51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita dengan Ibu Bekerja di Indonesia

Ilustrasi by Darya Varia

Kejadian stunting balita berkaitan erat dengan kondisi kesehatan ibu. Penelitian ini berfokus untuk membahas stunting balita pada ibu pekerja. Sebagaimana yang banyak kita ketahui, ibu bekerja akan memiliki peran ganda, yaitu sebagai pengurus rumah tangga dan berperan dalam pekerjaan. Kondisi ini menjadikan ibu pekerja tergolong dalam kelompok yang rentan memiliki balita stunting. Stunting tidak hanya menggambarkan kondisi fisik anak yang lebih pendek dari teman sebayanya, tetapi juga dapat meggambarkan kesejahteraan mereka serta kondisi lingkungan dan ketidaksetaraan sosial yang dianut masyarakat sekitarnya. Tidak hanya dalam jangka pendek, stunting memberikan konsekuensi terhadap status kesehatan anak di masa depan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa stunting di awal kehidupan akan memiliki implikasi fungsional yang merugikan, termasuk kognisi yang buruk dan hilangnya produktivitas. Lebih lanjut, jika terdapat masalah berat badan di masa kanak-kanak yang menyertai stunting, hal ini akan meningkatkan risiko penyakit kronis yang terkait dengan kelebihan status gizi.

Catatan Global Health Observatory menunjukkan bahwa, secara global, sekitar 21,9%, atau hampir 150 juta anak balita mengalami stunting. Secara umum, capaian stunting di Indonesia masih tinggi, melebihi batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu >20%. Pemerintah Indonesia berupaya untuk menurunkan stunting menjadi 14% pada tahun 2024 dengan mengikuti Rencana Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Prevalensi ini diharapkan dapat terus mengalami penurunan menjadi 17,5% pada tahun 2030 untuk mengurangi efek buruk dari stunting.

Hasil penelitian ini menemukan bahwa rata-rata prevalensi balita stunting (stunted dan severely stunted) dengan ibu bekerja di Indonesia adalah 30,9%. Berdasarkan wilayahnya, sebaran balita stunting tidak menunjukkan pola tertentu. Hanya wilayah Jawa-Bali sebagai pusat pemerintahan yang memiliki prevalensi balita stunting lebih rendah. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa usia ibu bekerja mempengaruhi kejadian balita stunting di Indonesia. Fenomena yang sama juga terjadi di Rwanda dan India. Studi di India secara khusus menjelaskan bahwa usia ibu saat pertama kali menikah dan usia ibu saat melahirkan berpengaruh terhadap kejadian stunting. Semakin muda usia ibu saat menikah, semakin tinggi risiko ibu memiliki anak stunting berat.

Menurut status perkawinannya, ibu yang sudah menikah memiliki kemungkinan tertinggi untuk terhindar dari balita stunting di Indonesia. Hal ini berkaitan dengan adanya suami yang dapat membantu ibu untuk berbagi peran dalam mencari nafkah dan mengurus anak. Bagi ibu single parents atau yang mengalami perceraian, tanggung jawab tersebut diemban ibu seutuhnya. Dengan demikian sangat mungkin bagi ibu untuk mengurangi perhatian mereka pada anak karena lebih berfokus untuk bekerja demi terpenuhinya kebutuhan ibu dan anak. Dalam konteks ini, status pendidikan ibu turut memainkan peran penting untuk memberikan peluang kerja yang lebih baik pada ibu, yang berdampak pada meningkatnya status sosial ekonomi keluarga.

Tingkat pendidikan ibu juga berhubungan dengan baik buruknya pertumbuhan anak. Ibu bekerja dengan tingkat pendidikan tinggi otomatis memiliki pengetahuan yang lebih baik terkait pemenuhan kebutuhan anak. Kondisi ini berlaku secara fisik, mental, dan sosial karena kesehatan mental pengasuh dan pola asuh orang tua berpengaruh terhadap pertumbuhan anak. Efek positif dari tingkat pendidikan berlaku untuk status gizi anak dan menyebar ke sektor kesehatan lainnya. Sementara itu, beberapa studi telah mengidentifikasi pendidikan yang buruk sebagai penghambat output program kesehatan, dan pendidikan yang buruk dapat mempengaruhi akses terhadap pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan kesehatan dan gizi.

Penelitian ini membuktikan bahwa stunting pada balita merupakan hasil dari faktor multi-dimensi yang berkaitan erat dengan karakteristik ibu. Diantara berbagai faktor yang dianalisis, ditemukan bahwa jenis tempat tinggal, tingkat pendidikan ibu, dan usia balita berpengaruh terhadap kondisi stunting balita. Ibu yang tinggal di wilayah pedesaan, memiliki tingkat pendidikan rendah, dan balita dengan usia lebih tua lebih berisiko untuk mengalami stunting. Sementara itu, ketiga faktor tersebut apabila dibarengi dengan kondisi ibu usia ≤19 tahun dengan status tidak pernah menikah, maka akan meningkatkan risiko terjadinya stunting berat pada anak. Berdasarkan temuan penelitian ini, penguatan sektor pendidikan dan ketahanan keluarga merupakan intervensi penting untuk menurunkan prevalensi stunting. Melalui temuan ini diharapkan akan tercipta berbagai program baru khususnya dalam bidang pendidikan dan kebijakan ketenagakerjaan untuk mengurangi prevalensi stunting di kalangan anak-anak pada ibu pekerja di Indonesia.

Penulis: Ratna Dwi Wulandari

Sumber: Laksono, A.D.; Sukoco, N.E.W.; Rachmawati, T.; Wulandari, R.D. Factors Related to Stunting    Incidence in Toddlers with Working Mothers in Indonesia. Int. J. Environ. Res. Public Health 2022, 19, 10654. https://doi.org/10.3390/ijerph191710654

Link Artikel: https://doi.org/10.3390/ijerph191710654

AKSES CEPAT