51动漫

51动漫 Official Website

Literasi Digital dan Pola Konsumis Smartphone pada Kelompok Lanjut Usia: Studi di Indonesia dan Pakistan

Ilustrasi (sumber: literasi digital)

Penemuan teknologi digital, meskipun membawa potensi transformasi yang signifikan, tidak serta merta menciptakan masyarakat yang sepenuhnya dapat mengadopsi teknologi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Castells (2005), idealnya, masyarakat jejaring yang kaya informasi seharusnya muncul, memungkinkan individu untuk lebih berdaya dan terhubung. Namun, kenyataannya menunjukkan adanya kesenjangan yang mencolok antara generasi yang dibesarkan bersamaan dengan kemajuan teknologi digital攄ikenal sebagai generasi digital native攄an generasi sebelumnya, yang sering kali disebut sebagai digital migrant. Dalam konteks ini, kelompok masyarakat lanjut usia menjadi salah satu kelompok migran digital yang paling rentan, terutama dalam hal penguasaan dan pemanfaatan teknologi digital, seperti smartphone. Kelompok usia lanjut sering kali mengalami tantangan dalam mengadopsi teknologi digital. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kompleksitas fitur-fitur pada smartphone yang cenderung membingungkan, serta rendahnya tingkat literasi digital di antara mereka. Literasi digital yang tidak memadai ini berpotensi menghambat kemampuan mereka untuk memahami dan menggunakan berbagai aplikasi dan layanan yang dapat meningkatkan kualitas hidup mereka.

Sekitar 18% orang lanjut usia di Indonesia攖erutama mereka yang berusia 50 tahun ke atas攎enggunakan smartphone. Angka ini menunjukkan bahwa kurangnya perhatian terhadap masalah literasi digital dan pola penggunaan smartphone di kalangan kelompok lanjut usia. Ini menunjukkan bahwa tidak banyak penelitian yang mendalam tentang bagaimana mereka berinteraksi dengan teknologi dan bagaimana mereka dapat memanfaatkannya secara optimal. Sama seperti Indonesia, penggunaan smartphone di Pakistan didominasi oleh kelompok usia muda (digital native), sementara kelompok lanjut usia hanya menggunakan kurang dari 10%. Meskipun kedua negara memiliki pola adopsi teknologi digital yang sama, terdapat perbedaan yang mencolok dalam konteks sosial dan budaya yang berpengaruh pada tingkat literasi digital dan penggunaan smartphone, terutama di kalangan lanjut usia. Untuk mengukur penggunaan smartphone, penelitian ini menggunakan pernyataan-pertanyaan yang dikembangkan oleh Mobile Device Proficiency Questionnaire (MDPQ). Instrumen ini dirancang untuk mengevaluasi tingkat kompetensi dan kenyamanan individu dalam menggunakan berbagai fitur smartphone.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Indonesia dan Pakistan lansia secara aktif memanfaatkan smartphone untuk mendukung kehidupan sehari-hari. Temuan ini mengindikasikan bahwa teknologi smartphone telah menjadi bagian integral dari rutinitas harian lansia, membantu mereka dalam berbagai aspek kehidupan dengan mudah dan nyaman digunakan. Tidak hanya aktivitas dasar dalam interaksi media sosial, hal yang sama juga nampak dari perolehan angka pada aktivitas lansia dalam menonton video maupun film di internet, menemukan informasi terkait komunitas lokal, hobi, sampai berita kesehatan, dan membaca berita di internet dan media sosial yang dianggap lansia mudah untuk diakses. Peningkatan partisipasi lansia dalam aktivitas daring mencerminkan pergeseran signifikan dalam pola penggunaan media yang lebih inklusif, di mana teknologi digital kini berfungsi sebagai alat penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan memberdayakan lansia dalam berbagai aspek kehidupan.

 Lansia di Indonesia dan Pakistab dalam menggunakan smartphone mempertimbangkan nilai-nilai etika di masyarakat. Dalam menggunakan smartphone mereka tidak mau turut terlibat dalam hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan, seperti kebudayaan, keagamaan, dan bahkan politik. Misalkan terkait politik, menjadi salah satu isu yang selalu dihindari oleh lansia. Mereka menyadari setiap orang memiliki perbedaan pilihan sehingga mereka lebih memilih diam karena perbedaan pilihan politik dapat menimbulkan pertengkaran yang berujung pada permusuhan antara teman.  Lansia menyadari bahwa isu yang ada di ruang digital dianggap lebih sensitif dan mudah menimbulkan emosi seseorang terpancing.

Keamanan menjadi salah satu penghambat lansia Indonesia dalam mengeksplorasi smartphone mereka. Para lansia memiliki ketakutan ketika harus mengeksplorasi lebih dalam fitur dan aplikasi di smartphone. Terdapat perasaan takut salah memencet jika diharuskan mengakses sesuatu atau mengatasi persoalan yang dihadapi. Ketika lansia dihadapkan suatu persoalan pada smartphone mereka akan mengalami kepanikan. Hal tersebutlah yang kemudian membuat lansia lebih banyak menggunakan smartphone untuk berkomunikasi melalui WhatsApps saja. Isu keamanan dalam penggunaan smartphone oleh lansia yang selalu disebutkan adalah terkait dengan penipuan. Dalam hal ini seluruh lansia telah mengerti tanda-tanda penipuan yang marak di ruang digital.

Transformasi ini menunjukkan bahwa kelompok usia lansia dapat menyesuaikan diri dengan teknologi dan mengubah cara mereka berpartisipasi dalam masyarakat digital. Dengan semakin sering menggunakan platform digital, mereka tidak hanya menjadi konsumen informasi tetapi juga kontributor dalam merayakan dan melestarikan warisan budaya. Untuk memungkinkan orang tua menjalani kehidupan yang lebih terhubung dan produktif, diperlukan kebijakan dan inisiatif pendidikan yang inklusif. Penting untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut tentang efek penggunaan smartphone terhadap kesejahteraan mental dan sosial orang tua. Penelitian dapat dilakukan untuk menemukan hubungan antara frekuensi penggunaan smartphone dan tingkat kepuasan hidup, kesehatan mental, dan keterhubungan sosial di kalangan orang tua. Selain itu, studi jangka panjang yang melibatkan kelompok orang tua dari berbagai latar belakang sosial-ekonomi dan geografis dapat memberikan wawasan yang lebih luas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi dan penggunaan teknologi. Penelitian juga dapat menyertakan analisis jenis aplikasi apa yang paling bermanfaat bagi orang tua, serta kesulitan yang mereka hadapi dalam mengakses teknologi digital. Hasil-hasil ini dapat digunakan untuk membuat kebijakan dan program intervensi yang lebih tepat sasaran untuk membantu orang tua memanfaatkan teknologi secara optimal.

Penulis: Yuyun Wahyu Izzati Surya, S.Sos., MA.,PhD

DOI: https://ijmil.cherkasgu.press/journals_n/1750427904.pdf

AKSES CEPAT