51动漫

51动漫 Official Website

Inovasi Arang Aktif dari Biomassa untuk Menghilangkan Racun Kromium dalam Air

Sumber: Tirto.id
Sumber: Tirto.id

Bayangkan jika air yang kita gunakan sehari-hari tercemar oleh zat beracun yang bahkan bisa menyebabkan kanker. Sayangnya, hal ini bukan sekadar imajinasi攕alah satu penyebab utamanya adalah kromium heksavalen (Cr(VI)), limbah beracun yang banyak dihasilkan oleh industri seperti penyamakan kulit, pengecatan logam, hingga pertambangan.

Apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya? Salah satu jawabannya datang dari bahan yang sering dianggap tak berguna: limbah biomassa. Melalui serangkaian proses, limbah pertanian seperti kulit buah, bonggol jagung, hingga sabut kelapa bisa diubah menjadi arang aktif攂ahan luar biasa yang mampu menyerap dan menghilangkan zat berbahaya dari air.

Bagaimana Cara Kerjanya?

Arang aktif bekerja seperti spons super. Ia memiliki permukaan berpori yang sangat luas sehingga mampu 渕enjebak zat-zat beracun dari air. Penelitian menunjukkan bahwa dengan perlakuan kimia atau fisika tertentu, arang aktif dari biomassa bisa memiliki luas permukaan lebih dari 1000 meter persegi per gram攃ukup untuk menutupi setengah lapangan sepak bola hanya dengan satu sendok teh!

Saat digunakan untuk menyaring air, arang aktif ini mampu menyerap Cr(VI) dalam jumlah besar, bahkan mencapai 250 miligram per gram. Dalam kondisi yang tepat (seperti pH rendah dan waktu kontak yang cukup), efektivitasnya sangat tinggi dan bisa menyaingi bahkan melampaui teknologi penyaringan modern lainnya.

Mengapa Biomassa?

Dibandingkan bahan kimia mahal atau teknologi canggih lain, biomassa menawarkan banyak keuntungan:

  • Murah dan mudah didapat: kulit jeruk, batang jagung, daun pisang攕emuanya bisa digunakan.
  • Ramah lingkungan: membantu mengurangi limbah pertanian.
  • Terbarukan: tidak tergantung pada sumber daya tak terbarukan.

Beberapa contoh biomassa yang sudah diuji meliputi:

  • Bonggol jagung dan kulit buah delima: mampu menyerap logam berat dalam air hingga mendekati 100%.
  • Sabut kelapa dan kulit pisang: efektif sebagai bahan dasar arang aktif yang murah dan efisien.
  • Lumut air dan tanaman air lainnya: memiliki sifat unik yang meningkatkan daya serap terhadap Cr(VI).

Meski menjanjikan, ada beberapa tantangan. Produksi arang aktif secara massal masih terbatas, dan regenerasi (pemulihan ulang adsorben) agar bisa digunakan berkali-kali juga belum optimal. Namun, para ilmuwan terus mencari cara inovatif, seperti:

  • Modifikasi permukaan arang menggunakan bahan kimia atau partikel nano.
  • Menggabungkan arang aktif dengan teknologi lain, seperti membran dan mikroorganisme.
  • Penggunaan nanoteknologi, seperti penambahan partikel magnetik agar adsorben bisa dipisahkan dan digunakan ulang dengan mudah.

Salah satu temuan menarik adalah bahwa dengan menambahkan partikel logam oksida seperti Fe3O4 (magnetit), kinerja penyaringan meningkat hingga 30%, dan arang tersebut bisa digunakan ulang hingga lima kali tanpa penurunan performa yang berarti.

Air bersih adalah hak semua orang. Dan siapa sangka, kunci untuk mendapatkan air bersih bisa datang dari limbah yang selama ini dibuang begitu saja. Inovasi dalam memanfaatkan biomassa sebagai bahan dasar arang aktif memberikan harapan baru bagi dunia, khususnya negara berkembang, dalam menghadapi polusi air oleh logam berat seperti kromium.

Dengan penelitian yang terus berkembang dan dukungan dari berbagai pihak, kita bisa berharap bahwa di masa depan, limbah bukan lagi masalah, tapi justru menjadi bagian dari solusi.

Putra NR, Zaini MAA, Kusuma HS, Darmokoesoemo H, Faizal ANM. Advances in chromium removal using biomass-derived activated carbon: A comprehensive review and bibliometric analysis. Environmental Progress and Sustainable Energy. 2025; 44(3):e14598. doi:10.1002/ep.14598

Penulis: Dr. Handoko Darmokoesoemo, Drs., M.Sc.

Link: https://aiche.onlinelibrary.wiley.com/journal/19447450

AKSES CEPAT