bahwa semakin besar modal yang dimiliki bank, maka semakin tinggi tingkat efisiensinya. Maghyereh & Awartani (2014) berpendapat bahwa modal yang lebih tinggi dapat mengurangi kemungkinan kebangkrutan, meningkatkan ketersediaan informasi, dan kemudian meningkatkan efisiensi bank.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menurunkan efisiensi bank. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan meningkatkan permintaan jasa keuangan yang akan menekan bank untuk mengontrol input mereka. Dengan demikian, bank menjadi kurang efisien. Hubungan negatif antara pertumbuhan ekonomi dan efisiensi perbankan tidak mendukung demand-following hypothesis yang menjelaskan bahwa sektor keuangan akan berkembang karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Non-Performing Loans (NPL) tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi bank karena bank biasanya menghabiskan lebih banyak anggaran untuk menangani risiko kredit, sehingga mereka meningkatkan suku bunga kredit untuk mengkompensasi gagal kredit. Selain itu, penelitian ini juga menunjukkan bahwa ukuran bank tidak berpengaruh signifikan terhadap efisiensi bank umum di Indonesia. Walaupun begitu, hal tersebut tidak berarti bahwa bank tidak boleh memperbesar ukuran bank. Mereka dapat berfokus untuk meningkatkan efisiensi sehingga ukuran bank juga akan tumbuh secara bersamaan.

Penulis: Sajida Sari, Shochrul Rohmatul Ajija, Wasiaturrahma, dan Raja Adzrin Raja Ahmad

Link jurnal:

AKSES CEPAT