51

51 Official Website

Riset Ungkap Peran Gigi Bungsu sebagai Jam Usia Tubuh: Bisa Bantu Kasus Hukum dan Forensik

sumber: senyum dan senyum
sumber: senyum dan senyum

Gigi bungsu selama ini terkenal sebagai trouble maker di dalam mulut. Saat tumbuh, ia bisa bikin pipi bengkak, sakit berhari-hari, hingga harus operasi cabut gigi. Tetapi ternyata, gigi kecil yang sering dianggap pengganggu ini menyimpan informasi penting tentang diri kita termasuk soal usia biologis.

Sebuah penelitian terbaru dari Universiti Malaya, Malaysia, berkolaborasi dengan peneliti dari Indonesia, mengungkap bahwa perkembangan gigi bungsu rahang bawah yang belum tumbuh normal atau terjebak di dalam tulang rahang (impaksi) dapat digunakan untuk memperkirakan usia seseorang, terutama untuk mengetahui apakah individu tersebut sudah memasuki usia dewasa secara hukum (18 tahun).

Temuan ini menjadi kabar penting bagi dunia kedokteran gigi, hukum, dan forensik, terutama untuk membantu mengidentifikasi usia korban bencana, kasus kriminal, hingga perkara migrasi. Selama ini, gigi bungsu sudah sering dijadikan rujukan dalam penelitian usia, namun fakta bahwa gigi impaksi bisa memperlambat pembentukan akar menambah lapisan kompleksitas baru dalam metode ini.

Tidak seperti gigi lain yang tumbuh sejak kecil, gigi bungsu baru muncul di usia remaja hingga awal dua puluhan. Bahkan, tidak semua orang punya ruang untuk tumbuhnya. Di banyak kasus, gigi bungsu terjebak di dalam gusi dan tulang, dikenal sebagai impaksi. Kondisi ini bisa menyebabkan rasa sakit, infeksi, hingga merusak gigi lain di sekitarnya.

Tapi di balik masalahnya, gigi bungsu punya keunggulan: karena tumbuh paling akhir, ia menjadi indikator untuk melihat apakah seseorang telah masuk usia dewasa. Inilah kenapa para ahli sering memeriksa gigi bungsu dalam proses identifikasi.

Studi terbaru ini memanfaatkan pemindaian 3D dari 446 gigi bungsu milik 257 pasien berusia 15 hingga hampir 26 tahun. Dengan alat cone-beam computed tomography (CBCT) semacam CT-scan khusus gigi peneliti mengukur area ujung akar gigi yang belum menutup sempurna. Semakin bertambah usia, semakin kecil ukurannya.

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah adanya pola yang sangat konsisten antara ukuran ujung akar gigi bungsu dan usia. Pada usia 17 hingga 18 tahun, ukuran bagian ujung akar menyusut paling cepat menunjukkan fase kritis menuju kedewasaan biologis. Setelah 21 tahun, penyusutannya melambat, menandakan fase akhir pematangan gigi. Dengan kata lain, gigi bungsu bekerja seperti jam biologis kecil di dalam mulut kita.

Namun, penelitian ini juga menemukan fakta baru: posisi gigi bungsu yang tertanam sangat dalam ternyata bisa memperlambat pematangannya. Artinya, seseorang yang sebenarnya sudah 18 tahun bisa tampak lebih muda berdasarkan pemeriksaan giginya jika giginya mengalami impaksi berat. Di dunia nyata, banyak situasi membutuhkan bukti usia yang akurat. Misalnya:

  1. Kasus perdagangan manusia atau eksploitasi anak
  2. Proses hukum anak berhadapan dengan hukum
  3. Identifikasi korban bencana atau kecelakaan massal
  4. Penentuan status pengungsi atau imigran tanpa dokumen
  5. Kasus kriminal yang pelakunya tidak diketahui usianya

Di Indonesia dan banyak negara lainnya, usia 18 tahun menjadi batas penting antara perlindungan hukum sebagai anak dan tanggung jawab hukum sebagai orang dewasa. Metode penentuan usia biasanya melalui pemeriksaan tulang, wawancara, dan rekam medis dan kini, gigi menjadi salah satu alat bantu yang semakin diandalkan.

Temuan ini memberikan sinyal bagi para ahli forensik: metode estimasi usia lewat gigi bungsu tetap efektif, tetapi perlu kehati-hatian pada kasus gigi impaksi yang dalam.

Teknologi Pencitraan 3D Jadi Kunci

Selama bertahun-tahun, foto rontgen gigi 2D digunakan untuk menilai perkembangan gigi bungsu. Namun teknologi 2D punya keterbatasan, terutama untuk melihat struktur akar yang kompleks. Dalam riset ini, tim menggunakan CBCT yang lebih detail dan presisi.

Teknologi ini memungkinkan pengukuran area kecil di ujung akar gigi secara sangat akurat, sehingga hasil penilaian jauh lebih meyakinkan daripada metode konvensional. Ini menjadi bukti bagaimana teknologi medis modern mendorong ketelitian dalam sains forensik.

Gigi bungsu impaksi tidak memiliki satu bentuk saja. Dalam penelitian ini, impaksi dibagi menjadi empat tingkat kedalaman berdasarkan lokasi gigi terhadap gigi di depannya. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin dalam gigi tertanam, semakin lambat perkembangan akarnya.

Yang paling lambat adalah level impaksi terdalam. Ini berarti, pemeriksa tidak boleh terburu-buru menyimpulkan usia seseorang hanya berdasarkan satu indikator, terutama jika gigi berada dalam posisi yang sulit.

Bagi masyarakat umum, riset ini mungkin terdengar teknis, tetapi dampaknya nyata. Jika Anda atau anak Anda punya gigi bungsu impaksi, selain kemungkinan butuh perawatan, fakta bahwa gigi berkembang lebih lambat bisa menjadi informasi menarik tentang tubuh Anda. Bagi para tenaga medis, ini menjadi panduan penting dalam perencanaan operasi gigi bungsu dan penilaian pertumbuhan. Dan di tingkat negara, temuan ini membantu memperkuat proses identifikasi hukum dan kemanusiaan.

Menariknya, penelitian ini juga melibatkan akademisi dari Indonesia menunjukkan kerja sama ilmiah regional yang kuat. Ke depan, peneliti berencana memasukkan variabel lain seperti jenis kelamin, arah kemiringan gigi, serta variasi anatomi individu agar metode perkiraan usia semakin akurat. Dengan masyarakat yang semakin mobile dan kasus hukum lintas batas meningkat, metode ilmiah seperti ini menjadi sangat berharga.

Selama ini, gigi bungsu sering hanya dianggap biang masalah kesehatan gigi. Namun, penelitian ini membuka mata bahwa gigi tersebut menyimpan informasi berharga tentang perjalanan usia seseorang. Meskipun tidak menggantikan metode medis dan biologis lainnya, gigi bungsu memberi kontribusi penting dalam sains forensik dan penegakan hukum.

Penulis                      : Arofi Kurniawan, drg., Ph.D

Dikutip dari artikel   : Relationships among apical surface area, impaction level, and age in impacted mandibular third molars: a CBCT study 

Link artikel               :

AKSES CEPAT