Kebutuhan akan estetika menyebabkan semakin pentingnya perawatan gigi dengan tujuan akhir untuk mencapai senyum yang sempurna. Adanya diastema antara gigi insisivus sentral rahang atas pada orang dewasa dianggap sebagai masalah estetika. Median diastema rahang atas didefinisikan sebagai jarak yang lebih besar dari 0,5 mm antara permukaan proksimal gigi insisivus sentralis rahang atas. Adanya perlekatan frenulum yang tinggi merupakan salah satu faktor etiologi yang lebih umum untuk persistensi median diastema, oleh karena itu focus perawatan pada frenulum menjadi penting. Perlekatan frenulum labial adalah lipatan membran dengan selubung serat otot yang berasal dari otot orbicularis oris bibir atas yang melekatkan bibir pada mukosa alveolar dan periosteum. Fungsi frenulum adalah untuk memberikan stabilitas pada bibir atas dan bawah serta lidah dan keterlibatannya dalam pengunyahan masih belum diketahui. Berdasarkan perlekatannya frenulum telah diklasifikasikan sebagai:
- Mukosa : serat otot frenum melekat pada mucogingival junction (MGJ)
- Gingiva : serat otot yang melekat ke dalam gingiva cekat
- Papila : serat memanjang ke papila interdental
- Papilla penetrasi : serat otot frenum melintasi processus alveolaris dan meluas ke papilla palatina
Frenum yang menyimpang dapat dideteksi secara visual dengan membuat tegangan pada frenum untuk melihat pergerakan papillary tip atau prosedur blanch test yang dihasilkan akibat iskemia pada regio tersebut. Klasifikasi perlekatan papila dan papilla penetrasi frenum dianggap patologis dan telah dikaitkan dengan hilangnya papila interdental, resesi gingiva, diastema median, dan kesulitan dalam menyikat gigi, ketidaksejajaran gigi dan gangguan psikologis pada individu.
Frenulum yang menyimpang dapat dirawat dengan prosedur frenektomi atau frenotomi. Frenektomi adalah pengangkatan lengkap frenulum dan perlekatan pada tulang di bawahnya, sedangkan frenotomi adalah prosedur insisi dan relokasi perlekatan frenulum. Ada beberapa teknik yang berbeda untuk frenektomi, salah satunya adalah teknik konvensional dengan pisau bedah dan periodontal, bedah yang lainnya menggunakan laser terhadap jaringan lunak.
Seorang pasien wanita berusia 25 tahun datang ke Poliklinik Ortodonsia dengan keluhan utama diastema garis tengah yang menetap bahkan setelah menjalani perawatan ortodontik. Departemen Ortodonsia merujuk pasien ke Departemen Periodonsia untuk mengatasi masalah diastema median. Pada pemeriksaan klinis terlihat frenulum pasien menempel pada papila interdental. Kemudian diputuskan bahwa frenektomi akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Kasus ini ditangani dengan pembedahan menggunakan teknik konvensional.
Prosedur frenektomi dalam hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:
- Frenum di bius dengan infiltrasi lokal menggunakan lidokain 2% dengan adrenalin 1:80000
- Frenum diekspos menggunakan retraktor pipi
- Frenum diikat dengan hemostat hingga bagian paling superior
- Sayatan dilakukan pada bagian atas dan bawah permukaan hemostat sampai hemostat bebas dengan menggunakan pisau bedah no. 15C
- Dilakukan diseksi tumpul pada tulang menggunakan pisau Orban untuk menghilangkan perlekatan fibrous
- Luka berbentuk intan dijahit menggunakan nilon biru 4-0 dengan interupted suture
Kelainan ukuran dan lokasi frenulum dapat menyebabkan perkembangan dan persistensi diastema garis tengah, resesi gingiva, dan masalah bicara. Kondisi seperti itu memerlukan eksisi lengkap dari perlekatan frenum termasuk area interdental ke prosesus alveolar di bawahnya. Frenektomi adalah pengangkatan total frenulum, termasuk perlekatannya pada tulang di bawahnya, sedangkan frenotomi adalah sayatan dan relokasi perlekatan frenulum. Eksisi dengan teknik konvensional dari frenum labial menyimpang juga menghilangkan serat otot yang menghubungkan orbicularis oris dengan papilla palatina bersama dengan jaringan ikat ke tingkat tulang alveolar untuk mencegah kekambuhan. Teknik konvensional dengan pisau bedah sebagai alat utama utama reseksi adalah metode yang paling umum digunakan untuk frenektomi merupakan prosedur bedah yang aman tanpa komplikasi. Keuntungan dari teknik konvensional adalah mudah diterapkan. Dalam teknik frenektomi konvensional, jahitan ditempatkan di sudut luka berbentuk diamond tanpa membuat ketegangan. Penyembuhan sekunder terjadi karena gingiva tidak dapat menutup sempurna. Teknik konvensional menghasilkan insisi bedah longitudinal dan jaringan parut, yang menyebabkan berbagai masalah periodontal, bekas luka dan penampilan yang tidak estetis. Beberapa modifikasi teknik pembedahan untuk menghilangkan frenum yang menyimpang antara lain teknik Miller, VY plasty dan Z-plasty, electrosurgery, laser diode, karbon dioksida, Nd:YAG, Er:YAG dan Er,Cr:YSGG. Terlepas dari berbagai modifikasi yang diusulkan untuk frenektomi, prosedur yang paling banyak diikuti tetap menjadi teknik konvensional. Kebanyakan pasien memiliki feedback yang baik dan kenyamanan dengan metode trauma minimal seperti teknik frenektomi konvensional. Frenum yang menyimpang dapat mengganggu penutupan ruang diastema dari perawatan ortodontik dan menyebabkan trauma dan nyeri. Frenektomi dilakukan untuk mempercepat pergerakan ortodontik. Setelah frenektomi pasien segera siap untuk melanjutkan perawatan ortodontik lainnya. Selanjutnya, frenektomi dilakukan untuk mengurangi risiko kekambuhan median diastema.
Penulis : Shafira Kurnia Supandi, Aristo Lay
Link Lengkap :





