Pemeriksaan ultrasonografi (USG) transvaginal tambahan secara rutin pada kasus PAS dengan risiko tinggi merupakan hal penting yang bisa dilakukan. Pemahaman mengenai penilaian derajat hipervaskularitas intraserviks menjadi sangat penting dalam persiapan operasi PAS.
Kompleksitas operasi sangat bergantung pada topografi lokasi PAS. PAS tipe 1, yang terletak 2 cm di atas trigonum buli, umumnya memungkinkan tindakan bedah uterus-sparing yang berhasil. Sebaliknya, PAS dengan topografi lebih rendah melibatkan jaringan vaskular pelvis bawah yang lebih kompleks, sehingga meningkatkan tingkat kesulitan operasi.
Perubahan pada hipervaskularitas serviks berkaitan langsung dengan topografi tersebut. Hipervaskularitas intraserviks >50% (grade 2) bisa mencerminkan proses remodeling uterus bawah dan angiogenesis lokal selama kehamilan. Sementara itu, grade 3, yang ditandai hilangnya zona jernih antara plasenta dan serviks hipervaskular, kemungkinan berkaitan dengan insisi rendah pada seksio sesarea sebelumnya, yang menyebabkan perlekatan abnormal plasenta dan vaskularisasi masif di antara serviks dan plasenta.
Sebelumnya telah dilaporkan bahwa perdarahan vagina mendadak sering terjadi pada kasus hipervaskularitas intraserviks grade 3, kemungkinan akibat cedera minor pada antarmuka serviks-plasenta akibat manipulasi uterus. Perdarahan jenis ini sulit dikendalikan dan memerlukan penanganan vaskular khusus pada area kolpo-uterus bawah setelah diseksi buli. Dalam situasi kritis seperti ini, kompresi aorta manual internal terbukti sebagai strategi efektif karena dapat menghentikan perdarahan dengan cepat tanpa tindakan tambahan.
Sebagai penanda ultrasonografi yang penting, hipervaskularitas intraserviks grade 3 menunjukkan potensi perlunya histerektomi, perdarahan vagina mendadak, dan kontrol aorta. Oleh karena itu, temuan ini dapat digunakan sebagai panduan strategis dalam persiapan bedah, termasuk insisi abdomen midline, pemasangan balon aorta abdominal profilaksis, kolaborasi dengan ahli bedah vaskular, dan persiapan suplai darah yang memadai.
Penulis: Rozi Aditya Aryananda, dr., SpOG
Informasi detail tentang artikel: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40462601/





