51动漫

51动漫 Official Website

Identifikasi Faktor Penentu Keberhasilan Pelayanan Kesehatan di Lembaga Pemasyarakatan

Foto oleh recovery-group.co.jp

Lapas dari dahulu hingga sekarang cenderung memiliki lingkungan yang tidak sehat dan jarang menjadi perhatian. Permasalahan yang konsisten terkait erat kesehatan lingkungan di penjara meliputi overcapacity, kondisi sanitasi yang buruk, pencahayaan dan ventilasi yang tidak memadai, suhu yang ekstrem, serangan serangga dan hewan pengerat, dan persediaan kebersihan pribadi yang tidak memadai. Selain itu umumnya memiliki kondisi layanan kesehatan di Lapas memiliki standar yang rendah dari layanan kesehatan yang tersedia untuk masyarakat umum. Permasalahan ini beresiko dapat memperparah kondisi kesehatan narapidana yang ada karena kondisi Lapas yang overcrowded kurangnya sumber daya yang berkompeten dalam melakukan perawatan kesehatan yang memadai.

Kelebihan kapasitas di lapas seluruh Indonesia rata-rata mencapai 52% sepanjang tahun 2012 hingga 2020. Dengan kapasitas yang hanya 135.561, lapas di Indonesia harus menampung lebih dari 200 ribu narapidana. Fenomena tersebut terus terjadi sepanjang tahun dan cenderung semakin meningkat. Hanya pada tahun 2020 kelebihan kapasitas mengalami penurunan karena pada pemerintah Indonesia pada saat itu banyak membebaskan narapidana sebagai respons atas pandemi Covid-19.

Penelitian ini diarahkan untuk menginvestigasi bagaimana kondisi layanan kesehatan didalam Lapas/Rutan, upaya yang dilakukan Lapas terkait kesehatan narapidana dan bagaimana dampak dari adanya anggaran layanan kesehatan yang sudah tersedia. Selain itu penelitian ini akan melihat sejauh mana faktor-faktor esensial dapat dijadikan penentu keberhasilan layanan kesehatan menurut World Health Organization (WHO) yakni medical care, health protection, health promotion, dan health resilience dalam praktik penyelenggaraan di Lapas  di Indonesia. Dengan demikian penelitian ini dilakukan sebagai upaya identifikasi pada Lapas  di Indonesia terkait kondisi tata kelola layanan kesehatan serta hambatan dan kendala yang dihadapi dalam penyelenggaraan layanan kesehatan.

Pemasyarakatan Republik Indonesia telah mengalokasikan anggaran layanan kesehatan sebesar Rp 17.000/orang/bulan atau Rp. 204.000/orang/tahun pada tahun 2020 dan meningkat menjadi Rp 25.000 /orang/bulan atau Rp. 300.000/orang/tahun pada tahun 2021 sebagai respons atas pandemi Covid-19. Harapannya dengan adanya anggaran tersebut Lapas  memiliki kemampuan dalam memenuhi kebutuhan perawatan kesehatan bagi narapidana dan peningkatan kapasitas medis poliklinik didalam Lapas  dengan jumlah dan variasi obat serta perlengkapan medis yang menunjang perawatan kesehatan dasar.

Dalam penelitian yang telah dilakukan, banyak faktor yang menyebabkan layanan kesehatan di Lapas di Indonesia sangat beragam bahkan ditemukan perbedaan yang sangat mencolok. Kondisi ini terjadi bukan semata atas upaya Lapas  yang kurang optimal, namun banyak hal seperti faktor lokasi, faktor lingkungan, faktor sumber daya, faktor ekonomi politik daerah yang menentukan sejauh mana kesulitan dan kemudahan bagi Lapas dalam mengupayakan kebutuhan dasar dan layanan kesehatan yang standar.

Selain itu, hasil penelitian ini mengarah pada perlunya ada tindakan strategis yang lebih tepat dan berkelanjutan untuk peningkatan kualitas terutama bagi keberhasilan hak asasi manusia, kesehatan masyarakat, tata kelola, administrasi, dan manajemen yang akan diperoleh. Tentu saja, penguatan dukungan dari Kanwil dan Ditjen Pemasyarakatan juga berperan penting dalam mempercepat dan memberikan peluang untuk mempengaruhi hal positif ini. .

Penelitian ini menggambarkan pola yang terjadi di lembaga pemasyarakatan yang diwakili oleh 18 unit di 4 pulau di Indonesia. Peneliti selanjutnya dapat mengkaji faktor keberhasilan pelayanan kesehatan di daerah lain di Indonesia. Selain itu, akan menarik untuk mengambil keadaan dan sudut pandang di negara lain dengan karakteristik yang berbeda, seperti sistem manajemen, kondisi kapasitas, dan kondisi narapidana.

Meskipun alokasi anggaran untuk pelayanan kesehatan telah dilaksanakan di lembaga pemasyarakatan di Indonesia, peningkatan kualitas pelayanan kesehatan di lembaga pemasyarakatan masih belum optimal dan cenderung lambat. Untuk mengatasi masalah tersebut, penelitian ini berupaya memberikan gambaran pelayanan kesehatan yang komprehensif dengan mengidentifikasi kondisi dan manajemen pelayanan kesehatan, serta hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaannya.

Di sisi lain, upaya preventif dan promotif gerakan kehidupan juga perlu digalakkan dalam berbagai kegiatan di Lapas. Oleh karena itu, diperlukan peran berbagai pihak mulai dari pejabat, pengurus, Kanwil, dan Ditjen Pemasyarakatan. Hal ini diharapkan mampu membangun kesadaran individu dan kolektif dalam hal perilaku hidup sehat seluruh narapidana dan petugas yang pada gilirannya berdampak pada pengurangan risiko penyakit dan beban biaya pengobatan dan penyembuhan. Faktor pelayanan kesehatan yang selama ini dilakukan oleh lembaga pemasyarakatan Indonesia perlu disandingkan dengan memberikan kesadaran kepada narapidana akan pentingnya faktor pelayanan kesehatan tersebut. Selain konteks Indonesia, hasil penelitian ini dapat diterapkan pada negara lain yang memiliki permasalahan serupa dengan Indonesia, yaitu overcapacity. Selain itu, hasil penelitian ini juga relevan di negara-negara yang menerapkan sistem manajemen tahanan serupa.

Penulis: Anis Eliyana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

(Identification of Factors Determining the Success of Health Care at Correctional Institutions in Indonesia)

AKSES CEPAT