51动漫

51动漫 Official Website

Praktik Inovasi Hijau terhadap Pertumbuhan Berkelanjutan Perusahaan di Bidang Non-Keuangan

Praktik Inovasi Hijau terhadap Pertumbuhan Berkelanjutan Perusahaan di Bidang Non-Keuangan
Sumber: The Economic Times

Penelitian ini mengeksplorasi peran Environmental Management Accounting(EMA) sebagai mediator dalam hubungan antara green innovation dan Corporate檚 Sustainable Growth. Setiap tahun, pertumbuhan emisi karbon dioksida yang berkelanjutan tetap menjadi konsekuensi yang signifikan, karena merupakan elemen penting dalam perubahan iklim yang parah. Menurut “BP Statistical Review of World Energy 2020“, Indonesia menempati urutan ke-5 di kawasan Asia Pasifik untuk emisi karbon dioksida pada tahun 2019.    Ini menyumbang 1,8% dari emisi karbon dioksida dunia, mengikuti Cina, India, Jepang, dan Korea Selatan (BP plc, 2020). Baru-baru ini, green innovation (GI) telah menjadi konsep yang populer, seiring dengan masalah pemanasan global dan kerusakan lingkunga, yang menimbulkan ancaman parah bagi populasi dunia. Pembangunan berkelanjutan membahas aspirasi umat manusia untuk kehidupan yang lebih baik sambil mengamati batasan yang diberlakukan oleh alam. 17 tujuan sustainable development goals (SDGs) yang dipromosikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pemangku kepentingan saat ini dan masa depan serta memastikan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan untuk semua sambil menyeimbangkan pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.  Inovasi bisnis yang dihasilkan dari adaptasi model keberlanjutan telah membawa perubahan pada proses manufaktur dengan mempertimbangkan dampak operasi terhadap risiko lingkungan, seperti inovasi hijau.

Penelitian ini menjelaskan bahwa dengan sistem manajemen yang baik, korporasi dapat memperoleh manfaat ekonomi dari penerapan green innovation karena EMA dapat menyelesaikan masalah yang timbul dari penerapan green innovation, seperti masalah lingkungan dan biaya, yang meningkatkan nilai korporasi.  Penelitian ini menambah pengetahuan akuntansi manajemen di sektor lingkungan, terutama green innovation, EMA, dan Corporate檚 Sustainable Growth.   Menerapkan green innovation dapat mengurangi dampak negatif lingkungan dan meningkatkan kinerja ekonomi dan sosial korporasi dengan mengurangi limbah dan biaya.  Menciptakan proses dan produk produksi yang ramah lingkungan mendorong perusahaan untuk mengadopsi EMA untuk mengelola biaya.  Namun, upaya perusahaan untuk mengadopsi EMA tidak mempengaruhi Corporate檚 Sustainable Growth karena ketidakmampuan korporasi untuk mengontrol pengeluaran dari dana internal tidak mempengaruhi Corporate檚 Sustainable Growth. Kontirbusi praktis dari penelitian ini memberikan informasi tentang pentingnya green innovation dalam meningkatkan Sustainable Growth. Penerapan green innovation dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan kinerja ekonomi dan sosial perusahaan akibat pemborosan dan pengurangan biaya.  Pemangku kepentingannya adalah pelanggan, karyawan, dan pemerintah di mana manajer semakin tertekan untuk lebih fokus pada isu lingkungan tentu akan merespon dengan baik upaya inovasi yang dilakukan oleh pelaku usaha. 

Metode dan Diskusi

Penelitian ini memanfaatkan program STATA 14 untuk menguji hipotesis menggunakan tes analisis jalur dan tes Sobel. Analisis dilakukan terhadap 2.716 pengamatan dari 539 perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara tahun 2013 dan 2020. Peneliti kemudian mengecualikan 677 pengamatan yang tidak menawarkan semua data keuangan yang diperlukan untuk penelitian ini. Oleh karena itu, sampel akhir penelitian terdiri dari 2.716 pengamatan. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini diperoleh dari dua sumber primer. Pertama, peneliti menggunakan database OSIRIS untuk mengamati informasi keuangan perusahaan. Kedua, laporan tahunan perusahaan digunakan untuk menentukan apakah korporasi telah disertifikasi ISO 14001. Sertifikasi ISO 14001 adalah standar internasional yang menetapkan persyaratan untuk manajemen terstruktur yang terkait dengan perlindungan lingkungan dari kegiatan bisnis perusahaan.  Untuk memenuhi standar ini, perusahaan perlu memasukkan persyaratan sistem manajemen lingkungan ke dalam berbagai proses bisnis mereka, seperti desain dan pengembangan, pengadaan, sumber daya, penjualan, dan pemasaran.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa EMA memiliki sedikit dampak pada pertumbuhan berkelanjutan. Untuk meningkatkan pengelolaan lingkungan, biaya yang besar tidak dapat dihindari akan dikeluarkan, mungkin mengakibatkan entitas perusahaan melepaskan kendali atas sumber daya keuangan internalnya.  Untuk mengkaji peran EMA sebagai variabel mediasi, peneliti menggunakan uji Sobel dan memperoleh temuan yang menunjukkan bahwa EMA tidak berfungsi sebagai mediator dampak inovasi hijau terhadap pertumbuhan berkelanjutan.  Kurangnya kemampuan korporasi untuk menangani keuangan internal secara efektif, terutama karena biaya yang besar dan biaya implementasi proyek berkelanjutan, ditambah dengan fakta bahwa hanya 32% korporasi yang disurvei telah memperoleh sertifikasi ISO 14001, menghambat dampak potensial dari penerapan Akuntansi Manajemen Lingkungan (EMA) terhadap pertumbuhan berkelanjutan di Indonesia.

Penulis: Prof. Dian Agustia, S.E., M.Si., Ak., CMA., CA

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Atmariani, A. A. R., Agustia, D., Permatasari, Y., & Lusandi, G. K. (2024). Green Innovation Practice On Corporate檚 Sustainable Growth In Non-Financial: The Mediating Effect Of Environmental Management Accounting. EKUITAS (Jurnal Ekonomi dan Keuangan)8(2), 363-381.

AKSES CEPAT