51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Sudut Gonial dan Tinggi Ramus Mandibula Pada Populasi Surabaya

Sudut Gonial dan Tinggi Ramus Mandibula Pada Populasi Surabaya
Sumber: Radiopaedia

Odontologi forensik yang merupakan salah satu cabang ilmu forensik, saat ini memiliki peran penting dalam berbagai investigasi, seperti kecelakaan, terorisme, bencana alam, hingga kasus kriminal. Dengan memanfaatkan keahlian di bidang kedokteran gigi, odontologi forensik mempermudah identifikasi korban melalui karakteristik unik gigi dan jaringan sekitarnya. Salah satu teknik yang sering digunakan adalah penentuan jenis kelamin berdasarkan pemeriksaan rahang bawah (mandibula), yang menjadi langkah penting dalam proses identifikasi individu. Dalam situasi di mana DNA, sidik jari, maupun catatan gigi tidak memadai, mandibula menjadi alternatif yang sangat berguna. Sebagai tulang wajah terbesar, mandibula memiliki ketahanan yang baik terhadap proses pembusukan (dekomposisi), menjadikannya ideal untuk investigasi forensik. Mandibula juga menunjukkan perbedaan bentuk antara laki “ laki dan perempuan yang signifikan, yang salah satunya berkaitan dengan perbedaan ukuran.           

Pertumbuhan mandibula dipengaruhi oleh usia, dengan stabilisasi pada usia sekitar 17 “ 18  tahun untuk perempuan dan 19 “ 20  tahun untuk laki-laki. Namun, kondisi seperti kehilangan gigi atau osteoporosis pada usia lanjut dapat menyebabkan berkurangnya ukuran mandibula. Berdasarkan penelitian di India, penentuan jenis kelamin dengan menggunakan tinggi ramus mandibula memiliki akurasi hingga 80,2%. Penelitian serupa di Far North Queensland juga menemukan adanya perbedaan signifikan pada tinggi ramus, lebar bigonial, dan sudut gonial antar jenis kelamin.

Penentuan jenis kelamin ini dapat dilakukan melalui berbagai metode menggunakan foto rontgen seperti radiografi panoramik, sefalogram lateral, dan Cone-Beam Computed Tomography (CBCT). Radiografi panoramik, yang memberikan visualisasi rinci struktur rahang, sering digunakan karena kemampuannya menghasilkan foto rontgen berkualitas tinggi. Hal ini memungkinkan peneliti untuk secara akurat mengidentifikasi perbedaan bentuk antar jenis kelamin serta memperkirakan usia individu.

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dan korelasi antara berbagai parameter mandibula dengan jenis kelamin. Dengan demikian, odontologi forensik menawarkan solusi penting dalam membantu penegakan hukum dan investigasi forensik, terutama di tengah keterbatasan metode identifikasi tradisional seperti DNA dan sidik jari.

Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam tinggi ramus mandibula antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dilaporkan memiliki ukuran ramus mandibula yang lebih besar secara signifikan dibandingkan perempuan. Temuan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya oleh Najm dan Abbas (2020), yang juga menemukan perbedaan serupa. Perbedaan ini dihubungkan dengan pola remodeling tulang yang dipengaruhi oleh faktor genetik, perbedaan populasi, massa otot, aktivitas otot pengunyahan, hormon, dan lingkungan sosial ekonomi. Secara umum, laki-laki memiliki ukuran tulang yang lebih besar karena pertumbuhan periosteal yang lebih dominan, sedangkan pada perempuan, pertumbuhan endosteal lebih berperan. Hormon seperti testosteron pada pria dan estrogen pada wanita juga mempengaruhi ukuran tulang, di mana testosteron meningkatkan ketebalan tulang pada laki-laki.

Namun, penelitian ini juga menemukan bahwa sudut gonial, yang sering dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin, tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya oleh Prakoeswa et al (2022), yang menyimpulkan bahwa sudut gonial lebih dipengaruhi oleh usia daripada jenis kelamin. Meski demikian, perbedaan pada sudut gonial ditemukan pada kelompok usia yang lebih tua, yaitu antara 60 hingga 80 tahun. Faktor-faktor seperti kekuatan otot masseter, nutrisi, dan hormon memainkan peran dalam variasi sudut gonial. Telah diketahui bahwa kekuatan otot yang lebih besar pada laki “ laki cenderung menghasilkan sudut gonial yang lebih kecil. Selain itu, pekerjaan yang menuntut aktivitas fisik tinggi, seperti atlet, dapat mempengaruhi kadar hormon dan memicu pertumbuhan tulang yang lebih besar. Korelasi sedang antara tinggi ramus mandibula dan jenis kelamin yang ditemukan melalui uji Pearson, menunjukkan bahwa tinggi ramus mandibula adalah indikator yang kuat untuk penentuan jenis kelamin. Sebaliknya, sudut gonial tidak menunjukkan korelasi yang signifikan.

Pengukuran pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan radiografi panoramik, yang dipilih karena kualitas pencitraannya yang tinggi. Meskipun begitu, keterbatasan data sekunder dan variasi kualitas radiografi dapat mempengaruhi hasil, terutama terkait sudut gonial. Penelitian lanjutan diharapkan melibatkan sampel yang lebih besar dan populasi yang lebih beragam untuk menghasilkan data yang lebih representatif. Hasil penelitian ini memperkuat pendapat pentingnya tinggi ramus mandibula sebagai parameter yang andal dalam identifikasi jenis kelamin, sementara sudut gonial kurang efektif untuk tujuan ini.

Penulis: Dr. An™nisaa Chusida, drg., M.Kes

Link:

Baca juga: Analisis Sudut Gonial Terhadap Usia pada Populasi Surabaya

AKSES CEPAT