Kanker testis meliputi 1-2% dari seluruh keganasan. Meskipun secara keseluruhan kejadiannya relatif jarang, kanker testis adalah kanker yang paling sering dijumpai pada laki-laki muda usia 15-40 tahun. Sebagian besar kanker testis adalah tipe tumor sel germinal atau germ cell tumor (GCT). Selanjutnya, GCT ini terbagi menjadi seminoma dan non-seminoma. Selanjutnya, GCT ini terbagi menjadi seminoma dan non-seminoma.
Seringkali pasien datang berobat dalam kondisi kanker yang sudah menyebar (metastasis). Terapi utama pada kondisi tersebut adalah pembedahan dan pemberian kemoterapi. Obat kemoterapi yang sering dipakai untuk kasus kanker testis adalah kombinasi bleomycin, etoposide, dan cisplatin (BEP). Kombinasi obat ini sangat efektif dan memiliki kesuksesan yang tinggi untuk kasus kanker testis. Namun, didapatkan efek samping kemoterapi yang mungkin menyebabkan pasien tidak taat berobat dan menyebabkan kegagalan kemoterapi. Beberapa usaha dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan kemoterapi BEP dan mengurangi efek sampingnya. Salah satunya adalah dengan mendata profil pasien dan mencari faktor resiko kegagalan kemoterapi.
Progresifitas kanker dipengaruhi oleh sistem kekebalan tubuh pasien. Adanya respon keradangan sistemik menyebabkan pertumbuhan kanker yang lebih cepat. Hal ini sudah diketahui pada berbagai keganasan seperti kanker ginjal dan kanker buli. Salah satu penanda keradangan sistemik yang mudah dan murah untuk dilakukan adalah rasio neutrofil dan limfosit (NLR). Pemeriksaan ini dihitung dari hasil pemeriksaan darah lengkap yang bisa dikerjakan pada fasilitas kesehatan di daerah. Namun, peranan NLR pada kanker testis masih jarang diteliti terutama sebagai prediktor kegagalan kemoterapi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui profil demografi, efek samping kemoterapi, dan peranan NLR pada pasien kanker testis.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain kohort retrospektif. Data didapatkan dari rekam medis pasien kanker testis yang menjalani kemoterapi di RSUD Dr. Soetomo selama periode Januari 2015 hingga Desember 2019. Total sampel pada penelitian ini adalah 67 pasien. Kami melakukan pendataan karakter demografi yang mencakup usia, stadium, jenis kanker testis, nilai NLR, obat kemoterapi, efek samping kemoterapi, serta respon kemoterapi. Kemudian kami melakukan analisis faktor apa saja yang berperan sebagai prediktor kegagalan kemoterapi.
Rata-rata usia pasien adalah 28,9 tahun. Kombinasi obat kemoterapi yang digunakan adalah BEP empat siklus pada 36 pasien (53.7%), diikuti tiga siklus BEP pada 22 pasien (32.8%). Sebagian besar pasien dengan GCT seminoma menunjukkan respon komplit terhadap kemoterapi (54.1%), sedangkan sebagian besar pasien dengan GCT non-seminoma mengalami progresi penyakit (47.8%). Efek samping kemoterapi yang paling sering ditemukan adalah mual (61,2%) dan muntah (23,8%). Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa NLR dan serum penanda tumor secara independen berkaitan dengan respons pasien terhadap kemoterapi.
Penelitian ini menunjukkan karakteristik demografi dan respon terhadap kemoterapi pada pasien kanker testis di RSUD Dr. Soetomo memiliki gambaran yang serupa dengan literatur yang ada. Data dari RSUD Dr. Soetomo menunjukan pasien kanker testis memiliki usia muda dan respon baik terhadap kemoterapi. Penelitian ini juga menunjukkan adanya potensi NLR sebagai prediktor kegagalan kemoterapi. Namun, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk meperkuat peranan NLR sebagai prediktor kegagalan kemoterapi pada kanker testis.
Penulis: Lukman Hakim, dr., M.Kes., Ph.D.
Informasi lengkap tulisan ini dapat diakses pada laman :
Saputra, H. M., & Hakim, L. (2022). The Prognostic Role of Neutrophil-to-Lymphocyte Ratio (NLR) in Testicular Germ Cell Tumor (GCT). Folia Medica Indonesiana, 58(1), 39“45. https://doi.org/10.20473/fmi.v58i1.32599





