51动漫

51动漫 Official Website

Trauma Genitourinari pada Anak: Data 7 tahundi Rumah Sakit Tersier Terbesar Indonesia Bagian Timur

Angka morbiditas dan mortalitas pada anak-anak jauh lebih tinggi dibandingkan orang dewasa pada insidensi trauma, data menyebutkan 3% dari anak-anak mengalami trauma genitourinaria yang signifikan, studi menyebutkan bahwa temuan ini disebabkan oleh etiologi yang bervariasi seperti trauma tumpul, kecelakaan lalu lintas, cedera pada saat melakukan aktivitas, pelecehan seksual, hingga trauma tajam. Namun demikian etiologi mungkin dapat berbeda dikarenakan faktor geografis lingkungan.

            Faktor anatomis juga dipercaya menjadi penyebab lebih rentannya trauma pada anak-anak maupun cedera ginjal dan kandung kemih dibandingkan orang dewasa. Tiga perbedaan utama anatomi pada anak-anak adalah lebih sedikitnya lemak perinefrik, proporsi ginjal yang lebih besar terhadap ukuran tubuh, dan posisi kandung kemih diatas pelvic ring. Ginjal adalah organ yang paling rentan dengan data 10% dari seluruh cedera tumpul pada perut, selain itu laporan data menyebutkan bahwa 57% anak-anak dengan cedera kandung kemih disertai dengan patah tulang panggul. Trauma urogenital pada anak-anak menjadi perhatian khusus karena mempertimbangkan implikasi pada faktor kesehatan reproduksi dimasa depan serta aspek fisik maupun psikologis.

Sayangnya, data yang berkaitan dengan trauma genitourinari pada anak-anak masih tidak begitu banyak. Selain itu, belum ada penelitian yang mengeksplorasi epidemiologi trauma genitourinari pada anak-anak di Indonesia. Berdasarkan temuan-temuan tersebut, penulis percaya bahwa masih terdapat kekurangan pemahaman mengenai trauma genitourinari di Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk menilai karakteristik cedera genitourinari pada anak-anak di Indonesia yang direpresentasikan oleh rumah sakit tersier tunggal diwilayah Indonesia Timur yaitu RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Penulis bersama dengan tim menggunakan data rekam medis pasien anak yang mengalami trauma multipel, termasuk trauma urogenital, antara bulan Agustus 2013 hingga Desember 2020, yang didukung oleh data pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang, data pasien akan diekslusi jika data rekam medis tidak lengkap.

Penulis menemukan bahwa hanya 60 pasien yang dirawat dengan trauma urogenital dan sebagian besar disebabkan karena kecelakaan lalu lintas (91,67%). Usia rata-rata adalah 13,5 (10-15,5) tahun, degan lama rawat inap adalah 14,8 (11,3) hari. Trauma ginjal muncul sebagai temuan yang signifikan dan terjadi pada lebih dari separuh sampel pada penelitian yang terdiri dari 34 kasus (56,67%). Di antara kelompok ini, 18 kasus (52,94%) diklasifikasikan sebagai traumna ginjal grade IV dan V. Trauma abdomen dan pelvis adalah cedera yang paling sering ditemukan pada anak-anak (97,67%). Di antara berbagai pilihan penatalaksanaan bedah dan non-bedah sistostomi terbuka dengan pemasangan selang suprapubik (38,33%) adalah prosedur yang paling sering dilakukan.

Manajemen non-operasi sering digunakan untuk kasus-kasus dengan hemodinamik yang stabil, yang mengarah pada tingkat kelangsungan hidup pasien yang baik. Tingkat keparahan cedera dan status hemodinamik memainkan peran penting dalam menentukan pendekatan manajemen, yang menunjukkan korelasi yang kuat antara tingkat cedera dan rencana pengobatan yang dipilih. Penelitian ini merupakan analisis komprehensif pertama tentang cedera genitourinari pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit tersier di Indonesia dalam kurun waktu 7 tahun.

Pilihan terapi untuk cedera urogenital pada anak, terutama untuk cedera ginjal tingkat I-III, sebagian besar melibatkan manajemen nonoperatif sesuai dengan rekomendasi pedoman Asosiasi Urologi Eropa (European Association of Urology, EAU). Pasien dengan cedera tingkat 1 hingga 3 biasanya tidak memerlukan perawatan selain observasi, sedangkan cedera tingkat 4 dan 5 besar kemungkinan memerlukan intervensi medis.

Dalam penelitian kami, kami mengamati bahwa pengobatan konservatif, yang meliputi metode non-operasi seperti observasi dan perawatan suportif, secara efektif menangani 93,75% cedera ginjal tingkat rendah dan 61,11% cedera ginjal tingkat tinggi. Dalam konteks trauma kandung kemih tingkat I-III, manajemen konservatif muncul sebagai pendekatan utama. Pada kasus trauma testis dan penis tingkat I-III, manajemen konservatif adalah tindakan yang lebih disukai. Temuan ini konsisten dengan berbagai publikasi yang mendukung keamanan dan kemanjuran manajemen nonoperatif untuk trauma ginjal pada anak-anak, selaras dengan praktik berbasis bukti pada kasus orang dewasa. Stabilitas hemodinamik dan tidak adanya cedera yang terjadi bersamaan yang memerlukan intervensi bedah merupakan pertimbangan utama dalam memilih perawatan nonoperatif.

Penelitian ini menunjukkan pentingnya pemahaman mengenai cedera genitourinari pada anak-anak di Indonesia. Meskipun terdapat keterbatasan, penelitian ini merupakan langkah pertama yang komprehensif dalam memahami permasalahan ini, terutama di rumah sakit tersier selama 7 tahun terakhir. Temuan ini memberikan wawasan berharga tentang faktor-faktor yang memengaruhi cedera genitourinari pada remaja, dan penting untuk menjaga keselamatan anak-anak di masa depan.

Penulis: Prof. Soetojo Wirjopranoto

Informasi detail dari laporan ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

AKSES CEPAT