51动漫

51动漫 Official Website

Pemanfaat Kulit Ikan Patin Hasil Samping Pengolahan Industri Fillet sebagai Bahan Baku Kolagen

Foto oleh aquakulturinfo.de

Setiap tahun, industri pengolahan hasil perikanan menghasilkan limbah atau hasil samping (by product) sebesar 70-85% dari total hasil penangkapan, dan sekitar 30% berupa tulang atau kulit. Produksi limbah kulit yang dihasilkan mencapai lebih dari 30 ribu ton per tahun. Kulit ikan kaya akan kolagen, terdiri dari 70-80% dari bahan kering. Oleh sebab itu, kulit ikan sebagai hasil samping sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kolagen yang memiliki nilai tambah. Saat ini, sumber kolagen yang digunakan oleh kebanyakan industri berasal dari jaringan hewan mamalia, seperti tendon kulit sapi dan kulit babi. Akan tetapi, untuk aplikasi kolagen mamalia memiliki hambatan karena memiliki potensi resiko terjadinya penularan penyakit yang dimiliki oleh hewan mamalia seperti foot and mouse diseases (FMD) dan bovine spongiform encephalopathy (BSE), dan serta keterbatasan pada masalah kultur dan agama (religious barriers). Oleh karena itu, hasil samping dari industri hasil perikanan berupa kulit ikan bisa menjadi alternatif sumber bahan baku kolagen  yang menjanjiakan untuk memenuhi kebutuhan industri farmasi, kosmetik, makanan, dan bidang kesehatan lainnya.

Kolagen merupakan protein yang paling banyak pada vertebrate, yang terdiri dari satu dari tiga total penyusun protein. Kolagen terdapat terdapat pada jaringan penguhubung dari kulit, sisik, dan tulang dari binatang. Empat puluh persen dari komponen kolagen merupakan matriks ekstraseluler dari kulit, 20% adalah tulang rawan dan sisanya tersebar luas pada tubuh seperti pembuluh darah, viscera (isi perut) dan gigi. Kolagen juga merupakan komponen makromolekul, bahan yang dapat diserap (adsorbable) sempurna dari agen hemostasis dan pembalut luka. Kolagen memiliki komposisi asam amino yang unik tediri dari glicine, alanin, proline and hidroxyproline. Kestabilan molekul kolagen dipengaruhi oleh jumlah dari asam amino proline dan hydroxyproline dengan berat molekul mencapai 300.000 Da.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa kulit ikan patin memiliki potensi yang bisa dikembangkan untuk bahan baku kolagen. Kulit ikan patin merupakan hasil samping (by-product) industri pengolahan fillet ikan. Rendemen kolagen dalam bentuk basah mencapai 90% dan rendemen dalam bentuk kering mencapai 6%. Hasil karakteristik berat molekul dengan mengunakan Sodium dodecyl sulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-Page) dengan berat molekul yang terdiri dari  alfa chain (100 kDa) dan beta chain (200 kDa). Kolagen yang dihasilkan merupakan kolagen tipe 1. Proses yang digunakan untuk produksi kolagen menggunakan metode yang sederhana dengan perendaman menggunakan asam asetat dengan mengggunakan suhu di bawah 15oC. Melalui riset ini membuktikan bahwa kulit sebagai hasil samping/limbah/by-product dapat ditingkatkan nilai tambahnya menjadi produk kolagen. Kolagen memiliki manfaat yang sangat potensial dikembangkan untuk aplikasi bidang pangan, farmasi dan medical applications.

Oleh: Patmawati

Link artikel Scopus:

AKSES CEPAT