51动漫

51动漫 Official Website

Potensi Tanaman Kumis Kucing sebagai Antidiabetik

Tanaman Kumis Kucing (Sumber: Kompas.com)
Tanaman Kumis Kucing (Sumber: Kompas.com)

Orthosiphon stamineus, yang lebih dikenal sebagai kumis kucing, memiliki berbagai nama daerah di Indonesia. Beberapa contohnya adalah remujung (Jawa), songkot koceng (Madura), kumis ucing (Sunda), dan kumis kucing (Melayu hingga Sumatra). Tanaman ini juga dikenal dengan nama lain seperti giri-giri marah (Sumatera) dan kidney tea plants/java tea dalam bahasa Inggris.

Di Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Cina bagian selatan (Vietnam dan Myanmar), secara tradisional digunakan untuk pengobatan gagal ginjal kronis dan diabetes. Diabetes adalah penyakit kronis yang mempengaruhi sistem endokrin endokrin yang mengakibatkan kadar gula darah tinggi yang biasanya terkait dengan sindrom metabolik lain seperti hipertensi dan obesitas. Penyakit ini telah berkembang jauh dan kini memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Sekitar 463 juta orang dewasa berusia antara 20 dan 79 tahun menderita diabetes pada tahun 2019, dan Federasi Diabetes Internasional (IDF) memproyeksikan angka tersebut akan mencapai 700 juta pada tahun 2045. Diabetes tidak hanya menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah tetapi juga menimbulkan beberapa komplikasi kronis yang secara signifikan berdampak pada kesehatan dan kesehatan dan kualitas hidup mereka yang mengidapnya. Fakta bahwa diabetes dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular adalah salah satu yang paling memprihatinkan. Bagi mereka yang mengidap diabetes, penyakit kardiovaskular seperti gagal jantung, stroke, dan arteri koroner merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan.

Diabetes adalah masalah kesehatan global yang membutuhkan penelitian ekstensif untuk menyelidiki kemungkinan pilihan pengobatan. Menurut literatur, O. stamineus memiliki aktivitas antimikroba, sitotoksik, hipourikemik, antioksidan, hepatoprotektif, anoreksia, pelindung ginjal, antihiperlipidemik, antigenotoksik, diuretik, antiplasmodial, antihipertensi, antidiabetes, gastroprotektif, antivirus, aktivitas anti-inflamasi. Ini kaya akan eupatorine, asam rosmarinic, dan sinensetin. Sifat hipoglikemia Sifat hipoglikemia dari O. stamineus mungkin disebabkan oleh adanya flavonoid tertentu, terpenoid, asam fenolik, minyak atsiri dan triterpenoid.

Mekanisme utama yang digunakan O. stamineus untuk mengurangi diabetes dan komplikasinya meliputi penghambatan aktivitas 伪-amilase dan 伪-glukosidase, aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi, regulasi metabolisme lipid, peningkatan sekresi insulin, perbaikan resistensi insulin, Peningkatan penyerapan glukosa, promosi glikolisis, penghambatan glukoneogenesis, stimulasi glukagon seperti sekresi peptida-1 (GLP-1), dan aktivitas antiglikemia. Namun, sebagai antidiabetes tanaman ini masih belum sepenuhnya dipahami. Spesies lain dari Genus Orthosiphon dari keluarga Lamiaceae seperti:  O. aristatus (O. stamineus), O. pallidus, dan O. thymiflorus juga memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional. Selain masalah diabetic, spesies-spesies ini umumnya digunakan untuk mengurangi berbagai kondisi, termasuk namun tidak terbatas pada diabetes, rematik, hepatitis, hipertensi, penyakit kuning, batu ginjal, dan edema.

Dalam berbagai literature disebutkan bahwa tanaman ini juga banyak dimanfaat sebagai obat alami untuk penurun kadar gula darah yang efektif bagi pengidap diabetes. Studi dalam jurnal Molecules menyebutkan, kumis kucing menunjang pembentukan hormon insulin sekaligus membantu meningkatkan kerja hormon tersebut untuk mengendalikan kadar gula darah. Tanaman ini juga mengandung andrographolida yaitu suatu glikosida diterpenoid dapat digunakan sebagai diuretika, antipireutik, analgesik dan antiulserogenik.

Guru Besar Bidang Ilmu Bahan Alam Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI) Abdul Munim menjelaskan, tanaman kumis kucing atau Ortoshipon stamineus telah dilaporkan memiliki aktivitas antidiabetes, baik pada in vitro maupun pada uji yang dilakukan pada hewan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa manfaat tanaman kumis kucing belum dapat dibuktikan pada pengujian manusia, sehingga penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan. Sementara itu, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Inggrid Tania menjelaskan, tanaman kumis kucing paling banyak dimanfaatkan untuk obat diuretik atau memperlancar buang air kecil dan membantu meluruhkan batu ginjal.

Berikut cara mengonsumsi tanaman kumis kucing sebagai obat herbal untuk penyakit diabetes: (a) Ambil sebanyak 80 gram tanaman kumis kucing segar atau sekitar satu genggam. Semua bagian dalam tanaman ini bisa digunakan dan sama bermanfaatnya. (b) Siapkan lima gelas air, direbus terlebih dahulu. Setelah mendidih baru masukkan tanaman kumis kucing sebanyak 80 gram tersebut. (c) Kemudian rebus selama 15-20 menit, sehingga air rebusannya nanti tersisa 3 gelas. Sisa air rebusan 3 gelas itu diminum 3 kali sehari, yaitu di pagi, siang, dan malam hari.

Walaupun masih diperlukan penelitian lebih lanjut, paling tidak di masa ekonomi sulit pemanfaatan tanaman ini bisa dipraktekan. Paling tidak sebagai Langkah alternatif untuk mengatasi diabetes. Dengan takaran yang tepat dan pengunaan yang bijak tentu akan sangat membantu menjaga Kesehatan.

Sumber:

AKSES CEPAT