Kualitas mutu atau tingkat kesegaran hasil tangkapan nelayan sangat penting untuk diperhatikan, karena berkaitan dengan nilai jual dan daya terima konsumen. Kesegaran atau mutu ikan yang baru ditangkap dari perairan tidak dapat ditingkatkan dan bukan hanya itu, tingkat kesegaran akan terus menurun, dengan kata lain kemunduran mutu ikan hanya dapat diperlambat dengan menerapkan prinsip dan metode penanganan yang baik dan benar. Penurunan mutu dan tingginya kerusakan pasca panen diakibatkan oleh antara lain cara penangkapan, cara penanganan yang buruk, panjangnya rantai suplai, tidak memadainya fasilitas penanganan dan penyimpanan. Masih banyak nelayan yang menggunakan metode atau teknik penanganan dan penyimpanan secara tradisional dan tidak dapat mempertahankan mutu dengan baik hingga sampai di pasaran, bahkan nelayan menggunakan bahan berbahaya seperti formalin untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan kualitas ikan swanggi dan untuk mengetahui faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kualitas ikan swanggi (Priacanthus macracanthus) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Brondong, Lamongan, Jawa Timur. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian survei deskriptif. Parameter pengujian dalam penelitian ini yaitu uji organoleptik, uji pH dan uji formalin untuk menganalisis dan mendeskripsikan kualitas ikan swanggi, Selain itu juga dilakukan analisis sebab akibat untuk mengetahui faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kualitas ikan swanggi. Hasil penelitian ikan swanggi yang dipasarkan di TPI Brondong masih berkualitas baik dengan nilai organoleptik setiap indikatornya sebagai berikut: mata (7,3), Insang (6,8), daging (6,7), bau (6,3) dan tekstur (6,2) dengan nilai rata-rata organoleptik 6,6. Nilai organoleptik tersebut masih dalam kondisi toleran karena nilai 5-6 merupakan ambang batas antara kondisi ikan bagus, sedangkan menurut acuan SNI (2013) nilai minimum untuk kategori ikan segar ditunjukkan dengan nilai 7. Nilai pH (derajat keasaman) ikan swanggi dengan nilai rata-rata 6,5 yang menunjukkan bahwa tingkat kesegaran ikan swanggi tergolong segar dan masuk pada fase rigor mortis. Sedangkan hasil uji formalin ditemukan 68 sampel ikan swanggi yang positif formalin atau 24,29% dari jumlah sampel pengujian dan hal ini harus menjadi perhatian penting bagi pelabuhan karena menyangkut keamanan pangan bagi konsumen.
Penulis: Dr. Adriana Monica Sahidu, Ir., M.Kes. dan Wahyu Isroni, S.Pi., M.P.
Jurnal: Study on the quality of fesh swanggi ( Priacanthus macracanthus) at fish auction places (TPI) Brondong, PPN Brondong, Lamongan. East Java.





