Gangguan menelan (disfagia) merupakan salah satu tantangan besar dalam perawatan kesehatan dewasa dan lanjut usia di seluruh dunia. Kondisi ini terjadi akibat berbagai penyebab, termasuk proses penuaan (presbyphagia), penyakit neurologis seperti stroke dan Parkinson™s disease, kanker kepala dan leher, multiple sclerosis, atau kelemahan otot akibat sarcopenia. Disfagia bukan hanya mengurangi kemampuan seseorang untuk makan dan minum secara aman, tetapi juga meningkatkan risiko aspirasi, malnutrisi, pneumonia aspirasi, dan kematian dini. Masalah ini juga berdampak luas terhadap kualitas hidup, beban perawatan keluarga, dan biaya sistem kesehatan. Walaupun berbagai intervensi rehabilitasi telah dikembangkan, hingga kini belum ada bukti komprehensif yang menunjukkan terapi mana yang paling efektif dalam meningkatkan fungsi menelan dan mencegah komplikasi serius. Hal inilah yang menjadi dasar dilakukannya penelitian internasional terbaru yang melibatkan kolaborasi lintas negara, termasuk kontribusi ilmuwan Indonesia.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi GeroScience, tim peneliti internasional yang salah satunya adalah Hidayat Arifin dari 51¶¯Âþ melakukan Network Meta-Analysis (NMA) terhadap 25 uji klinis acak (RCT) yang melibatkan 1.020 pasien dewasa dengan disfagia. Pendekatan NMA digunakan untuk membandingkan secara simultan berbagai jenis intervensi rehabilitasi menelan”baik yang telah dibandingkan secara langsung maupun tidak langsung dalam penelitian sebelumnya. Intervensi yang dianalisis mencakup:
- Chin Tuck Against Resistance (CTAR)
- Shaker Exercise
- Expiratory Muscle Strength Training (EMST)
- Jaw Exercises (JE)
- Tongue Exercises (TE)
- Effortful Swallow Training (EST)
- Respiratory Muscle Training (RMT)
- Traditional Dysphagia Therapy (TDT)
Terapi-terapi ini dinilai berdasarkan kemampuannya meningkatkan fungsi menelan dan menurunkan risiko aspirasi. Analisis menggunakan model Frequentist NMA dilakukan dengan perangkat lunak R, dan hasilnya diinterpretasikan dalam bentuk Standardized Mean Difference (SMD) dengan interval kepercayaan 95%.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi CTAR + TDT memberikan efek terbesar dalam meningkatkan fungsi menelan (SMD = 3,44; 95% CI 2,42“4,47), diikuti oleh EMST + TDT (SMD = 2,92) dan Shaker + TDT (SMD = 2,83). Kombinasi terapi ini menghasilkan perbaikan bermakna secara klinis, terutama dalam kekuatan otot suprahyoid yang berperan penting dalam proses menelan yang aman dan efektif.
Dari sisi pencegahan aspirasi, kombinasi CTAR + TDT juga menjadi intervensi paling unggul (SMD = −1,82; 95% CI −2,89 hingga −0,75), disusul Shaker + TDT dan EMST. Terapi kombinasi ini membantu meningkatkan proteksi jalan napas dan mengurangi risiko pneumonia aspirasi. Temuan tambahan dari analisis moderator menunjukkan bahwa frekuensi latihan yang tinggi dan jumlah sesi yang lebih banyak berkorelasi dengan hasil terapi yang lebih baik, sementara variabel usia dan jenis kelamin tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan terapi. Studi ini mencakup populasi dengan berbagai penyebab disfagia, termasuk pasien stroke, kanker kepala dan leher, Parkinson, frailty, dan multiple sclerosis. Dengan desain dan cakupan yang luas, penelitian ini menghadirkan evidence-based hierarchy yang kuat mengenai peringkat efektivitas terapi rehabilitasi menelan.
Penelitian ini merupakan studi network meta-analysis pertama yang secara komprehensif membandingkan berbagai terapi rehabilitasi menelan. Temuannya memiliki dampak klinis dan kebijakan yang signifikan. Kombinasi CTAR dan TDT serta Shaker dan TDT terbukti sebagai intervensi paling efektif dalam meningkatkan fungsi menelan dan mencegah aspirasi. Pendekatan ini lebih unggul daripada terapi tunggal atau perawatan standar, menjadikannya strategi penting dalam praktik klinis rehabilitasi disfagia. Bagi tenaga kesehatan”terutama perawat, terapis wicara, dan dokter rehabilitasi”hasil penelitian ini memberikan panduan ilmiah dalam merancang program intervensi yang lebih tepat sasaran, intensif, dan berbasis bukti. Selain itu, penerapan terapi ini di fasilitas kesehatan diharapkan dapat mengurangi komplikasi jangka panjang, menurunkan angka rawat inap akibat pneumonia aspirasi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan disfagia.
Penulis,
Hidayat Arifin
Fakultas Keperawatan, 51¶¯Âþ, Surabaya, Indonesia
Email: hidayat.arifin@fkp.unair.ac.id Link:





