51动漫

51动漫 Official Website

Profil Hipertensi pada Lansia di Puskesmas Mojo Surabaya Jawa Timur Periode November 2022

Foto by Halodoc

Hipertensi merupakan penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. Kondisi hipertensi terjadi ketika tekanan darah sistolik lebih dari 135-140 mmHg, dan tekanan diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi banyak terjadi di masyarakat, terutama di kalangan orang tua. Hipertensi pada lansia disebabkan oleh perubahan fisiologis pada tubuh. Hal ini terjadi karena tekanan darah cenderung meningkat seiring bertambahnya waktu. Faktor risiko hipertensi pada lansia adalah usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, tingkat pendidikan, kebiasaan merokok, konsumsi garam, kepatuhan minum obat, obesitas, diabetes melitus, dan penyakit ginjal.

Profil hipertensi pada lansia di Puskesmas Mojo mengingat bertambahnya usia juga diikuti dengan peningkatan tekanan darah. Studi ini menggunakan sampel lansia yang menderita hipertensi sesuai kriteria inklusi dan kriteria eksklusi di Puskesmas Mojo bulan November 2022. Sampel yang digunakan sebanyak 155 responden. Pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuesioner yang berisi variabel yang akan diteliti yaitu jenis kelamin, tingkat pendidikan, kebiasaan merokok, kepatuhan minum obat antihipertensi, obesitas, riwayat diabetes melitus tipe 2, dan riwayat penyakit ginjal. Hasilnya akan disajikan dalam bentuk tabel dan diagram lingkaran.

Dari total lansia yang menderita hipertensi terdapat 155 lansia, 115 lansia perempuan dan 40 lansia laki-laki, didapatkan hasil 110 lansia dengan tingkat pendidikan rendah sedangkan 45 lansia dengan tingkat pendidikan tinggi, 4 lansia merokok sedangkan 151 lansia tidak. merokok, 84 lansia teratur minum obat sedangkan 71 lansia tidak rutin minum obat, 40 lansia obesitas sedangkan 115 lansia tidak obesitas, 15 lansia memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 sedangkan 140 lansia tidak memiliki riwayat diabetes melitus tipe 2 , 1 lansia memiliki riwayat penyakit ginjal sedangkan 154 lansia tidak memiliki riwayat penyakit ginjal.

Pada umumnya wanita setelah menopause akan mengalami peningkatan resiko untuk berkembang hipertensi. Hal ini bisa terjadi karena pada wanita yang belum mencapai menopause terdapat hormon yang disebut estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar HDL dalam darah. Penurunan kadar estrogen pada wanita pascamenopause juga akan diikuti dengan penurunan kadar HDL dalam darah sehingga kadar LDL bisa meningkat yang kemudian akan meningkatkan risiko aterosklerosis. Aterosklerosis kronis dapat menyebabkan sirkulasi darah ke jantung akan terganggu, sehingga ventrikel kiri harus memompa lebih keras untuk menghasilkan tekanan yang cukup untuk mendorong darah melalui pembuluh darah aterosklerotik. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik, yang kemudian menyebabkan hipertensi.

Hipertensi dapat terjadi karena dua faktor, yaitu faktor yang dapat dikontrol dan tidak dapat dikontrol dikendalikan. Selain obesitas, stres, kurang olahraga, konsumsi garam berlebihan, dan konsumsi alkohol, faktor lain yang dapat dikendalikan adalah merokok. Merokok dapat menyebabkan vasokonstriksi pada darah tepi pembuluh darah dan pembuluh darah pada ginjal yang kemudian dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah.

Berdasarkan hasil studi ini, lansia di Puskesmas Mojo cenderung tidak mengalami obesitas. Hal ini terjadi karena lansia mengalami penurunan massa otot. Menjadi kurus juga dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup lansia yang dapat menimbulkan masalah kesehatan. Penurunan massa otot pada lanjut usia dapat meningkatkan risiko terkena osteoporosis, diabetes, hipertensi, penyakit jantung koroner, dan kanker.

Lansia yang menderita hipertensi dengan riwayat penyakit tipes 2 diabetes melitus di Puskesmas Mojo memiliki angka kejadian yang rendah. Ini bisa terjadi karena lanjut usia pasien yang menderita hipertensi dengan komplikasi diabetes kebanyakan hanya meminta surat rujukan rumah sakit tanpa melakukan pemeriksaan di Puskesmas Mojo. Sehingga sebagian besar lansia yang bersedia yang mengikuti wawancara hanya lansia yang melakukan pemeriksaan kesehatan dan melakukan terapi di Pusat kesehatan.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa lansia dengan hipertensi sekunder cenderung tidak melakukan pemeriksaan Kesehatan di Puskesmas. Hal ini terjadi karena berdasarkan Indonesia 2012 Standar Kompetensi Dokter, dokter umum hanya dapat mendiagnosa dan memberikan penatalaksanaan awal hipertensi sekunder dan kemudian memberikan rujukan ke rumah sakit. Kebanyakan orang tua dengan sekunder hipertensi di Puskesmas Mojo adalah pasien tetap, sehingga hanya meminta surat rujukan saja tanpa melakukan pemeriksaan atau terapi terlebih dahulu. Oleh karena itu, lebih sulit bagi lansia dengan sekunder hipertensi di Puskesmas Mojo untuk diwawancarai.

Karakteristik yang sering ditemukan pada lansia yang menderita hipertensi di Puskesmas Mojo Surabaya adalah berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan rendah, tidak merokok, rutin minum obat antihipertensi, tidak obesitas, tidak ada riwayat diabetes melitus tipe 2, dan tidak ada riwayat penyakit ginjal.

Penulis jurnal : Hanifah Az Zahrah1, Meity Ardiana2, Artaria Tjempakasari 3

Link : https://ijrp.org/paper-detail/4281

AKSES CEPAT