Stunting pada balita hingga saat ini masih menjadi permasalahan gizi utama di Indonesia. Meskipun angka prevalensi stunting berhasil diturunkan, namun masih menjadi permasalahan serius karena prevalensinya masih di atas 20%. Data prevalensi stunting di Indonesia berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 sebesar 24,4%, sementara di Jawa Timur sebesar 23,5%. Prevalensi stunting di Kabupaten Probolinggo pada tahun 2018 sebesar 39,9%. Angka ini melebihi angka nasional di tahun yang sama berdasarkan hasil Riskesdas 2018 yaitu sebesar 30,8%. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, Puskesmas Bantaran memiliki prevalensi stunting yang cukup tinggi.Terdapat 2 desa lokus stunting di wilayah kerja Puskesmas Bantaran, yaitu Desa Gunung Tugel dengan prevalensi stunting sebesar 57,9% dan Desa Karang Anyar dengan prevalensi stunting sebesar 48,8%. Tentu permasalahan stunting di wilayah Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo perlu mendapat perhatian dengan mencari faktor penyebab terjadinya stunting di kedua desa tersebut.
Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang adekuat dan juga asupan protein yang cukup sangat berperan penting dalam pencegahan stunting pada balita. Frekuensi pemberian MP-ASI yang benar dan sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan balita dapat mencegah terjadinya stunting. Begitu juga dengan usia pemberian MP-ASI yang tepat yaitu mulai usia 6 bulan dapat mencegah terjadinya stunting. Sementara asupan zat gizi makro khususnya protein sangat penting untuk mencegah stunting, karena protein berfungsi dalam proses pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh serta mengganti sel-sel yang rusak. Apabila asupan protein tidak adekuat saat periode pertumbuhan balita, maka proses tumbuh kembang balita menjadi terlambat dan masalah stunting dapat terjadi.
Berdasarkan hasil penelitian Amalia, dkk (2022), menunjukkan bahwa balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo mendapatkan MP-ASI yang tidak tepat sebanyak 81,8%, begitu juga asupan proteinnya terkategori defisit sebesar 81,8%. Pemberian MP-ASI yang tidak tepat ditandai dengan usia pemberian yang terlalu dini (kurang dari 6 bulan), frekuensi pemberian MP-ASI yang kurang dari 3 kali sehari serta jumlah pemberian MP-ASI yang kurang dari kebutuhan pada usia balita. Usia pemberian MP-ASI yang terlalu dini akan menimbulkan gangguan pencernaan dan lebih rentan terhadap penyakit infeksi seperti diare, risiko alergi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi. Demikian juga dengan frekuensi dan jumlah pemberian MP-ASI yang kurang tepat dapat menyebabkan kekurangan zat gizi yang dibutuhkan balita serta dapat menimbulkan penyakit infeksi dan proses pertumbuhan tulang dapat terganggu. Hasil penelitian Amalia, dkk (2022) menunjukkan bahwa praktik pemberian MP-ASI yang tidak tepat berisiko 7,87 kali mengalami stunting dibandingkan balita yang mendapatkan MP-ASI secara tepat.
Mengenai tingkat kecukupan protein, berdasarkan penelitian Amalia, dkk (2022) menunjukkan bahwa tingkat kecukupan protein yang defisit berisiko 6,5 kali menyebabkan stunting dibandingkan balita yang tingkat kecukupan proteinnya terkategori cukup. Kekurangan asupan protein dapat mengakibatkan kekurangan energi kronis, dan jika berlangsung dalam jangka waktu lama akan mempengaruhi pertumbuhan linear balita. Tingkat kecukupan protein tersebut juga dipengaruhi oleh praktik pemberian MP-ASI pada balita. Konsumsi protein seperti daging sapi, ikan, sereal, dan umbi-umbian, serta susu yang rendah sering ditemukan pada balita yang mengalami stunting daripada tidak stunting. Konsumsi protein sangat dibutuhkan pada usia balita terutama balita stunting. Konsumsi makanan yang tinggi protein seperti susu, kacang-kacangan, dan daging berpotensi dapat menurunkan risiko stunting.
Oleh karena itu disarankan bagi ibu balita stunting sebaiknya mampu meningkatkan asupan protein hewani anak dengan cara modifikasi bahan makanan protein hewani menjadi bentuk dan rasa yang lebih disukai anak sehingga anak lebih tertarik dan tidak bosan dengan lauk yang diberikan. Sejak pemberian makanan pendamping ASI usia 6 bulan, makanan sumber protein hewani yang beragam penting untuk diperkenalkan pada balita. Selain itu juga diperlukan edukasi mengenai praktik pemberian MP-ASI yang tepat sesuai tahapan usia balita dari pihak Puskesmas Bantaran Kabupaten Probolinggo sebagai upaya untuk meningkatkan pengetahuan ibu dalam pemberian MP-ASI.
Penulis: Lailatul Muniroh, S.KM., M.Kes.
Link Jurnal: Associations of Complementary Feeding Practice History and Protein Adequacy Level with Childhood Stunting in the Working Area of Puskesmas Bantaran in Probolinggo Regency: HUBUNGAN ANTARA RIWAYAT PEMBERIAN MP-ASI DAN KECUKUPAN PROTEIN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANTARAN KABUPATEN PROBOLINGGO.Media Gizi Indonesia,Ìý17(3), 310“319.





