51动漫

51动漫 Official Website

Khasiat Kitosan sebagai Bahan Antibakteri Alami dari Kulit Udang

Foto by Tribun Jateng

Salah satu masalah infeksi yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia adalah masalah kesehatan pada area gigi dan mulut, khususnya penyakit gigi berlubang. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) pada tahun 2018 terdapat 57.6% gigi berlubang dan kejadian gigi berlubang mengalami peningkatan dibandingkan pada tahun 2013. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan pada tahun 2030 Indonesia bebas karies. Untuk mencapai target tersebut diperlukan upaya dan inovasi yang mudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan karies gigi. Salah satunya adalah pembuatan larutan pembersih mulut yang memiliki bahan antibakteri penyebab karies gigi, dimana salah satu bakteri penyebab karies gigi adalah bakteri Streptococcus mutans. Inovasi yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya laut alami yang dimiliki oleh negara Indonesia.

Indonesia sebagai negara pengekspor bahan makanan udang memproduksi 645.000-ton udang sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara produsen teratas dalam produksi udang di Kawasan lingkup negara-negara ASEAN. Dari jumlah 645.000-ton tersebut, volume udang yang diekspor keluar negeri (Jepang dan Amerika Serikat) pada tahun 2021 bulan Januari sebesar 5.33 juta kilogram dimana jumlah tersebut meningkat sebesar 36.13% dibandingkan pada tahun 2020 yang hanya sebesar 3.92 juta kilogram. Limbah udang dan makanan berbasis udang dapat diolah sebagai suatu bahan aktif yang disebut dengan kitosan.

Kitosan adalah suatu polisakarida yang diperoleh dari hasil deasetilasi kitin, yang umumnya berasal dari limbah kulit hewan Crustacea. Kitosan memiliki sifat relatif lebih reaktif dari kitin dan mudah diproduksi dalam bentuk larutan, serbuk, pasta, film, serat. Kitosan merupakan bahan bioaktif dan aktivitasnya dapat diaplikasikan dalam bidang farmasi, pertanian, lingkungan industri. Kitosan sebagai bahan bioaktif dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans.

Senyawa kitosan dapat membunuh bakteri dengan jalan merusak membran sel. Kitosan mempunyai bentuk spesifik mengandung gugus amino dalam rantai karbonnya yang bermuatan positif, sehingga dalam keadaan cair sensitif terhadap kekuatan ion tinggi. Kitosan memiliki gugus fungsional amina (揘H2) yang bermuatan positif yang sangat reaktif, sehingga mampu berikatan dengan dinding sel bakteri yang bermuatan negatif. Ikatan ini terjadi pada daerah elektronegatif di permukaan dinding sel bakteri. Selain itu, karena -NH2 juga memiliki  pasangan elektron bebas, maka gugus ini dapat menarik mineral Ca2+ yang terdapat pada  dinding sel bakteri dengan membentuk ikatan kovalen koordinasi. Bakteri gram negatif dengan lipopolisakarida dalam lapisan luarnya memiliki kutub negatif yang sangat sensitif terhadap kitosan. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahjuningrum et al pada tahun 2022.

Pemanfaatan Kitosan sebagai bahan antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans alami memiliki kelebihan dibandingkan bahan antibakteri kimia sintetik, yaitu daya toksik nya lebih rendah, lebih aman bila tertelan dalam jumlah tertentu. Sumber raw material Kitosan yang berlimpah di Indonesia menjadikan Kitosan sebagai material antibakteri yang potensial untuk dikembangkan lebih lanjut terutama terkait dengan salah satu Program Pemerintah Indonesia yang mewacanakan bebas karies gigi pada tahun 2030.

Penulis: Dr. Dian Agustin Wahjuningrum, drg., Sp.KG(K)

Informasi lebih detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://

Dian Agustin Wahjuningrum, Setyabudi, Daniel Hadinata, Ilona Talitha Amalia, Rizki Annisa Roi檉a, Devi Eka Juniarti. [2022] Antibacterial Effectiveness of Chitosan Solution on Streptococcus Mutans. Malaysian Journal of Fundamental and Applied Sciences Vol. 18, pp: 483-488.

AKSES CEPAT