Pasien sindrom koroner akut (SKA) berada pada risiko jangka panjang yang lebih tinggi pada kejadian kardiovaskular berulang. Transisi dari rumah sakit ke rumah adalah waktu yang sulit. Pasien sering memiliki efek samping yang berpotensi mengalami kejadian berulang dan readmisi setelah keluar dari rumah sakit. Pemulangan adalah titik transisi kritis di mana petugas rumah sakit dapat memfasilitasi transisi ke perawatan primer dan meningkatkan kepatuhan terhadap kualitas SKA. Kurangnya komunikasi selama pemulangan, menurut laporan, menyebabkan efek samping pasca-pemulangan, yang sebagian besar terkait dengan obat-obatan dan kurangnya tindak lanjut pada hasil tes yang tertunda
Dalam hal rawat inap, pasien dan keluarga mungkin merasa tidak siap untuk kembali ke rumah karena pemahaman yang tidak memadai tentang proses pemulihan mereka dan sedikit pengetahuan tentang kondisi kesehatan mereka atau kemajuan yang diharapkan. Selain itu, pasien mungkin tidak yakin tentang penyakitnya, terganggu oleh rejimen pengobatan yang kompleks, dan menerima saran yang bertentangan tentang manajemen diri penyakit kronis. Hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat 4 tema utama terkait hambatan transisi perawatan dari rumah sakit ke rumah pada pasien pasca-SKA: (1) hambatan psikologis, (2) hambatan fisik, (3) kurangnya pengetahuan, dan (4) kepatuhan rendah.
Tema Hambatan Fisik: Tema ini menggambarkan bahwa peserta post-SKA mengalami hambatan fisik selama proses transisi, seperti dyspnea, palpitasi, nyeri dada, dan efek samping pengobatan. Munculnya keluhan yang dirasakan partisipan terutama beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit menyebabkan aktivitas fisik sehari-hari terganggu. Keluhan yang dirasakan ini bervariasi dari masing-masing peserta. Beberapa keluhan muncul di awal minggu (minggu pertama) setelah kembali dari rumah sakit. Keluhan muncul saat peserta menyelesaikan aktivitasnya, seperti berjalan kaki atau melakukan aktivitas di rumah (mandi, bersih-bersih rumah). Beberapa muncul saat pasien sedang beristirahat.
Tema Hambatan Psikologis: Tema ini menggambarkan bagaimana peserta pasca-SKA mengalami hambatan psikologis dalam transisi dari rumah sakit ke rumah, termasuk stres, ketakutan, kecemasan, dan penolakan. Stres yang dialami oleh 2 partisipan disebabkan oleh penyakit jantung, rasa penyangkalan terhadap penyakitnya, tidak mampu berdamai dengan kondisinya, dan serangan jantung yang dialami pada usia muda atau usia produktif.
Tema Kurangnya Pengetahuan: Tema ini menggambarkan kurangnya pengetahuan beberapa peserta tentang perawatan jantung pasca perawatan jantung. Hambatan pengetahuan tersebut meliputi (1) penyakit koroner, (2) diet, (3) intervensi serangan jantung, (4) terapi komplementer, (5) pengobatan, dan (4) kembali bekerja. Tema Kepatuhan Rendah: Tema ini menggambarkan rendahnya kepatuhan beberapa peserta, terutama dalam hal berhenti merokok, aktivitas sehari-hari, dan kepatuhan minum obat. Lima peserta memiliki riwayat merokok dan telah berhenti beberapa tahun sebelum mengalami serangan jantung. Tujuh partisipan yang merupakan perokok memiliki niat untuk berhenti merokok sejak mengalami serangan jantung.
Pasien dalam masa transisi perawatan dari rumah sakit ke rumah mengalami beberapa hambatan, antara lain aspek fisik, psikologis, pengetahuan yang kurang, dan kepatuhan yang kurang. Hambatan ini akan mempengaruhi outcome pasien setelah SKA. Hambatan fisik yang dialami peserta antara lain dispnea, nyeri dada, jantung berdebar, dan efek samping pengobatan setelah pulang ke rumah. Pasien pasca-SKA mengalami hambatan psikologis setelah pengobatan, seperti kecemasan, stres, dan ketakutan. Kecemasan memiliki dampak yang jauh lebih signifikan pada perkembangan penyakit arteri koroner daripada korelasi klinisnya.
Minimnya pengetahuan terutama tentang perawatan jantung setelah pulang dari rumah sakit masih dirasakan oleh sebagian pasien SKA. Hal tersebut harus diantisipasi dengan memberikan pendidikan yang memadai sesuai dengan kebutuhan pasien dan keluarga setelah keluar dari rumah sakit. Pengetahuan tersebut meliputi pengenalan gejala serangan jantung dan tindakan awal yang harus diberikan kepada pasien. Informasi ini harus diberikan kepada pasien dan keluarga karena respon yang signifikan ketika serangan jantung terjadi
Penulis: Dr. Tintin Sukartini, S.Kp., M.Kes, Azizah Khoiriyati
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Khoiriyati, A., Sukartini, T., Kusnanto,K., & Kurniawati, N.D., (2021). Barriers in the process of care transition from hospital to home in post-acute coronary syndrome: patients™ perspective. Bali Medical Journal (Bali MedJ) 2021, Volume 10, Number 3 Special Issue ICONURS: 1308-1312
P-ISSN.2089-1180, E-ISSN: 2302-2914





