51

51 Official Website

STUDI TERBARU: SKALA KECANDUAN YOUTUBE RESMI DIVALIDASI UNTUK ANAK MUDA INDONESIA

Televisi Vs Youtube, Manakah Hiburan Masyarakat di Masa Depan ?
Ilustrasi TV vs YouTube (SUmber: amanat.id)

YouTube kini bukan sekadar tempat mencari hiburan. Bagi banyak anak muda, platform ini sudah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari belajar, mencari informasi, hingga mengikuti kreator favorit, hampir semua dilakukan lewat video. Namun, seiring meningkatnya penggunaan, muncul kekhawatiran bahwa sebagian pengguna mulai menunjukkan tanda-tanda penggunaan berlebihan yang mirip dengan kecanduan. Fenomena inilah yang mendorong sekelompok peneliti dari 51, National Cheng Kung University Taiwan, dan beberapa institusi internasional lainnya untuk mengembangkan alat ukur khusus berbahasa Indonesia untuk menilai risiko kecanduan YouTube.

Selama ini, penelitian tentang kecanduan media sosial di Indonesia memang sudah banyak, tetapi belum ada instrumen yang secara khusus mengukur kecanduan YouTube. Padahal, karakter YouTube berbeda dengan platform lain karena berfokus pada video dan memungkinkan pengguna tidak hanya menonton, tetapi juga membuat konten. Interaksi lewat komentar, like, dan rekomendasi video membuat pengguna mudah larut dalam aktivitas menonton tanpa sadar menghabiskan banyak waktu. Di tengah kondisi ini, kehadiran alat ukur yang valid dan sesuai konteks Indonesia menjadi penting, baik untuk kepentingan penelitian maupun layanan kesehatan mental.

Studi ini melibatkan 515 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Rata-rata usia mereka 20 tahun, dan mayoritas adalah perempuan. Para peserta mengisi kuesioner secara daring antara Februari hingga Maret 2024. Selain menjawab kuesioner terkait tingkat penggunaan YouTube, mereka juga diminta mengisi beberapa instrumen lain seperti skala kecanduan smartphone, kecanduan media sosial, kecanduan game, dan tingkat ketergantungan pada ponsel. Informasi ini penting untuk melihat apakah skala kecanduan YouTube yang diuji dapat bekerja konsisten dengan alat ukur perilaku digital lainnya.

Penelitian ini berfokus pada penerjemahan dan pengujian YouTube Addiction Scale (YAS) ke dalam Bahasa Indonesia. Proses alih bahasa dilakukan dengan standar internasional: diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh dua ahli, lalu diterjemahkan kembali ke bahasa Inggris oleh penerjemah berbeda untuk memastikan makna tidak berubah. Setelah itu, tim pakar psikologi, keperawatan, dan kesehatan masyarakat meninjau setiap item agar sesuai konteks budaya Indonesia. Hasil akhir kemudian diuji kepada para responden.

Dari analisis statistik, skala YAS versi Indonesia terbukti memiliki struktur satu faktor, artinya keenam pertanyaan dalam skala tersebut memang mengukur satu hal yang sama: tingkat penggunaan YouTube yang berpotensi mengarah pada kecanduan. Konsistensi internalnya berada pada kategori baik, sehingga dapat dipercaya untuk digunakan dalam penelitian maupun pemeriksaan awal di lapangan. Skala ini juga terbukti bekerja sama baiknya pada laki-laki dan perempuan, serta pada kelompok dengan tingkat kecanduan smartphone maupun media sosial yang berbeda. Hal ini menunjukkan alat ukur ini cukup stabil untuk digunakan pada berbagai kelompok anak muda, meski peneliti mencatat bahwa hasilnya kurang stabil ketika dibandingkan dengan tingkat kecanduan game.

Temuan lain yang menarik, skor kecanduan YouTube berkaitan dengan beberapa perilaku digital lain. Semakin tinggi skor YAS, semakin tinggi pula kecenderungan seseorang terhadap kecanduan media sosial dan penggunaan smartphone secara berlebihan. Meski hubungan dengan kecanduan game tidak sekuat itu, pola ini menunjukkan bahwa masalah penggunaan YouTube yang berlebihan cenderung muncul bersamaan dengan perilaku digital lain yang tidak sehat.

Penelitian ini menjadi langkah awal untuk memahami lebih jauh bagaimana penggunaan YouTube dapat berdampak pada kesehatan mental dan kehidupan sehari-hari anak muda Indonesia. Dengan skala yang sudah teruji, para peneliti berharap tenaga kesehatan, konselor, dan psikolog dapat mengidentifikasi gejala lebih dini sebelum berkembang menjadi masalah serius. Instrumen ini juga membuka peluang untuk penelitian lanjutan mengenai efek platform video terhadap pola tidur, produktivitas, suasana hati, hingga hubungan sosial.

Meskipun hasilnya menjanjikan, peneliti mengakui bahwa studi ini masih memiliki keterbatasan. Semua peserta adalah mahasiswa sehingga hasilnya belum bisa mewakili kelompok usia lain. Selain itu, instrumen yang digunakan bersifat swaperiksa sehingga kemungkinan bias tetap ada. Peneliti merekomendasikan agar studi lanjutan mencakup kelompok usia lebih luas serta menguji kemampuan skala ini dalam jangka panjang, termasuk penentuan titik batas untuk membedakan penggunaan normal dan penggunaan yang sudah mengarah ke kecanduan.

Secara keseluruhan, kehadiran YouTube Addiction Scale versi Indonesia menjadi terobosan penting di tengah meningkatnya penggunaan media digital. Dengan alat ukur yang lebih akurat, Indonesia kini memiliki dasar yang kuat untuk meneliti, memahami, dan menangani masalah kecanduan YouTube pada anak muda secara lebih tepat dan ilmiah.

Link Artikel :

Penulis: Dr. Muthmainnah, S.KM., M.Kes.

AKSES CEPAT