51

51 Official Website

Model Pembelajaran Literasi Berbasis Identitas Lokal di Komunitas Taman Baca Masyarakat Surabaya

Foto by Times Indonesia

Program Kelas Literasi Menulis atau KLM merupakan suatu respons dari Gerakan Literasi Nasional yang digiatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam program KLM, Dispusip bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Budaya 51 untuk menyusun model dan modul pembelajaran yang dianggap sesuai dengan target yakni keterpenuhan asupan tambahan Pendidikan literasi serta ketersebaran asal peserta.

Dalam hal pendidikan, Surabaya juga menjadi salah satu kota penting bagi lahir dan berkembangnya tokoh-tokoh penting pendiri bangsa Indonesia. Kampung Peneleh, yang dipercaya berasal pinilih atau yang-terpilih terkenal dengan tokoh H.O.S. Tjokroaminoto, seorang guru bangsa dan tokoh Sjarikat Islam. Di rumah Tjokroaminoto itu pula beberapa tokoh pergerakan penting seperti Soekarno tinggal. Presiden pertama Indonesia tersebut bahkan lahir di Pandean, satu wilayah dengan Peneleh. Surabaya juga memiliki Hogere Burgerschool (HBS) yakni sekolah bagi priayi dan Eropa yang prestise di zamannya (Jaya and Kasuma 2012), selain sekolah-sekolah untuk pribumi dan Asia-peranakan lainnya.

Secara umum karakter budaya arek adalah sebagai berikut, (a) lugas dalam berbicara; (b) egaliter atau cenderung menghargai kesetaraan; (c) inklusif/terbuka bagi perbedaan; (d) pemberani/pengambil risiko; (e) pekerja keras; (f) memiliki solidaritas yang kuat/erat di antara penduduk. Abdillah (2007) menjelaskan bahwa budaya arek yang semula dikenal sebagai bentuk sapaan menjadi bangunan budaya yang penting karena wilayah budaya Arek telah tumbuh dalam masa yang sangat panjang dengan segala kompleksitas sejarah, budaya, filsafat, sosiologis, dan antropologinya. Pertemuan dengan budaya dan masyarakat lain telah mengaktualisasikan adanya hibriditas dalam budaya Jawa Arek yang identik dengan perilaku agresif, berani, dan menyukai tantangan. 

Enam karakter budaya arek tersebut, sekali lagi, tidak dimaksudkan sebagai suatu upaya esensialitas. Tim peneliti kemudian mengidentifikasi kata-kata kunci dalam konteks budaya arek yang akan diinternalisasi dalam model penulisan kreatif GLN di Surabaya. Beberapa kata kunci tersebut adalah identitas, sejarah kota, dan kebersamaan.

Model pembelajaran literasi berbasis identitas lokal bagaimana ketiga kata kunci dan enam nilai dasar karakter budaya arek tersebut diinternalisasi dalam suatu model penulisan kreatif yang menerapkan pendekatan yang berpusat pada siswa atau student-centred sebagai pendekatan pembelajaran. Student-centred adalah salah satu pendekatan kekinian untuk meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa (Wiliamson, 2008). Dalam praktiknya, model pembelajaran penulisan kreatif dengan tema utama, Kesurabayaan ditanamkan pada konten sumber belajar, seperti video, gambar, dan karya sastra. Media pembelajaran tersebut menjadi bagian implementasi esensi nilai-nilai Kesurabayaan yang variatif dan interaktif, dengan tujuan agar pembelajaran lebih berfokus kepada keaktifan para peserta penulisan kreatif.

Kern (2000) menjelaskan pendidikan literasi sesungguhnya suatu praktik multidisipilin ilmu yang di dalamnya memuat antara lain sejarah, budaya, dan sosial. Praktik membaca dan menulis, lanjutnya, disituasikan dalam kondisi tertentu yang di dalamnya seseorang belajar untuk berkembang secara kritis dan kreatif sesuai dengan konteks sosio-kultural tempat dia berada, dalam konteks ini adalah Surabaya. Dalam penerapannya, para peserta diberikan otonomi dalam memilih sumber-sumber tentang Kesurabayaan yang kemudian menjadi bahan materi diskusi saat kelas berlangsung.

Program KLM diikuti kurang lebih 115 peserta yang berasal dari siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Surabaya pada tahun 20182019. Diversitas asal sekolah sangat beragam mencakup wilayah barat, pusat, timur, utara, dan selatan, baik dari SMP negeri maupun swasta. Latar belakang agama dan etnis para peserta sangat beragam, sebagaimana karakter kebudayaan Surabaya yang multikultural. Senada dengan Basundoro (2012) mengatakan bahwa Surabaya adalah kota multietnis, kota ini dihuni masyarakat dari berbagai daerah sehingga membentuk mozaik ke-Indonesiaan yang unik. Ketersebaran asal sekolah tersebut sangat menggembirakan karena karya-karya yang terhimpun bisa dikatakan, dalam derajat tertentu, cukup representatif untuk memberikan gambaran awal tingkat literasi menulis di Surabaya di tataran sekolah menengah. Total terdapat 78 karya dengan rincian 36 puisi, 22 cerpen, dan 20 naskah pidato yang terhimpun dalam buku ini. Karya-karya tersebut berusaha diikat dengan satu tema yang juga sekaligus konsep yang coba diterapkan di program ini yakni Kesurabayaan.

Proses uji keefektifan model pembelajaran literasi berbasis identitas lokal yang pertama adalah memberi ujian tahap pertama, di mana para peserta kelas menulis belum mendapatkan treatment, namun telah mengetahui dasar-dasar pengetahuan menulis puisi, cerpen, dan naskah pidato dari sekolah formal. Setelah mendapatkan data pre-test maka langkah kedua adalah memberikan treatment sesuai dengan model pembelajaran literasi berbasis identitas lokal. Setelah fasilitator tuntas memberikan treatment, langkah ketiga adalah fasilitator memberikan post-test kepada para peserta kelas menulis. Keempat, data berupa nilai dan instrumen pembelajaran yang telah terkumpul akan diukur secara kuantitatif.

Berdasarkan hasil yang tertera pada tabel 1, hasil uji paired t-test terhadap karya pre-test dan post-test menunjukan bahwa terdapat peningkatan kualitas karya dari peserta kelas penulisan kreatif, dibuktikan dengan nilai sig. (2-tailed) dari ketiga karya sebesar 0,001<0,05 yang menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah implementasi model pembelajaran penulisan kreatif. Senada dengan hasil nilai t hitung dan t-tabel, dimana t-hitung diperoleh dari nilai df (degree of freedom), nilai dari masing-masing karya yaitu, puisi: t-hitung 45,682 > t-tabel 2,042; cerpen: t-hitung 16,538 > t-tabel 2,069; naskah pidato: t-hitung 12,688 > t-tabel 2,101; sehingga dapat diputuskan bahwa nilai t-hitung dari seluruh karya lebih tinggi dari pada t-tabel.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa implementasi model pembelajaran literasi berbasis identitas lokal efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis bagi para peserta kelas penulisan kreatif. Tim penulis dan peneliti berharap model ini bisa menjadi salah satu alternatif pengembangan praktik Gerakan Literasi Nasional di Surabaya. Tentu saja selalu terbuka inovasi-inovasi dan saran-saran yang konstruktif yang bisa ditambahkan agar model ini bisa lebih kontekstual dan sesuai perkembangan zaman.

Penulis: Dra. Nur Wulan Ph.D

Link Jurnal:

AKSES CEPAT