51动漫

51动漫 Official Website

Pemberdayaan Perempuan dan Rekayasa Sosial Pelestarian Kerajinan Budaya Lokal Berbasis Industri Rumahan di Jawa

Foto by Koran TEMPO

Industri rumahan kerajinan budaya lokal tradisional di Indonesia telah ada secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Proses produksi kerajinan budaya lokal tradisional diajarkan secara informal dari generasi ke generasi kepada perempuan sejak usia muda. Sebagai warisan dunia, keberlangsungan industri kerajinan budaya tradisional lokal sangat tergantung pada perempuan karena perempuan berperan sentral dalam produksi kerajinan budaya tradisional lokal.

Keberadaan produk kerajinan budaya lokal berbasis industri rumahan semakin tergerus oleh produk kerajinan buatan pabrik, baik pabrik di dalam negeri maupun pabrik di luar negeri. Walaupun berbagai program Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan dan keluarganya telah dilakukan tetapi belum terfokus secara khusus pada perempuan yang mayoritas menjadi perajin pada industri rumahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi dan memetakan jenis industri rumahan yang memproduksi kerajinan budaya lokal, khususnya yang dikelola dan menggunakan tenaga kerja perempuan; 2) menemukenali segregasi kerja laki-laki dan perempuan serta relasi gender dalam komunitas  industri rumahan yang memproduksi kerajinan budaya lokal; 3) menganalisis hambatan dan peluang pengembangan yang kerajinan budaya lokal yang dikelola dan menggunakan tenaga kerja perempuan; 4) menganalisis pemenuhan kebutuhan strategis dan kebutuhan praktis gender yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup perempuan industri rumahan yang memproduksi kerajinan budaya lokal.

Penelitian ini menggunakan pendekatan dan teori perspektif gender dan menerapkan metode penelitian Participatory Action Research (PAR), dimana proses pengumpulan data dilaksanakan berbarengan dengan peningkatan kesadaran dan pemberdayaan perempuan. Lokasi penelitian ini adalah 4 lokasi yang terletak di 4 Kabupaten / Kota di pulau Jawa, yaitu Kabupaten Tuban di Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Bantul D.I. Yogyakarta dan Kabupaten Bogor dan Kabupaten Tasikmalaya, di Provinsi Jawa Barat. Wawancara menggunakan kuesioner terhadap 250 orang responden – perempuan perajin, masing-masing 50 orang responden di lokasi penelitian. Wawancara mendalam terhadap 25 orang perempuan pemilik dan pengelola industri rumahan kerajinan budaya lokal, masing-masing 5 orang di setiap lokasi penelitian. 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis industri rumahan yang memproduksi kerajinan budaya lokal memiliki ciri: a) memproduksi barang-barang kebutuhan yang menunjang kebutuhan primer komunitas, seperti sandang (batik, bordir), peralatan masak (gerabah tanah liat, anyaman bambu); b) kerajinan lokal yang diproduksi berdasarkan ketrampilan secara turun temurun bukan dari sekolah formal / non formal; c) industri kerajinan lokal diproduksi di rumah-rumah pribadi; d) industri kerajinan lokal dikelola serta menggunakan tenaga kerja perempuan. Hasil penelitan ini juga menemukan realitas ketidaksetaraan gender yang terlihat dari: a) segregasi kerja laki-laki dan perempuan dalam pengelolaan produksi didominasi perempuan, sedangkan pemasaran didominasi laki-laki; b) perempuan bekerja dengan alokasi waktu mayoritas lebih dari 8 jam per hari tetapi bertanggung jawab penuh dalam tugas domestik; c) hambatan yang utama adalah permodalan (perempuan kurang memiliki akses pada Penbankan) dan pemasaran (mayoritas melalui pedagang perantara / pengepul, bukan langsung pada konsumen). Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa peluang terbesar pengembangan kerajinan budaya lokal ini adalah pada optimalisasi peran perempuan mengingat perempuan menjadi perajin dan yang mengelola. Kerajinan budaya lokal dapat eksis selama ini karena peran perempuan, baik sebagai perajin yang memiliki ketrampilan khusus maupun sebagai pengelola. Dilain pihak, perempuan dalam industri rumahan kerajinan lokal berada pada posisi subordinat terhadap laki-laki. Perempuan hanya memegang peran yang memproduksi, sedangkan pemasaran lebih banyak dipegang oleh laki-laki. Selain itu perempuan juga harus menjalankan peran multi burden, perempuan bekerja sekaligus menjalankan peran domestik dan peran sosial kemasyarakatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Lokal belum secara khusus membuat program yang memperhatikan kebutuhan spesifik perempuan, padahal kerajinan budaya lokal ini berada di rumah-rumah pribadi yang dikelola dan menggunakan pekerja perempuan. Dengan demikian, Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Lokal perlu membuat program yang secara khusus memenuhi kebutuhan strategis dan kebutuhan praktis gender sehingga kerajinan budaya lokal dapat dilestarikan dan sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan hidup perempuan pekerja industri rumahan yang memproduksi kerajinan budaya lokal dan keluarganya.

Penulis: Prof. Dr. Theresia Emy Susanti, Dra., M.A.

Jurnal:

AKSES CEPAT