Awal kerusakan penyangga gigi (jaringan periodontal) tidak menimbulkan rasa sakit, sehingga seseorang tidak menyadari bahwa dirinya sudah terkena penyakit periodontal. Rata-rata penyakit periodontal ditemukan pada fase lanjut yaitu periodontitis. Oleh karenanya penyakit periodontal telah dianggap sebagai silent pandemic.
Gigi yang sehat tertanam kokoh pada jaringan periodontal. Bila jaringan ini terganggu, maka kesehatan tubuh secara keseluruhan terancam. Tanda awal kerusakan jaringan periodontal adalah gusi berwarna kemerahan dan mudah berdarah. Pada rongga mulut yang sehat, terjadi keseimbangan jutaan mikroorganisme. Bakteri merupakan salah satu mikroorganisme yang jika keseimbangannya terganggu dapat menjadi patogen. Semakin banyak bakteri patogen, makin tinggi resiko terjadinya kerusakan dentogingival junction. Dentogingival junction berada pada sulkus gingiva (celah gusi), yang merupakan tempat perlekatan antara gingiva dengan permukaan akar. Perlekatan ini diperantarai dengan protein laminin-5. Dentogingival junction menjadi sangat penting, karena walaupun tempatnya tersembunyi di celah gusi, namun menjadi salah satu gerbang pertahanan tubuh untuk mencegah masuknya bakteri serta penyebaran infeksi ke seluruh tubuh. Oleh karena itu dentogingival junction harus dipertahankan integritasnya. Bila dentogingival junction mengalami kerusakan akibat inflamasi, maka akan terjadi peningkatan fragmentasi pada protein laminin-5, salah satunya terjadi peningkatan 濒补尘颈苍颈苍-5纬2. Peningkatan 濒补尘颈苍颈苍-5纬2 merupakan tanda terjadi periodontitis, sehingga kondisi ini dapat menjadi awal penyebaran infeksi ke seluruh tubuh.
Salah satu upaya pencegahan dan penghambatan periodontitis adalah dengan memanfaatkan zat aktif dari tanaman yang berkhasiat obat. Kurkumin merupakan zat aktif yang terdapat pada kunyit (Curcuma longa). Kurkumin bersifat antiinflamasi, antioksidan dan antikanker. Terkait hal ini telah dilakukan penelitian dengan menggunakan tikus Rattus norvegicus. Tikus dibagi dalam kelompok kontrol (Pg) sebanyak 24 tikus dan kelompok perlakuan (Kur-Pg) sebanyak 24 tikus. Masing-masing kelompok terbagi dalam 3 pengamatan waktu (24 jam, hari ke-7 dan hari ke-14), sehingga masing-masing kelompok terdiri dari 8 tikus model periodontitis. Induksi periodontitis dilakukan dengan bakteri Pg (ATCC 33277), yang dibuat dengan kosentrasi bakteri sebanyak 1×106 CFU.
Selanjutnya, sulkus gingiva gigi insisif bawah tikus kelompok perlakuan, setiap 3 hari sekali selama 2 minggu, dipapar dengan bakteri Pg sebanyak 106 CFU dalam 30 渭l (0,03 ml) PBS dengan micropipet. Pada waktu yang sama, tikus kelompok perlakuan, diirigasi dengan kurkumin 1% setiap 2x sehari sebanyak 30渭l (0,03 ml) dengan micropipet, pada sulkus gingiva gigi insisif bawah. Sedangkan tikus kelompok kontrol, tidak dilakukan pemberian kurkumin. Pengamatan untuk kelompok kontrol maupun perlakuan, dilakukan pada 24 jam, hari ke-7 dan 14. Sampel diperoleh melalui potongan arah sagital dentogingival junction insisif bawah. Pemeriksaan sampel dilakukan dengan metode imunohistokimia untuk melihat ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2. Analisis statistik dilakukan dengan t-test (伪 = 0.05).
Pada kelompok Pg, menunjukkan bahwa ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2 pada 24 jam dan hari ke-7 tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Perbedaan signifikan ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2 terjadi antara 24 jam dengan hari ke-14 dan hari ke-7 dengan hari ke-14 (terjadi peningkatan 濒补尘颈苍颈苍-5纬2). Pada kelompok Kur-Pg, tidak ada perbedaan signifikan antara 24 jam dengan hari ke-7 maupun hari ke-7 dengan hari ke-14, namun antara 24 jam dengan hari ke-14 ada perbedaan signifikan. Ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2 antara kelompok Pg dan Kur-Pg pada pengamatan 24 jam dan hari ke-7, tidak menunjukkan perbedaan signifikan, meskipun nilainya terjadi penurunan. Namun pada pengamatan hari ke-14, ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2 antara kelompok Pg dan Kur-Pg terdapat perbedaan signifikan (terjadi penurunan 濒补尘颈苍颈苍-5纬2).
Penelitian ini membuktikan bahwa pemberian kurkumin 1% secara lokal pada sulkus gingiva dapat menurunkan ekspresi 濒补尘颈苍颈苍-5纬2, yang artinya bahwa terjadi penurunan inflamasi pada area dentogingival junction. Penurunan inflamasi ini memberi manfaat positif meningkatkan integritas dentogingival junction, sehingga resiko penyebaran infeksi maupun inflamasi melalui dentogingival junction menuju sirkulasi sistemik ke seluruh tubuh dapat dihambat
Penulis: ,
Informasi detail dari penulisan ini dapat dilihat pada:





