51动漫

51动漫 Official Website

Kulit Manggis, Pelindung Alami Jaringan Gusi dari Dampak Sinar X

Manggis (Garcinia mangostana L.) sebagai Kandidat Antiretroviral terhadap Infeksi HIV-1
Ilustrasi buah manggis (sumber: kompas)

Penyakit periodontitis atau peradangan jaringan penyangga gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi paling umum di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, prevalensinya mencapai 74,1% pada populasi umum. Penyakit ini menyebabkan kerusakan jaringan ikat dan tulang alveolar, sehingga gigi menjadi goyah atau bahkan tanggal.

Dalam praktik kedokteran gigi, pemeriksaan radiografi (sinar X) digunakan untuk mendeteksi kerusakan tulang akibat periodontitis. Namun, paparan sinar X yang berulang dapat menghasilkan radikal bebas (reactive oxygen species/ROS), yaitu molekul oksidatif yang mampu merusak DNA, protein, dan membran sel. Akibatnya, jaringan gusi yang sudah mengalami peradangan bisa semakin rusak.

Salah satu sumber antioksidan alami yang potensial adalah kulit buah manggis (Garcinia mangostana Linn.). Bagian perikarp (kulit luar) manggis kaya akan senyawa xanthone, terutama 伪-mangostin, 尾-mangostin, dan 纬-mangostin, yang terbukti memiliki efek antioksidan, anti-inflamasi, dan antimikroba.

Senyawa-senyawa ini dapat menetralisir radikal bebas, menekan produksi sitokin penyebab peradangan seperti TNF-伪 dan IL-1尾, serta mencegah kematian sel akibat stres oksidatif.

Tim peneliti dari Departemen Radiologi Kedokteran Gigi dan Biologi Oral FKG 51动漫 melakukan penelitian eksperimental pada 35 ekor tikus Wistar yang dibuat menderita periodontitis dengan infeksi bakteri Porphyromonas gingivalis.

Setelah itu, sebagian tikus diberi perlakuan dengan patch gusi (mucoadhesive patch) berisi ekstrak kulit manggis, lalu semua kelompok diiradiasi menggunakan sinar X.

Histologis jaringan gusi kemudian diperiksa dengan mikroskop untuk menghitung jumlah sel nekrosis (mati karena kerusakan) dan apoptosis (mati terprogram).

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa

  • Kelompok yang terpapar sinar X tanpa perlindungan mengalami peningkatan signifikan jumlah sel nekrosis dan apoptosis.
  • Sementara kelompok yang diberi patch ekstrak kulit manggis menunjukkan penurunan signifikan jumlah kedua jenis sel rusak tersebut (p < 0,05).
  • Efek perlindungan paling besar terjadi pada hari ke-7 setelah perlakuan, menandakan aksi antioksidan dan pelindung jaringan berlangsung berkelanjutan.

Peneliti menyimpulkan bahwa ekstrak kulit manggis mampu melindungi jaringan gusi dari kerusakan akibat radiasi X-ray, terutama melalui aktivitas antioksidan yang kuat dan efek anti-inflamasi dari kandungan xanthone pada ekstrak kulit manggis.

Penemuan ini sangat penting di bidang radiologi kedokteran gigi, karena pasien dengan periodontitis seringkali menjalani pemeriksaan radiografi berulang. Jika diterapkan secara klinis, patch ekstrak kulit manggis dapat menjadi agen radioprotektif alami, membantu meminimalkan kerusakan jaringan akibat radiasi tanpa efek samping kimia.

Selain itu, pendekatan topikal dengan sistem patch mucoadhesive menjanjikan efektivitas tinggi karena memungkinkan pelepasan zat aktif secara perlahan langsung di area peradangan.

Kulit manggis bukan hanya bermanfaat untuk kesehatan umum, tetapi juga berpotensi besar sebagai pelindung alami jaringan mulut dari dampak sinar X. Inovasi patch gingiva berbahan ekstrak kulit manggis ini membuka jalan menuju terapi herbal modern yang aman, efektif, dan ramah lingkungan dalam bidang kedokteran gigi.

Penulis: Deny Saputra, Fakultas Kedokteran Gigi, 51动漫, Surabaya, Indonesia.

Detil penelitian bisa dilihat di:

AKSES CEPAT