Psoriasis merupakan suatu penyakit inflamasi pada kulit yang bersifat menahun yang umumnya muncul sebagai gejala bercak kemerahan dengan sisik yang tebal. Psoriasis memiliki angka kejadian 2-3% dari seluruh populasi di dunia. Angka kejadian psoriasis di Indonesia hingga saat ini belum diketahui secara pasti, namun saat ini terdapat peningkatan angka kejadian psoriasis pada angka kunjungan poli klinis di rumah sakit. Psoriasis saat ini diduga tidak hanya menyebabkan keluhan pada kulit seseorang namun melibatkan suatu proses peradangan kronis di seluruh tubuh. Penelitian terbaru menunjukkan terdapat keterkaitan erat tantara psoriasis sindrom metabolik. Sindrom metabolik merupakan kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang meningkat, kolesterol tidak seimbang, dan obesitas sentral.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai dampak sindrom metabolik terhadap keparahan, angka kekambuhan, dan kualitas hidup pasien dengan psoriasis. Pasien psoriasis yang disertai dengan kejadian sindrom metabolik lebih sering ditemukan pada kelompok usia lanjut. Usia yang lebih lanjut pada pasien dengan psoriasis dan sindrom metabolik akan meningkatkan keadaan inflamasi yang kronis sehingga berdampak baik pada keadaan sistemik maupun kulit seseorang. Pada populasi dengan usia lanjut juga terjadi keadaan imunosenesence yang juga mempengaruhi penanda imunitas serta respon terapi seseorang.
Terdapat peningkatan kadar tekanan darah, kadar glukosa darah puasa, trigliserida, serta penurunan kadar HDL pada pasien psoriasis dengan sindrom metabolik. Hal ini menandakan adanya keterkaitan dengan kejadian resistensi insulin pada pasien psoriasis dengan sindrom metabolik. Peningkatan trigliserida serta penurunan HDL akan meningkatkan resiko terjadinya inflamasi pada pembuluh darah dan atherosclerosis atau penyumbatan pembuluh darah.
FOXP3 merupakan suatu protein yang berperan dalam regulator kunci dan penanda dari sel T regulator (Treg). Sel Treg berfungsi dalam menjaga keseimbangan sistem imun tubuh dengan cara menekan respon imun dan inflamasi yang berlebihan. Pada pasien psoriasis dengan sindrom metabolik, ditemukan kadar FOXP3 yang lebih rendah dibandingkan pasien psoriasis yang tidak disertai dengan sindrom metabolik. Rendahnya FOXP3 ini menandakan berkurangnya kemampuan Treg dalam mengatur dan menekan adanya reaksi imun yang berlebihan, sehingga peradangan menjadi lebih sulit dikendalikan. Akibatnya, sistem imun menjadi terlalu aktif dan mudah menimbulkan peradangan yang tidak hanya memperparah lesi kulit, tetapi juga mengganggu metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Temuan ini menunjukkan bahwa psoriasis bukan hanya masalah kulit, tetapi merupakan penyakit sistemik yang melibatkan interaksi kompleks antara sistem imun dan metabolisme tubuh. Oleh karena itu, diperlukan penanganan secara holistik pada pasien dengan psoriasis meliputi pemantauan berat badan, tekanan darah, profil lemak, dan gula darah.
Hasil penelitian ini membuka wawasan baru tentang hubungan antara psoriasis dan sindrom metabolik, serta diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara lebih mendalam mengenai mekanisme imunologis yang menghubungkan kedua kondisi ini. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan terapi terbaru yang lebih spesifik dan menargetkan suatu molekul tertentu dalam menyeimbangkan sistem kekebalan dan metabolisme tubuh secara bersamaan.
Penulis : Prof. Dr. dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa., Sp. DVE., Subsp. DAI., MARS
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
. The Impact of Metabolic Syndrome on Immune Regulation (IL-17, IL-23, and FOXP3+), Psoriasis Severity, Flare Frequency, and Quality of Life in Psoriasis Patients: A Cross-Sectional Study. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, Faradiba Maharani, Saiful Hidayat, Winda Atika Sari, Triasari Oktavriana, Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Menul Ayu Umborowati, Ratih Pramuningtyas, Rochmadina Suci Bestari, Riandini Aisyah, Erika Diana Risanti, Listiana Masyita Dewi, Ilham Hafizha Maulana Anam.





