Keberadaan rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan sangat penting untuk membantu memecahkan masalah kesehatan masyarakat secara paripurna. Telah ada sekitar 110 rumah sakit rujukan regional, 20 rumah sakit rujukan provinsi, dan 14 rumah sakit rujukan pusat di Indonesia. Namun, pembangunan infrastruktur kesehatan dan pengembangan sistem rujukan regional ternyata belum mampu mengatasi masalah disparitas pelayanan kesehatan. Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan terbukti menjadi salah satu faktor pemicu permasalahan ini. Tantangan lainnya yang dihadapi masyarakat berkaitan dengan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan yang layak, faktor sosial ekonomi, dan karakteristik demografi lainnya.
Pemecahan masalah mengenai disparitas utilisasi rumah sakit perlu segera digencarkan untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs). Dukungan dan komitmen pemerintah dibutuhkan untuk mempersiapkan dan menyediakan infrastruktur dan sumber daya kesehatan yang memadai. Solusi ini untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat di seluruh wilayah, tanpa memandang status tempat tinggal. Kondisi inilah yang melatarbelakangi pentingnya penelitian mengenai utilisasi rumah sakit di Indonesia, dengan fokus analisis pada disparitas perkotaan-pedesaan dan akan dikaitkan dengan berbagai faktor lain yang relevan.
Hasil analisis menemukan bahwa rata-rata utilisasi rumah sakit di Indonesia tahun 2018 sebesar 1,465% pada layanan rawat jalan, 3,053% rawat inap, dan 0,934% pada rawat jalan dan rawat inap secara simultan. Distribusi proporsi pemanfaatan rumah sakit terlihat acak tanpa menunjukkan pola tren tertentu. Lebih lanjut, hasil analisis menunjukkan masih adanya disparitas pemanfaatan rumah sakit berdasarkan jenis tempat tinggal di Indonesia. Masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan memiliki peluang lebih tinggi untuk memanfaatkan pelayanan rumah sakit dibandingkan masyarakat wilayah pedesaan. Kondisi ini karena tersedianya fasilitas rumah sakit yang memadai di wilayah perkotaan, baik untuk pelayanan rawat jalan maupun rawat inap.
Selain jenis tempat tinggal, penelitian ini juga menunjukkan bahwa pemanfaatan rumah sakit dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin seseorang. Rumah sakit lebih banyak dimanfaatkan oleh wanita usia dewasa karena tingginya kebutuhan kesehatan mereka, utamanya saat masa kehamilan dan melahirkan. Terlepas dari karakteristik jenis kelamin, orang dewasa secara umum memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan. Faktor inilah yang mendorong peningkatan pemanfaatan rumah sakit baik pada pelayanan rawat jalan maupun rawat inap. Lebih lanjut, penelitian ini juga menemukan bahwa status perkawinan meningkatkan tahap perkembangan keluarga sehingga meningkatkan kebutuhan akan fasilitas kesehatan. Hal ini melatarbelakangi tingginya pemanfaatan rumah sakit pada masyarakat yang berstatus menikah dibandingkan belum menikah.
Berdasarkan tingkat pendidikan, rumah sakit lebih banyak dimanfaatkan oleh masyarakat berpendidikan tinggi. Pendidikan sering dikaitkan dengan pengetahuan dan kesadaran akan kebutuhan kesehatan. Peningkatan pengetahuan kesehatan akan meningkatkan perhatian masyarakat akan pentingnya pemanfaatan pelayanan rumah sakit. Sebuah studi di Kongo juga menemukan bahwa pendidikan ibu yang lebih baik dikaitkan dengan pemanfaatan yang lebih tinggi pada perawatan antenatal. Penelitian lain juga melaporkan adanya peningkatan masa tinggal di rumah sakit pada pasien dengan tingkat pendidikan rendah.
Masyarakat yang tergabung dalam asuransi kesehatan memiliki peluang yang lebih baik untuk memanfaatkan rumah sakit daripada yang tidak memiliki asuransi. Berdasarkan jenisnya, pemanfaatan rumah sakit yang terbaik dilakukan oleh masyarakat yang memiliki asuransi pemerintah dan swasta sekaligus. Hasil ini mendukung penelitian tentang wanita imigran Asia yang memiliki asuransi kesehatan dan lebih cenderung mengunjungi penyedia layanan primer dan layanan kesehatan khusus wanita. Penelitian di Ghana Utara juga menemukan bahwa kepemilikan asuransi telah meningkatkan pemanfaatan pelayanan rumah sakit baik pada rawat jalan maupun rawat inap.
Salah satu faktor kunci pemanfaatan fasilitas kesehatan adalah tingkat kekayaan masyarakat. Sebagaimana hasil studi di Vietnam, penelitian ini juga menunjukkan bahwa daya beli masyarakat atas fasilitas kesehatan akan meningkat seiring peningkatan kekayaan. Sebaliknya, masyarakat dengan kekayaan rendah menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses fasilitas kesehatan. Meskipun program JKN telah memperingan biaya kesehatan, kendala terbesar yang masih dihadapi masyarakat berkaitan dengan biaya transportasi untuk mencapai pelayanan. Temuan ini dapat menjadi bukti pentingnya pemerataan infrastruktur dan sumber daya kesehatan yang memadai utamanya pada wilayah pedesaan di Indonesia.
Penulis: Ratna Dwi Wulandari
Sumber: Wulandari, R.D., Laksono, A.D., Nantabah, Z.K. Rohmah N. Zuardin Z. Hospital utilization in Indonesia in 2018: do urban搑ural disparities exist?. BMC Health Serv Res 22, 491 (2022). Link Artikel:





