Kanker nasofaring adalah salah satu jenis kanker langka namun mematikan, terutama menyerang daerah Asia Tenggara dan Timur. Meski relatif jarang terjadi di negara-negara Barat, angka kejadiannya bisa mencapai lebih dari 20 kasus per 100.000 penduduk di wilayah endemik, termasuk Indonesia. Salah satu penyebab yang semakin mendapat perhatian dalam dunia medis adalah nitrosamin, senyawa kimia berbahaya yang terbentuk dari makanan yang diawetkan dengan garam, diasapi, atau mengandung nitrit.
Nitrosamin terbentuk ketika nitrit (zat aditif umum dalam pengawetan makanan) bereaksi dengan asam amino di dalam makanan atau tubuh kita. Proses ini sering terjadi dalam makanan seperti ikan asin, sosis, daging asap, bir, hingga air minum yang terkontaminasi. Senyawa seperti N-Nitrosodimethylamine (NDMA) telah terbukti bersifat karsinogenik (menyebabkan kanker) pada hewan dan manusia. Bahkan WHO dan IARC (Badan Internasional untuk Penelitian Kanker) mengklasifikasikan NDMA sebagai probable human carcinogen (kemungkinan besar menyebabkan kanker pada manusia).
Nitrosamin tidak langsung menyebabkan kanker, tetapi melalui proses metabolisme di dalam tubuh, terutama oleh enzim cytochrome P450, senyawa ini berubah menjadi zat aktif yang bisa merusak DNA. Kerusakan genetik inilah yang kemudian dapat memicu pertumbuhan sel kanker, termasuk di nasofaring. Selain itu, nitrosamin juga bisa menyebabkan perubahan epigenetik dan meningkatkan stres oksidatif, dua faktor penting dalam perkembangan kanker.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi ikan asin, daging olahan, serta kebiasaan merokok dan minum alkohol sangat berkaitan dengan tingginya paparan nitrosamin. Tak hanya dari luar tubuh, ternyata nitrosamin juga bisa terbentuk secara endogen di dalam saluran cerna akibat aktivitas bakteri tertentu. Yang menarik, konsumsi berlebih nitrosamin juga dapat mengaktifkan kembali infeksi virus Epstein-Barr (EBV) dalam tubuh
Kabar baiknya, tubuh manusia memiliki mekanisme perbaikan DNA yang kuat. Selain itu, berbagai zat alami seperti kurkumin (kunyit), vitamin C, vitamin E, dan selenium terbukti memiliki efek protektif terhadap efek merusak nitrosamin. Beberapa makanan seperti teh hijau, bawang putih, wortel, dan ubi juga dapat menurunkan kadar nitrosamin dalam tubuh.
Paparan nitrosamin memang sulit dihindari sepenuhnya, mengingat keberadaannya yang luas dalam makanan dan lingkungan. Namun, dengan pola makan seimbang, memperbanyak konsumsi makanan segar, menghindari makanan olahan berlebihan, serta tidak merokok dan membatasi alkohol, kita dapat menurunkan risiko kanker nasofaring secara signifikan. Kanker nasofaring adalah hasil dari banyak faktor yang saling berkaitan. Nitrosamin hanyalah salah satunya, tetapi merupakan faktor yang bisa dikendalikan dengan perubahan gaya hidup yang sederhana.
Penulis: Achmad Chusnu Romdhoni, Ali Mustofa, Pandit Bagus Tri Saputra, Mohd Razif Mohamad Yunus
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





