51动漫

51动漫 Official Website

Pendekatan Anterior Satu Tahap untuk Cervical Spondylitis TB Subaksial Segmen Panjang

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit dengan beban yang signifikan dan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar di seluruh dunia. Indonesia memiliki prevalensi TB yang tinggi, 759 dari 100.000 penduduk menderita penyakit ini. 60% dari kasus TB baru di seluruh dunia terhitung dari 6 negara, termasuk Indonesia. Tuberkulosis tulang belakang (spondylitis TB), dikenal juga sebagai Pott檚 Disease, merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru yang sering dijumpai. Saat ini, belum ada data tentang kejadian dan prevalensi spondylitis TB, baik di seluruh dunia maupun per negara.

Tuberkulosis tulang belakang leher (Cervical Spondylitis TB) merupakan kejadian yang jarang terjadi, bervariasi dari 2% hingga 12% dari semua kasus TB Tulang Belakang. Cervical spondylitis TB dapat menyebabkan komplikasi neurologis yang parah, oleh karena itu, harus didiagnosis dan dikelola dengan hati-hati.

Pendekatan bedah untuk Cervical Spondylitis TB masih diperdebatkan. Ada 3 pendekatan bedah yang tersedia: anterior, posterior, dan keduanya. Pendekatan anterior dianggap sebagai standar emas untuk cervical spondylitis TB, karena penyakit ini biasanya melibatkan kolumna anterior, sehingga memungkinkan akses langsung ke fokus penyakit, dan memberikan stabilisasi yang lebih baik. Namun studi dan literatur yang tersedia belum secara spesifik menyebutkan berapa level yang dapat diterima untuk pendekatan ini, sehingga prosedur yang melibatkan lebih dari dua level vertebra masih diperdebatkan.

Untuk memberikan kontribusi dalam bidang ini, sebuah laporan kasus ditulis oleh Muhammad Faris, dkk., (2022) dari 51动漫 – RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Laporan kasus yang telah diterbitkan dalam Elsevier ini bertujuan untuk menyajikan kasus pasien cervical spondylitis TB dengan kerusakan 3 level vertebra yang ditangani dengan pendekatan anterior.

Seorang laki-laki Asia berusia 45 tahun dirujuk ke klinik rawat jalan RSUD Dr. Soetomo. Pasien telah mengalami kelemahan progresif dari semua ekstremitas selama 3 bulan. Diawali pada 1 bulan pertama pasien tidak dapat berjalan, dua minggu kemudian pasien merasakan kelemahan dan kesemutan pada ekstremitas atas. Gejala lain yang dikeluhkan yaitu nyeri leher, nyeri menjalar ke kedua tangan dan kaki, keringat malam selama 5 bulan sebelum masuk RS. Tidak ada riwayat demam, penurunan berat badan, batuk lama dan kontak dengan penderita TB. Tidak ada riwayat trauma dan tidak ada gangguan pada buang air besar dan buang air kecil.

Dari pemeriksaan fisik didapatkan tanda vital normal. Pemeriksaan neurologis menunjukkan tetraparesis dengan kekuatan motorik 3 pada semua ekstremitas, hipoestesia pada tingkat C4 dan di bawahnya, peningkatan refleks fisiologis dan refleks patologis positif (Babinski dan Chaddock) pada kedua sisi dengan tonus sfingter anal normal dan refleks bulbocavernosus.

X-ray leher menunjukkan kerusakan pada C4-5-6, kyphosis dengan sudut Cobb 8,5掳. MRI leher dengan kontras menunjukkan kerusakan tiga level korpus vertebra dan diskus pada C4-5-6 dengan massa hipointens pada T1 dan isointense pada T2 di anterior C3-4-5-6 dan T1, yang diduga sebagai infeksi tuberkulosis cervical. Obat TB selanjutnya diberikan kepada pasien.

Pasien menjalani debridement, korpektomi pada C4, 5, 6, fusi dengan cage, dan plating anterior dari C3 ke Th1, semua prosedur dilakukan dengan pendekatan anterior satu tahap. Setelah diseksi dilakukan, kami menemukan destruksi tulang pada C4, 5, dan 6, dengan abses mengalir. Abses dievakuasi dan spesimen dikirim ke mikrobiologi untuk pemeriksaan lebih lanjut (pewarnaan gram dan spesifik untuk TB, kultur). Hasil menunjukkan MTB tanpa resistensi Rifampisin, sehingga pengobatan TB ekstra paru dilanjutkan sampai 9 bulan.

Selanjutnya, instrumentasi untuk rekonstruksi kolom anterior dengan cylindrical cage, bone grafting, dan cervical plate diterapkan. X-Ray leher pasca operasi menunjukkan kembalinya kelengkungan lordosis leher, penempatan instrumentasi anterior dengan hollow cage, screw dan plating.

Segera setelah operasi, pasien tidak mengeluhkan nyeri dan bisa berjalan sendiri. Satu tahun setelah operasi, tidak ada gangguan neurologis sisa yang terdeteksi dan pasien tidak memiliki batasan dalam aktivitas sehari-hari. X-ray dan MRI leher menunjukkan osifikasi yang baik dan peningkatan kelengkungan lordotik.

Pada akhirnya laporan kasus ini dapat disimpulkan bahwa prosedur operasi dengan pendekatan anterior satu tahap yang meliputi debridement anterior, korpektomi, instrumentasi, dan fusi untuk menangani cervical spondylitis TB yang melibatkan tiga level vertebra memberikan hasil yang baik pada koreksi deformitas dan perbaikan klinis pasien.

Penulis: Muhammad Faris, dr., Sp.BS.

Link:

AKSES CEPAT