51动漫

51动漫 Official Website

Strategi Pengembangan Anti Depresan dengan Target Mikroglia

Foto by Halodoc

Depresi merupakan penyebab utama disabilitas di seluruh dunia. Secara global dialami oleh lebih dari 264 juta orang dari semua usia. Beban ekonomi dari depresi dilaporkan sekitar $210,5 milyar, yang terdiri dari biaya langsung (45%), biaya terkait bunuh diri (5%), dan biaya tempat kerja (50%). Terlepas dari prevalensinya yang tinggi, mekanisme yang terkait dengan patogenesis depresi belum sepenuhnya dipahami dan pengobatan saat ini belum menunjukkan efektivitas yang pada sebagian besar pasien di rumah sakit atau pelayanan kesehatan. Depresi bersifat heterogen dengan kemungkinan etiologi yang lebih dari satu. Pengujian terhadap efektivitas terapi yang mengacu pada program AGT (Algorithm-guided Therapy) menunjukkan tingkat respons pasien terhadap pemberian agen farmakoterapi (SSRI, SNRI, atau TCA) yaitu 20,7% dengan tingkat remisi 31,0%. Keterbatasan tersebut menyebabkan perlunya pengembangan terapi yang bersifat intervensi pada depresi sehingga memberikan outcome yang baik. Saat ini, penelitian lebih banyak difokuskan pada disfungsi neuronal, sementara keterlibatan sel otak lain seperti mikroglia, belum banyak dieksplorasi. Meskipun data efikasi dan keamanan dari terapi dengan target mikroglia pada manusia masih terbatas, tetapi uji pada hewan mendukung efikasinya. Selanjutnya, kajian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas inhibitor mikroglia terhadap perilaku mirip depresi pada model hewan pengerat. Dengan demikian akan didapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai strategis pendekatan yang efektif untuk mengatasi depresi.

Mikroglia adalah sel imun utama di otak yang berperan dalam immunosurveillance dan neuroproteksi melalui regulasi ketat sitokin. Pada kondisi normal, microglia bersifat diam dengan morfologi yang bercabang. Microglia akan mengalami perubahan bentuk menjadi amoeboid ketika microglia mendeteksi adanya sinyal yang berpotensi berbahaya. Microglia dikategorikan menjadi 2 kondisi aktivasi, fenotip M1 yang berkaitan dengan produksi sitokin proinflamasi dan fenotip M2 yang mengekspresikan sitokin untuk menghentikan inflamasi. Sejumlah bukti terbaru mengindikasikan keterlibatan microglia dalam patofisiologi depresi. Sintesis bukti terbaru dapat membantu memahami sejauh mana penghambatan aktivasi mikroglia dapat mengatasi kondisi depresi. Dengan demikian, studi ini bertujuan untuk menginvestigasi efek penghambatan aktivasi mikroglia terhadap perbaikan perilaku mirip depresi pada model hewan pengerat.

Database elektronik PubMed ditelusuri dari Januari 2011 hingga April 2021 dengan kata kunci terkait. Studi yang memenuhi syarat yaitu publikasi teks lengkap yang ditulis dalam bahasa Inggris mengenai penelitian eksperimental pada hewan pengerat yang melaporkan efek antidepresan yang menargetkan mikroglia. Kami mengidentifikasi 713 publikasi penelitian, dimana hanya 25 studi yang memenuhi kriteria inklusi dan dilibatkan untuk analisis. Pemberian obat/senyawa antidepresan yang menghambat microglia dilaporkan bermanfaat karena memperbaiki gejala mirip depresi, dengan menurunkan luaran berbasis imobilitas, anhedonia, dan aktivitas lokomotor. Inaktivasi microglia dilaporkan terjadi melalui penghambatan jalur HMGB1/TLR4/NF-魏B dan NLRP3/NF-魏B, serta perbaikan komunikasi microglia neuron melalui peningkatan interaksi CX3CL1 dengan CX3CR1. Bukti ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang melaporkan keterkaitan antara microglia dengan kondisi depresi. Data tersebut menunjukkan bahwa penggunaan suatu agen penghambat aktivitas mikroglia dapat menekan perkembangan perilaku menyerupai depresi pada hewan coba. Mekanisme ini dapat ditranslasikan dan dikembangkan lebih jauh sebagai strategi yang menjanjikan dalam mengatasi depresi pada manusia.

Penulis: Junaidi Khotib                                     

Laman:

AKSES CEPAT