51动漫

51动漫 Official Website

Nanopartikel Kunyit dapat Meningkatkan Jumlah Folikel Tikus Yang Terpapar Karbon Hitam

Ekstrak kunyit. (Dok. Pribadi)

Pencemaran udara merupakan salah satu masalah di bidang kesehatan pada manusia dan hewan. Sumber pencemaran udara ini dapat berasal dari berbagai aktivitas sehari-hari seperti aktivitas industri, kendaraan bermotor, dan perumahan, selain itu pencemaran udara ini juga dapat berasal dari alam, seperti kebakaran hutan, letusan gunung berapi, dan gas alam. Pencemaran udara yang berasal dari berbagai sumber, dapat berupa karbon monoksida, nitrogen oksida, sulfur oksida, hidrokarbon dan hasil pembakaran lainnya yang disebut particulate matter (PM).
Komponen utama PM tersusun dari partikel karbon. Ada dua istilah yang berkaitan dengan penamaan partikel karbon ini, yaitu karbon hitam (jelaga) dan karbon hitam. Istilah 渏elaga digunakan untuk menggambarkan partikel karbon dari hasil samping yang tidak diinginkan dari partikel limbah perkotaan, industri, dan kendaraan diesel dengan kandungan karbon yang tidak murni. Paparan karbon hitam secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan reproduksi hewan betina, terutama dalam proses folikulogenesis. Folikulogenesis adalah proses yang bertanggung jawab terhadap perkembangan folikel, dan pelepasan satu atau lebih sel telur pada interval tertentu selama siklus reproduksi.
Paparan karbon hitam mengakibatkan berkurangnya jumlah folikel yang berkembang, kematian sel akibat kerusakan DNA, dan peningkatan apoptosis sel. Paparan PM dalam bentuk karbon hitam pada sistem reproduksi betina menunjukkan penurunan fertilitas, peningkatan siklus estrus yang tidak teratur, berkurangnya jumlah folikel, keguguran, dan kanker reproduksi. Dampak buruk paparan karbon hitam terhadap kesehatan reproduksi hewan betina dapat dikurangi, salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan kunyit sebagai terapi pengobatan herbal. Kunyit mengandung banyak zat aktif, salah satunya adalah antioksidan. Komponen antioksidan terpenting dalam kunyit adalah kurkuminoid. Kurkumin memiliki gugus-gugus penting yang mendukung perannya sebagai antioksidan, seperti gugus hidroksil fenolik dan 尾-diketon. Gugus hidroksi fenolik berperan dalam menangkap radikal bebas pada tahap awal mekanisme antioksidan, sedangkan gugus 尾-diketon berperan dalam menangkap radikal bebas pada tahap selanjutnya. Selain itu, gugus 尾-diketon juga berperan penting dalam sifat kurkumin sebagai pengikat logam yang efektif.
Pemanfaatan kurkumin pada berbagai penyakit telah banyak dibuktikan oleh para peneliti. Akan tetapi, kurkumin memiliki bioavailabilitas oral yang rendah, kelarutan yang rendah dan mudah terdegradasi sehingga sulit diaplikasikan dalam aplikasi klinis. Untuk meningkatkan kerja kurkumin dalam bentuk sediaan, saat ini kurkumin telah banyak dikembangkan dalam bentuk nanopartikel. Beberapa keuntungan nanopartikel adalah kemampuannya menembus ruang antarsel dan meningkatkan bioavailabilitas obat dengan kelarutan rendah.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menyelidiki potensi efek perlindungan nanopartikel kurkumin terhadap efek buruk paparan karbon hitam pada folikulogenesis ovarium pada tikus putih. Tujuannya disusun tidak hanya untuk berkontribusi pada pengetahuan yang ada tentang dampak polutan lingkungan terhadap kesehatan reproduksi tetapi juga untuk mengeksplorasi potensi terapeutik nanopartikel kurkumin sebagai obat yang terjangkau.
Hal baru dari penelitian ini terletak pada eksplorasi efek perlindungan nanopartikel kurkumin terhadap perubahan yang disebabkan oleh karbon hitam pada folikulogenesis ovarium. Sementara penelitian sebelumnya telah mendokumentasikan secara luas sifat antioksidan dan anti-inflamasi kurkumin, penerapannya dalam bentuk nanopartikel untuk memerangi polutan lingkungan yang memengaruhi kesehatan reproduksi relatif belum dieksplorasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh nanopartikel kurkumin terhadap jumlah folikel ovarium preantral dan antral pada tikus putih (Rattus norvegicus) yang terpapar karbon hitam. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus betina yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif (K鈭) dan positif (K+) diberi akuades + Na-CMC 0,5% secara oral, sedangkan kelompok perlakuan mendapat dosis nanopartikel kurkumin yang berbeda, yaitu pada kelompok P1 (50 mg/kgBB), P2 (100 mg/kgBB), dan P3 (150 mg/kgBB) secara oral. Setelah itu, K+, P1, P2, dan P3 dipaparkan karbon hitam dengan konsentrasi 1064 mg/m3 selama 6 jam/hari selama 30 hari. Organ ovarium selanjutnya dibuat preparat histopatologi untuk memeriksa jumlah folikel preantral dan antral dengan pewarnaan HE. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Jumlah rata-rata folikel preantral pada kelompok K鈭 (27,17 卤 6,37), K+ (10,33 卤 6,22), P1 (26,17 卤 5,98), P2 (19,17 卤 3,71), dan P3 (23,50 卤 10,36) (p < 0,05) bersama dengan jumlah rata-rata folikel antral pada kelompok K鈭 (18,50 卤 8,89), K+ (9,17 卤 2,14), P1 (17,67 卤 7,45), P2 (16,00 卤 5,30), dan P3 (9,50 卤 5,09). Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa nanopartikel kurkumin dengan dosis yang berbeda dapat mempengaruhi dan mempertahankan folikel ovarium preantral dan antral pada tikus putih yang terpapar karbon hitam. Ditemukan juga bahwa dosis kelompok P1 (50 mg/kgBB) memiliki efektivitas tertinggi dalam mempertahankan jumlah folikel ovarium. Hasil penelitian ini menunjukkan potensi terapeutik nanopartikel kurkumin sebagai obat yang terjangkau.

Penulis: Epy Muhammad Luqman
Artikel pubish di jurnal: Open Veterinary Journal
Laman artikel:

AKSES CEPAT