UNAIR NEWS Rumah Sakit hewan (RSH) 51动漫 UNAIR resmi menutup kegiatan relawan lebaran pada Minggu (29/03/2026) di Aula lantai 4 . Penutupan tersebut dijadikan saran sebagai pisah kenang sekaligus mendengarkan arahan dari Direktur RSH. Para relawan telah membantu kegiatan operasional serta kegiatan medis RSH selama lebaran sekitar 10 hari. Relawan tidak hanya berasal dari kedokteran hewan atau teknologi veteriner, tetapi menggandeng mahasiswa dari lintas disiplin ilmu serta mahasiswa eksternal UNAIR.
Pengarahan Direktur RSH
Direktur RSH, Prof Dr Anwar Ma’ruf, drh, MKes memberikan apresiasi kepada para peserta terutama dari FKH. Ia menegaskan bahwa pengalaman relawan seperti kastrasi, penanganan hewan lepas hingga operasi beda adalah sebuah modal yang luas. Selanjutnya, Ia berharap bahwa RSH tetap menjadi mitra strategi mahasiswa dalam dunia akademik terutama untuk tugas akhir. Tidak lupa mengingatkan untuk lulus tepat waktu.
淔KH jangan menunggu 8 semester, targetkan 7 semester.Kalau saudara semester 2 ini sudah ikut jadi volunteer, saya yakin tujuh semester bukan hal yang sulit untuk kalian bisa lulus. Jadi skripsi tidak harus pakai hewan coba, tapi silakan Anda juga bisa menggunakan partisipan, Mari silahkan, silahkan akan gunakan berbagai macam penyakit, berbagai macam kasus yang tiap hari saudara dapatkan silahkan digunakan sebagai bahan untuk skripsi kalian itu akan lebih menarik profesi kalian, ungkap Prof Anwar.
Dalam sambutannya, Prof Anwar memberikan kesempatan kepada mahasiswa relawan untuk memberikan kesan pesan. Banyak dari relawan yang tidak menyangka bahwa kegiatan tersebut benar-benar melibatkan mahasiswa ke dunia RSH, tidak hanya berfokus pada membersihkan kandang hewan. Selanjutnya, Prof Anwar memberikan sertifikat sebagai bentuk apresiasi yang nantinya dapat digunakan untuk menambah nilai dari relawan mahasiswa.

Pesan Kesan Relawan Mahasiswa
Bahana Biela Binanda, mahasiswa semester Ilmu Ekonomi, Fakultas Ilmu Budaya membuktikan bahwa meskipun tidak berasal dari mahasiswa veteriner. Namun, tetap berdedikasi tinggi pada kegiatan non medis. Menurutnya, perbedaan latar belakang studi tidak membatasi untuk mencintai hewan. Dalam kegiatan ini, Ia banyak belajar hal baru terutama komunikasi serta pengenalan dunia profesional. Kedepannya, Ia berharap dapat membawa kesadaran kesehatan hewan ke asal daerah. 淪aya belajar untuk komunikasi serta mempelajari budaya kerja shift, ujar Bahana.
Di sisi lain, Adil dan Fani sebagai mahasiswa FKH UNAIR angkatan 25 berpendapat bahwa pengalaman ini dapat menjadikan ajang pembuktian materi kuliah mengenai anatomi hewan secara lengkap. Kegiatan ini menjadikan materi-materi langsung dapat dipelajari secara nyata. Mereka belajar untuk handling serta pemasangan infus dan Selain itu, menurut mereka yang paling penting adalah belajar sisi emosional. Momen paling emosional adalah ketika seorang pemilik hewan mengalami kedukaan. 淒i situ saya sadar betapa pentingnya empati. Kita belajar untuk tidak asal bicara dalam situasi duka,” tutur Fani.
Penulis: Yongki Eka Cahya
Penyunting: Ragil Kukuh Imanto





