51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Pengembangan Obat Alergi Debu Rumah yang Aman, Bermutu dan Berkhasiat

Rinitis alergi (selesma) merupakan penyakit pernapasan atas yang bersifat kronis dengan disertai peradangan mukosa hidung. Prevalensi gangguan ini secara global berkisar 40% dan di Indonesia mencapai 15%“40% dari populasi. Penyebab utama adalah adanya pemaparan inhalasi molekul alergen spesifik dari tungau debu rumah yang memicu produksi immunoglobulin E (IgE), suatu protein yang memediasi terjadinya gejala alergi. Paparan inhalasi ini tidak bisa dihindari dan terjadi setiap waktu sepanjang tahun. Oleh sebab itu perlu dikembangkan suatu pendekatan untuk mengatasi alergi melalui penurunan sensitifitas terhadap allergen. Salah satu diantaranya adalah dengan pemaparan berulang molekul allergen pada seseorang yang sensitive terhadap debu rumah. Untuk itu sangat penting dikembangkan produk ekstrak allergen tungau debu rumah menjadi produk terstandar, aman dan berkhasiat.

Dalam debu rumah terdapat tungau dengan spesies utama adalah Dermatophagoides pteronyssinus yang mempunyai protein alergen Der p1. Protein ini yang menginduksi alergi melalui peningkatan aktivitas protease. Seseorang yang hipersensitif terhadap alergen akan mengalami dua jenis respon pada fase awal dan tertunda. Reaksi alergi fase awal ditandai dengan bersin, hidung gatal, dan berair. Sementara respon alergi tertunda ditandai dengan peningkatan jumlah eosinofil yang menyebabkan hidung tersumbat, mengi kronis dan peradangan. Dalam dekade terakhir ini, beberapa kelompok peneliti telah melaporkan bahwa imunoterapi alergen cukup menjanjikan penyembuhan alergi dan menghindari keterulangan. Imunoterapi dilakukan dengan induksi jangka panjang dan mencegah re-sensitisasi pasien dengan riwayat sensitisasi debu rumah.

Melalui serangkaian penelitian yang panjang di teaching industry extract allergen Fakultas Farmasi serta kerjasama dengan berbagai pihak RSUD Dr Soetomo dan PT Biofarma telah berhasil mengembangkan produk berbasis protein spesifik dari tungau debu rumah Indonesia (IHDM). Produk ini telah diuji kandungan protein spesifik Der p1 sebagai marker aktif. Der p1 diekstraksi dengan cara dingin sehingga stabilitas dan kadar dapat dipertahankan dengan baik. Selanjutnya produk yang standar tersebut diuji keamanan melalui uji toksisitas akut dan subkronik. Selain itu, produk juga dievaluasi potensi dan khasiat dalam menghasilkan desensitisasi alergi terhadap debu rumah.

Pengujian pra-klinik pada hewan coba tikus juga berhasil mendapatkan model hewan yang mengalami alergi menyerupai pada manusia. Beberapa kelompok hewan model dipaparkan secara bertahap dengan produk pada dosis 12,5, 50 atau 250 μg/kg BB. Setelah itu dilakukan uji tantang dengan ekstrak alergen debu pada dosis 500 μg/kg BB. Hewan model disensitisasi dengan pemberian IHDM intraperitoneal seminggu sekali selama 3 minggu berturut-turut. Setelah itu, tantangan diberikan secara intranasal 5 kali secara berselang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desensitisasi terjadi pada hewan model alergi yang ditunjukkan gejala alergi mengalami penurunan, infiltrasi eosinophil juga mengalami penuruna serta ekspresi mRNA interleukin-5 (IL-5) pada mukosa hidung juga menrun secara bermakna.

Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak alergenik tungau debu rumah dapat menjadi agen desensitisasi yang efektif pada tikus model alergi. Pengembangan ini akan diteruskan melalui pengujian klinik pada manusia sehingga dihasilkan produk ekstrak alergen yang aman, bermutu dan berkhasiat dalam pengobatan alergi yang bersifat kausatif.

Penulis: Junaidi Khotib

Laman: www.veterinaryworld.org/Vol.15/September-2022/27.pdf

Judul: Effectiveness of Indonesian house dust mite allergenic extract in triggering allergic rhinitis sensitivity in a mouse model: A preliminary study

DOI:  www.doi.org/10.14202/vetworld.2022.2333-2341

AKSES CEPAT