Coronavirus disease 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus corona, suatu virus yang memicu sindroma pernafasan akut yang parah (SARS-CoV-2). . COVID-19 hadir dengan spektrum kondisi klinis yang luas, mulai dari tanpa gejala hingga pneumonia berat yang dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut yang ditandai dengan penurunan rasio rasio tekanan parsial oksigen pada darah arteri (PaO2) dengan fraksi oksigen pada udara inspirasi (FiO2) atau PaO2/FiO2 (P/F). Selain penyakit pernapasan, COVID-19 juga dapat menyebabkan manifestasi ekstrapulmoner, termasuk gejala gastrointestinal.
Gejala gastrointestinal, seperti anoreksia, mual, muntah, dan sakit perut, umumnya ditemukan pada sekitar 20-50% kasus COVID-19; meskipun demikian, cedera usus dapat terjadi bahkan tanpa adanya gejala gastrointestinal. Etiologi cedera gastrointestinal pada COVID-19 dapat bersifat primer dan sekunder. Cedera primer terjadi karena infeksi langsung SARS-CoV-2 pada sistem gastrointestinal, sedangkan cedera sekunder timbul karena beberapa kondisi. Cedera mungkin berhubungan dengan hipoksemia, ditandai dengan penurunan rasio P/F, yang menyebabkan inflamasi usus akibat hipoksia.
Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa konsentrasi calprotectin tinja menyumbang 60% dari protein sitosol dalam neutrofil, sebanding dengan konsentrasi neutrofil di mukosa usus, di mana fungsinya sangat dipengaruhi oleh iskemia. Oleh karena itu, calprotectin tinja adalah biomarker potensial untuk kerusakan usus hipoksia pada pasien COVID-19. Studi yang mengevaluasi peradangan usus pada pasien COVID-19 yang menggunakan kadar calprotectin tinja masih terbatas. Hanya enam studi dan satu meta-analisis yang mengevaluasi subjek. Di antara studi ini, hanya tiga yang menyelidiki hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dan peradangan usus. Ketiga penelitian ini menggunakan berbagai definisi keparahan penyakit dengan hasil yang kontradiktif.
Berdasarkan dari gambaran di atas, peneliti dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, 51动漫 berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya di salah satu jurnal Internasional terkemuka, yaitu Gut Pathogens. Peneliti menganalisis hubungan antara keparahan penyakit COVID-19 berdasarkan derajat hipoksemia menggunakan rasio P/F dengan peradangan usus yang disebabkan oleh kondisi hipoksia yang ditentukan berdasarkan kadar calprotectin tinja. Selain itu, peneliti juga mengamati karakteristik manifestasi gastrointestinal, gejala umum, dan penanda inflamasi pada pasien COVID-19 di populasi Indonesia.
Hasil penelitian melaporkan bahwa gejala gastrointestinal utama dalam penelitian ini adalah penurunan nafsu makan, kecuali pada kelompok Fecal Calprotectin (FC) positif dimana mual menjadi gejala utama. Temuan penting lainnya adalah bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok FC-positif dan FC-negatif untuk semua parameter inflamasi yang ditemukan dalam penelitian ini. Meskipun demikian, terdapat beberapa nbeberapa keterbatasan. Pertama, ukuran sampel relatif kecil, karena merupakan studi pusat tunggal. Oleh karena itu, hasilnya harus divalidasi dengan studi tambahan dengan ukuran sampel yang lebih besar dan studi multisenter jika memungkinkan. Kedua, ini adalah studi cross-sectional, bukan studi prospektif. Sulit untuk menentukan arah hubungan antara rasio P/F dengan fecal calprotectin menggunakan pendekatan ini karena kedua variabel dapat saling mengganggu. Sebuah studi prospektif juga memungkinkan kita untuk mengevaluasi tren kadar calprotectin tinja selama periode rawat inap dan untuk menentukan hasilnya.
Peneliti juga tidak memiliki data mengenai timbulnya gejala dan waktu rawat inap untuk pengambilan sampel darah dan tinja, yang mungkin memberikan informasi tentang hubungan antara perjalanan klinis COVID-19 dan peradangan usus. Akhirnya, kami tidak mengevaluasi PCR SARS-CoV-2 dalam sampel tinja; dengan demikian, kami tidak dapat menghilangkan apakah ada invasi virus langsung ke mukosa usus, yang memicu peradangan usus. Namun demikian, penelitian ini berharga sebagai studi pendahuluan untuk memperkuat penelitian lebih lanjut di bidang ini.
Singkatnya, temuan kami mendukung pemahaman saat ini tentang hubungan antara tingkat keparahan COVID-19 dengan manifestasi usus. Calprotectin tinja menunjukkan peran potensial sebagai biomarker usus peradangan pada COVID-19 sebagai konsekuensi dari hipoksia kerusakan usus, seperti yang disarankan oleh rasio P/F yang berkurang. Meskipun demikian, lebih banyak penelitian diperlukan untuk menyelidiki etiologi manifestasi gastrointestinal dan peningkatan kadar calprotectin tinja pada pasien dengan COVID-19, bersama dengan potensi mereka dalam memprediksi gastrointestinal komplikasi dan hasil klinis.
Penulis: Titong Sugihartono
Artikel dapat diakses:





