Odontektomi merupakan prosedur yang paling umum dilakukan dalam bedah mulut dan maksilofasial. Dalam literatur, banyak komplikasi yang terkait dengan pencabutan gigi molar ketiga telah dijelaskan, seperti nyeri, pembengkakan, trismus, infeksi, inflamasi, dan kerusakan saraf. Komplikasi pasca odontektomi menyebabkan gejala klinis dan ketidaknyamanan bagi pasien pasca odontektomi. Penggunaan terapi antibiotic tanpa indikasi yang tepat dapat mengakibatkan hasil yang merugikan seperti perkembangan organisme resisten, infeksi sekunder, toksisitas antibiotik, dan perkembangan reaksi alergi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan gejala klinis pasien odontektomi molar ketiga mandibula yang menjalani anestesi lokal dengan antibiotik pasca odontektomi molar ketiga mandibula dan tanpa antibiotik pasca odontektomi molar ketiga mandibula melalui instrumen Skala PoSSe di Rumah Sakit Gigi dan Mulut 51动漫, Surabaya. Setelah odontektomi dengan anestesi lokal, 35 pasien diberikan antibiotik (amoksisilin) 媼dan obat pereda nyeri dan 35 pasien lainnya tidak diberikan antibiotik (hanya obat pereda nyeri dan obat kumur Klorheksidin).
Pada kontrol pasca-odontektomi hari ke-7, sampel diambil dari rekam medis pasien dengan odontektomi molar ketiga mandibula dan dianalisis tingkat keparahan gejala klinis yang timbul setelah odontektomi melalui penilaian skala PoSSe. Uji statistic dilakukan oleh Shapiro Wilk. Dalam penelitian ini, nilai rata-rata skor PoSSe total untuk pasien tanpa antibiotik Adalah 29,47, sedangkan untuk pasien yang diberikan antibiotik adalah 26,90. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua skor tersebut. Tidak terdapat perbedaan gejala klinis pada pasien yang diberikan antibiotik setelah odontektomi molar ketiga mandibula dengan anestesi lokal dan tanpa antibiotik setelaho dontektomi molar ketiga mandibula menggunakan instrumen Skala PoSSe.
Penulis: Andra Rizqiawan, drg., Sp.BM., Ph.D.





