51动漫

51动漫 Official Website

Mengontrol Diabetes Fatigue Menggunakan Program Islami Berbasis Resiliensi pada Penderita Diabetes Melitus

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular (PTM) dan menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi DM yang semakin meningkat setiap tahun, memerlukan pendekatan dan intervensi yang tepat untuk mengatasi dampak dari penyakit ini. Selain berdampak negatif secara fisik, DM tipe 2 (DMT2) dapat membuat seseorang merasa sangat rentan terhadap gangguan psikologis seperti kekhawatiran terkait penyakitnya, merasa stres, dan merasa lelah akibat proses pengobatan berlangsung lama serta diet ketat yang harus dilakukan. Kondisi ini dapat menyebabkan kelelahan, baik secara fisik maupun psikologis, yang pada akhirnya dapat menyebabkan diabetes fatigue. Keadaan ini dapat mengurangi efektifitas pada proses pengobatan dan tujuan pengelolaan DM.

Di Indonesia, prevalensi DM terus meningkat setiap tahunnya. Menurut Riset Kesehatan Dasar Indonesia, prevalensi DM pada individu berusia >15 tahun meningkat sebesar 8,5% pada tahun 2018. Pada wanita, prevalensi peningkatan DM adalah 12,7%, lebih besar jika dibandingkan dengan peningkatan pada pria yang mencapai 9%. Data kepatuhan minum obat pada penderita DM menunjukkan bahwa sebanyak 11% orang dengan penyakit gula ini tidak mematuhi regimen pengobatan. Orang dengan diabetes juga dua sampai tiga kali lebih mungkin mengalami depresi daripada mereka yang tidak menderita diabetes. Lebih lanjut, hanya sekitar 25%-50% penderita DMT2 dengan depresi yang dapat didiagnosis dan diobati, sedangkan sisanya tidak terdiagnosis sehingga mengalami keparahan kondisi. Keadaan yang tidak terdiagnosis ini menyebabkan risiko 10,37 kali lebih besar menderita diabetes fatigue dengan prevalensi yang mencapai 53%.

Diabetes fatigue umumnya terjadi karena masalah psikologis. Sebuah studi menunjukkan bahwa kondisi ini adalah sindrom kelelahan multifaktorial di antara pasien DM yang disebabkan oleh gaya hidup, faktor nutrisi, medis, psikologis, glikemik/diabetes, endokrin, dan iatrogenik. Diabetes fatigue sering disebabkan oleh proses kondisi yang rumit dan panjang, yang sering dikaitkan dengan variabel fisiologis (hiperglikemia/hipoglikemia akut, hiperglikemia kronis, variabilitas glukosa, dan gejala diabetes), variabel psikologis (distress emosional diabetes dan gejala depresi), dan variabel gaya hidup (peningkatan indeks massa tubuh dan pengurangan aktivitas fisik). Oleh karena itu, intervensi yang tepat diperlukan untuk mengobati kelelahan diabetes.

Beberapa penelitian sebelumnya yang telah meneliti terkait kognisi, perilaku, dan intervensi psikologis yang mengatur kejadian fatigue, menunjukkan bahwa intervensi tersebut dapat membantu mengindentifikasi dan mengurangi fatigue. Namun, studi tersebut masih terbatas dalam cakupan masalah kejiwaan tertentu, sehingga untuk DM masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut.

Penanganan DM sebagai salah satu PTM, memerlukan fokus pada segi prevalensi, tingkat keparahan, dan efek psikologis. Tantangan utama dalam pencegahan PTM adalah mengembangkan prediktif, preventif, dan pengobatan pribadi. Untuk mendukung prediktif DM, diperlukan prognosis dari algoritma dan efisiensi pengobatan, diagnosis dini, penilaian risiko, dan skrining yang inovatif. Pencegahan dimulai dengan meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat, pencegahan potensial komplikasi yang ditargetkan, dan manajemen pengobatan yang efektif. Selain itu, algoritma pengobatan yang disesuaikan dengan individu, pemantauan terapi dan prognosis yang dipersonalisasi, dan profil pasien yang dipersonalisasi diperlukan untuk perawatan medis yang dipersonalisasi. Perawatan medis preventif dan personal dapat digunakan sebagai pendekatan manajemen untuk meminimalkan efek tekanan diabetes untuk mengatasi kelelahan diabetes.

Pengembangan program Islami berbasis resiliensi dapat menjadi pilihan untuk mengatasi kelelahan diabetes dan meningkatkan kualitas hidup seseorang. Program resiliensi ini terdiri dari manajemen stres dan mindfulness, serta intervensi spiritual melalui program Islami. Manajemen stres yang lebih baik, manajemen pikiran melalui mindfulness, penerimaan nyeri DM, bangkit kembali, dan pendekatan spiritual kepada Tuhan dapat digunakan sebagai intervensi berkelanjutan untuk meningkatkan kondisi ketahanan. Selain itu, intervensi ini dapat membantu pasien DM untuk patuh berobat sehingga kadar gula darahnya dapat terkontrol. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk meningkatkan perawatan diri dan kualitas hidup. Program ini dapat dengan mudah dilaksanakan oleh perawat di Puskesmas untuk membantu pasien dengan kondisi kelelahan diabetes dan menjadi rujukan dan rujukan intervensi.

Penulis: Rifky Octavia Pradipta, S.Kep., Ns., M.Kep

Link:

AKSES CEPAT