Tekanan sosial terhadap bentuk tubuh, khususnya pada perempuan, menjadi isu kesehatan masyarakat yang terus berkembang. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ketidakpuasan tubuh dapat muncul bahkan pada individu dengan indeks massa tubuh normal. Kondisi ini berperan dalam meningkatnya praktik diet ekstrem dan perilaku makan yang tidak sehat, terutama di kalangan remaja. Di Indonesia, prevalensi kekurangan energi kronis pada perempuan usia 1529 tahun memperkuat dugaan bahwa pola diet yang tidak tepat masih menjadi persoalan signifikan.
Dalam situasi tersebut, fad diet yakni pola diet yang menawarkan penurunan berat badan cepat tanpa dasar ilmiah kuat menjadi semakin populer, terutama melalui media sosial. diet seperti ketogenik, intermittent fasting, Very Low-Calorie Diet (VLCD), atkins, serta pola makan vegan atau vegetarian banyak dipromosikan oleh selebritas dan influencer. Meski sering dianggap efektif, narasi daring mengenai diet ekstrem cenderung mengabaikan potensi risiko dan kebutuhan pengaturan gizi yang sesuai.
Penelitian ini menganalisis opini publik mengenai fad diet melalui pendekatan netnografi di platform Twitter. Menggunakan snscrape, peneliti mengumpulkan lebih dari 50.000 tweet dari periode 20182023. Setelah proses seleksi ketat berdasarkan relevansi dan interaksi, sebanyak 2.456 tweet dianalisis lebih lanjut. Sentimen tweet diklasifikasikan secara manual oleh tiga peneliti ke dalam kategori positif, negatif, atau netral.
Dari total 2.456 tweet tersebut, terdapat 213 tweet bersentimen negatif, 796 tweet bersentimen positif, dan 1.447 tweet bersifat netral/noise. Artinya, proporsi sentimen positif mencapai sekitar 32,4%, lebih tinggi dibanding sentimen negatif yang hanya 8,7%. Mayoritas tweet (sekitar 59%) tidak memuat opini, menandakan tingginya tingkat kebisingan data di media sosial.
Analisis tren tahunan menunjukkan dinamika yang menarik. Pada tahun 2018, terdapat 26 tweet negatif dan 58 tweet positif, kemudian meningkat menjadi 46 negatif dan 198 positif pada 2019. Puncak diskusi terjadi pada 2020 dengan 50 tweet negatif dan 232 tweet positif, yang bertepatan dengan masa awal pandemi COVID-19. Jumlah tweet positif tetap tinggi pada 2021 (431 positif) dan 2022 (375 positif), sebelum menurun pada 2023 karena pengambilan data hanya mencakup dua bulan pertama. Temuan ini menunjukkan bahwa pandemi berkontribusi pada peningkatan minat masyarakat terhadap diet dan gaya hidup sehat.
Apabila dianalisis per jenis diet, intermittent fasting muncul sebagai topik yang paling banyak dibicarakan dan paling dominan menerima sentimen positif. Grafik penelitian menunjukkan bahwa diet ini memperoleh jumlah tweet positif mendekati 500 tweet, jauh lebih tinggi dibanding kategori lainnya. Peneliti mengaitkan hal ini dengan kedekatan konsep puasa berkala terhadap praktik keagamaan masyarakat Indonesia, terutama umat muslim. Banyak pengguna Twitter memandang intermittent fasting sebagai metode yang bermanfaat untuk pengendalian makan dan perbaikan kesehatan metabolik. Namun demikian, beberapa pengguna mengingatkan bahwa puasa ketat yang tidak diimbangi kecukupan gizi dan aktivitas fisik dapat berpotensi membahayakan kesehatan.
Diet ketogenik menempati posisi berikutnya dalam jumlah percakapan. Banyak pengguna melaporkan keberhasilan signifikan dalam penurunan berat badan, seperti 1016 kg dalam beberapa bulan, serta perbaikan kondisi fisik. Namun, kesulitan mempertahankan diet karena pantangan ketat terhadap karbohidrat, termasuk makanan pokok seperti nasi dan mie yang menjadi keluhan utama. Selain itu, beberapa warganet melaporkan efek samping seperti batu empedu dan gangguan lipid, sehingga diet ini dinilai memerlukan pendampingan tenaga kesehatan.
VLCD atau diet sangat rendah kalori, yang sering dikaitkan dengan budaya K-Pop, juga menjadi sorotan penting. Diet ekstrem ini menyediakan hanya 400600 kkal per hari, dengan pola makan seperti konsumsi apel, ubi rebus, dan minuman protein dalam sehari banyak dibagikan oleh pengguna Twitter yang meniru artis Korea. Meskipun dianggap efektif oleh sebagian orang, mayoritas pengguna mengecam sifat diet yang terlalu restriktif dan berpotensi menimbulkan malnutrisi. Secara medis, VLCD hanya disarankan dalam kondisi tertentu dengan supervisi ketat, sehingga praktik mandiri sangat berisiko.
Pola makan vegan atau vegetarian mendapat tanggapan yang beragam. Di satu sisi, pola makan berbasis nabati sering dikaitkan dengan manfaat lingkungan dan kesehatan jangka panjang. Namun, pola ini juga berisiko menimbulkan kekurangan mikronutrien seperti vitamin B12, zat besi, kalsium, dan asam lemak esensial apabila tidak direncanakan dengan baik. Beberapa pengguna Twitter menyoroti tantangan perencanaan menu, sedangkan lainnya menyampaikan perubahan fisiologis yang tidak diinginkan.
Atkins diet menjadi diet yang paling jarang dibahas. Berdasarkan grafik penelitian, jumlah tweet tentang Atkins berada di bawah 100 tweet. Ketidakpastian informasi dan variasi pedoman penerapan membuat publik kesulitan memahami metode ini. Meskipun sejumlah penelitian menunjukkan manfaat Atkins bagi penurunan berat badan, diet rendah karbohidrat dan tinggi protein tetap membutuhkan monitoring profesional untuk mencegah risiko seperti gangguan metabolik.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa media sosial berperan besar dalam membentuk persepsi masyarakat mengenai diet. Dominasi narasi positif mengenai fad diet menunjukkan pentingnya edukasi publik yang berbasis bukti ilmiah serta peningkatan literasi gizi. Kolaborasi antara tenaga kesehatan, akademisi, pembuat kebijakan, dan influencer diperlukan untuk menanggulangi misinformasi dan mempromosikan pola makan aman, seimbang, dan berkelanjutan. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat lebih kritis dalam menilai tren diet instan dan lebih mengutamakan kesehatan jangka panjang.
Penulis : Dominikus Raditya Atmaka, S.Gz., M.PH., Dietisien.
Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:
Kusuma, A. R., Putri, S. A., Rahmawati, A. F., Wijanarko, M. A., Arini, S. Y., Atmaka, D. R., Nor, N. M., Shahid, N. S. M., & Jannah, S. Z. (2025). Exploring the Public Opinion on Celebrity Fad Diets: Twitter Sentiment and Netnographic Analysis: Menjelajahi Opini Publik tentang Celebrity Fad Diets: Sentimen Twitter dan Analisis Netnografi. Amerta Nutrition, 9(3), 460468. https://doi.org/10.20473/amnt.v9i3.2025.460-468





