Remaja adalah masa penuh perubahan baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Bagi remaja putri, masa ini juga ditandai dengan perubahan biologis seperti menstruasi, yang menyebabkan peningkatan kebutuhan zat besi dalam tubuh. Tidak heran, anemia akibat kekurangan zat besi menjadi masalah kesehatan yang cukup sering terjadi pada kelompok ini. Tapi, apa yang membuat sebagian remaja putri termotivasi untuk mencegah anemia, sementara yang lain tampak acuh? Jawabannya bisa ditemukan lewat pendekatan yang disebut Self-Determination Theory atau Teori Determinasi Diri.
Anemia terjadi saat tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin yang cukup. Gejalanya bisa berupa mudah lelah, wajah pucat, pusing, hingga sulit berkonsentrasi. Pada remaja putri, kondisi ini bisa berdampak serius pada prestasi belajar, aktivitas fisik, bahkan kepercayaan diri. Menurut data Kementerian Kesehatan, prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia masih cukup tinggi. Penyebabnya beragam, mulai dari pola makan kurang bergizi, kurangnya asupan zat besi, hingga rendahnya kesadaran akan pentingnya pencegahan anemia.
Namun menariknya, ada kelompok remaja yang justru aktif menjaga kesehatannya, memperhatikan asupan makanan, bahkan secara sadar mengonsumsi tablet tambah darah. Nah, di sinilah peran motivasi menjadi kunci penting.
Teori Determinasi Diri atau Self-Determination Theory (SDT) adalah teori psikologi yang menjelaskan bahwa motivasi seseorang muncul dari dalam dirinya sendiri, bukan karena paksaan dari luar. Dalam konteks pencegahan anemia, SDT membantu kita memahami mengapa seorang remaja putri mau atau tidak mau melakukan tindakan yang menunjang kesehatannya. Menurut SDT, ada tiga kebutuhan dasar yang memengaruhi motivasi seseorang:
- Autonomi: merasa memiliki kendali atas pilihan dan keputusan sendiri.
- Kompetensi: merasa mampu dan percaya diri dalam melakukan sesuatu.
- Relasi Sosial: merasa terhubung dan didukung oleh orang lain.
Ketika tiga hal ini terpenuhi, motivasi yang muncul bukan sekadar karena disuruh guru atau orang tua, tetapi tumbuh dari kesadaran dan keinginan diri sendiri. Inilah yang disebut dengan motivasi intrinsik.
Penelitian yang menggunakan pendekatan SDT menemukan bahwa remaja putri yang memiliki pengetahuan cukup tentang anemia, dukungan dari lingkungan (seperti teman, keluarga, atau guru), serta rasa percaya diri dalam mengubah pola hidup, cenderung lebih termotivasi untuk mencegah anemia. Seorang remaja yang tahu bahwa mengonsumsi makanan kaya zat besi bisa mencegah anemia dan merasa bahwa dia mampu mengatur pola makannya, akan lebih terdorong untuk melakukannya secara sukarela. Apalagi jika ia mendapat dukungan dari teman sekelas atau sekolah yang menyediakan informasi atau makanan bergizi.
Sebaliknya, jika seorang remaja merasa bahwa ia hanya disuruh minum tablet tambah darah tanpa memahami manfaatnya, atau merasa minder dan tidak punya teman yang mendukung, maka motivasi untuk melakukannya bisa sangat rendah. Bahkan bisa muncul penolakan.
Salah satu tantangan besar dalam upaya pencegahan anemia adalah mengubah sikap dari sekadar tahu menjadi mau dan rutin melakukan tindakan pencegahan. Di sinilah pendekatan SDT bisa jadi alat bantu yang efektif dalam merancang program edukasi atau kampanye kesehatan.
Alih-alih hanya memberikan informasi, pendekatan ini mendorong kita untuk: (1) Memberikan pilihan dan kebebasan pada remaja dalam memilih cara pencegahan yang sesuai untuk mereka. (2)Meningkatkan rasa percaya diri mereka, misalnya dengan memberi pujian atas usaha kecil yang dilakukan. (3) Membangun komunitas atau kelompok sebaya yang saling mendukung dan memberi contoh positif.
Orang tua dan guru punya peran besar dalam menumbuhkan motivasi intrinsik remaja. Bukan dengan memaksa, tetapi dengan mendampingi dan memberi ruang untuk berdiskusi. Memberikan penjelasan yang logis, mengajak remaja berpikir kritis, dan memberi mereka rasa memiliki terhadap tindakan yang mereka ambil攕emua ini bisa meningkatkan kesadaran dan komitmen terhadap hidup sehat.
Mencegah anemia bukan hanya soal kesehatan jangka pendek. Ini tentang menyiapkan generasi muda yang kuat, produktif, dan berdaya saing. Memahami motivasi remaja melalui pendekatan Self-Determination Theory, mendukung program kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.Keputusan untuk hidup sehat harus datang dari dalam diri sendiri. Dan ketika remaja putri merasa bahwa mereka mampu, didukung, dan punya kontrol atas pilihan mereka di situlah perubahan nyata bisa dimulai.
Penulis: Ni Ketut Alit Armini





