51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Manfaat dan hambatan partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah

Ilustrasi nyamuk Aedes Aegypti (Photo: Special)

Demam berdarah merupakan masalah kesehatan global, dengan sekitar 104 juta kasus yang dilaporkan dan 40.000 kematian di seluruh dunia, menimbulkan risiko di 128 negara. Peran serta masyarakat memegang peranan penting dalam pencegahan dan penanggulangan demam berdarah. Tinjauan sistematis bertujuan untuk mengkaji manfaat dan hambatan partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan demam berdarah sebagai penyakit prioritas yang harus ditangani dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030, yang bertujuan untuk mengurangi jumlah kasus menjadi 2,35 juta dan mencapai Angka Kematian Kasus (CFR) 0%. Salah satu dari lima elemen teknis dalam Strategi Global WHO untuk Pencegahan dan Pengendalian Demam Berdarah 2021“2030 adalah melibatkan dan memobilisasi masyarakat. Partisipasi masyarakat dapat didefinisikan sebagai keterlibatan orang-orang di suatu komunitas dalam proyek-proyek untuk memecahkan masalah mereka sendiri. Partisipasi masyarakat tidak hanya terbatas pada keterlibatan fisik tetapi juga mencakup ide, kontribusi terhadap pengambilan keputusan, dan pembagian tanggung jawab serta terlibat secara aktif dan sungguh-sungguh dalam merumuskan dan menerapkan kebijakan, merencanakan, mengembangkan dan memberikan layanan dan dalam mengambil tindakan untuk mencapai perubahan.

Penelitian ini merupakan penelitian sistematic review yang menggunakan pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-analyses checklist (PRISMA). Pencarian artikel dilakukan pada tanggal 20 September “ 10 Oktober 2023 dan dilakukan oleh peneliti pertama. Penelitian ini menggunakan beberapa database jurnal: PubMed, ScienceDirect, Scopus, ProQuest, dan Web of Science, serta pencarian manual. Penelitian ini terbatas pada makalah yang diterbitkan selama periode 2013 hingga 2023, untuk menghasilkan kebaruan informasi. Tinjauan Sistematis ini telah terdaftar di Prospero dengan nomor ID CRD42023479727.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian DBD melalui peran serta masyarakat dapat dilakukan secara langsung  seperti menjadikan kelompok positive deviance sebagai panutan. Pendekatan ini dapat menjadi alat yang efektif untuk mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD. Selain itu dengan peningkatan kapasitas teman sebaya masyarakat dalam memberikan edukasi dan pemberantasan habitat nyamuk penular DBD. Kegiatan ini meliputi pembentukan kelompok pengendali vektor untuk dilatih dan melakukan tindakan pengendalian vektor seperti pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, pembersihan lingkungan, dan penutupan tempat penampungan air.  Sedangkan kegiatan pemberdayaan yang dikombinasikan dengan tindakan lainnya adalah pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian vektor yang dikombinasikan dengan pembagian ikan pemakan larva, serta dikombinasikan dengan pembagian tanaman pengusir nyamuk. Intervensi eko-bio-sosial terdiri dari edukasi berbasis sekolah, program pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk, dan peran serta aktif masyarakat. Terakhir, program partisipasi masyarakat berbasis ekosistem melibatkan pembentukan kelompok, mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah masyarakat, mendidik masyarakat, berkolaborasi antara pemerintah dan pemimpin daerah untuk menetapkan peraturan pengendalian nyamuk, dan menerapkan pelaporan kasus demam berdarah berbasis masyarakat. 

Hambatan yang dapat menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah adalah (1) faktor individu (pengetahuan, sikap, efikasi diri, kurangnya minat, kesadaran, kesiapan masyarakat, kepercayaan, dan motivasi rendah dalam masyarakat), (2) faktor masyarakat (kurangnya dukungan dari tokoh masyarakat dan organisasi, tingginya penggunaan insektisida oleh masyarakat, lemahnya upaya masyarakat, lemahnya hubungan masyarakat dengan Departemen Kesehatan/LSM, dan rendahnya modal sosial),  (3) faktor sosial (beban kerja yang berlebihan dan kurangnya keterampilan komunikasi di sektor kesehatan, kurangnya pedoman kebijakan yang rinci dan lemahnya penegakan kebijakan atau peraturan terkait demam berdarah, serta terbatasnya anggaran dan sumber daya)

Kesimpulan

Berbagai kegiatan yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah terbukti efektif dalam mengurangi indikator entomologi seperti House Index (HI), Container Index (CI), Breteau Index (BI), Pupa Index per person (PPI), dan indikator entomologi lainnya, sekaligus berdampak positif pada pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat dalam pengendalian demam berdarah. Hambatan terhadap partisipasi masyarakat dalam pengendalian demam berdarah meliputi faktor individu, faktor masyarakat, dan faktor sosial. Dalam mengembangkan program pencegahan dan pengendalian demam berdarah, penting untuk melibatkan masyarakat dan mengatasi berbagai hambatan ini.

Lilis Sulistyorini

AKSES CEPAT