Pendahuluan
Umat Muslim dikenal karena tingkat filantropinya yang tinggi. Sebagai negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia, dengan 86,7% penduduknya beragama Islam, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk praktik Infaq dan Shadaqah. Selain itu, terdapat peningkatan penggunaan donasi digital yang signifikan sebesar 72%, dengan Generasi Z memainkan peran penting. Tingkat partisipasi mereka meningkat dari 35% menjadi 51%, melampaui Generasi Milenial yang partisipasinya meningkat dari 30% menjadi 40%.
Tren ini menyoroti keterlibatan digital Gen Z yang signifikan dan peran mereka dalam mendorong praktik filantropi digital. Gen Z, yang dikenal karena keterampilan teknologi canggih dan kehadiran media sosial yang aktif, telah menjadikan fitur-fitur digital penting. Sebagai negara dengan populasi terpadat keempat, dengan perkiraan populasi 284,15 juta jiwa pada tahun 2024, demografi Indonesia menawarkan potensi substansial untuk filantropi digital. Keahlian dan keterlibatan digital mereka mendorong mereka untuk mempromosikan praktik filantropi digital di Indonesia.
Menerapkan model ISS memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang kebutuhan dan harapan pengguna sekaligus memastikan manajemen sistem pembayaran daring yang efektif untuk filantropi Islam. Implementasi tersebut berkontribusi untuk mencapai tujuan akhir membantu mereka yang membutuhkan sambil menjunjung tinggi nilai-nilai dan prinsip-prinsip filantropi Islam. Beberapa penelitian telah mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi niat untuk mendigitalkan infaq dan shadaqah. menemukan bahwa religiusitas intrinsik umat Islam secara tidak langsung memengaruhi niat untuk berinfaq daring, dengan faktor-faktor sosial memediasi antara religiusitas dan niat ini. Para peneliti telah menggunakan beberapa model teoretis untuk memahami intensi individu dalam filantropi Islam. TPB berfokus pada sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kendali perilaku yang dirasakan, yang memengaruhi intensi.
Tinjauan Pustaka
Model ISS
Konstruk utama studi ini berasal dari model ISS yang dikembangkan oleh DeLone dan McLean (1992). Model ISS, yang diakui dan diterima secara luas, menawarkan kerangka kerja komprehensif untuk memahami perilaku pengguna setelah penggunaan sistem. Meskipun telah diadopsi, model ISS telah menghadapi kritik karena kompleksitas dan ambiguitasnya. Menanggapi hal ini, DeLone dan McLean merevisi model tersebut untuk memasukkan kualitas layanan, niat, dan kepuasan pengguna, dengan kualitas layanan mengacu pada dukungan yang diberikan oleh penyedia layanan, seperti jaminan, empati, dan akuntabilitas. Meskipun TPB, TAM, dan UTAUT penting untuk memahami tahap adopsi awal, model-model tersebut tidak sepenuhnya menangkap perilaku pasca-penggunaan dan keterlibatan jangka panjang. Sebaliknya, model ISS secara unik membahas aspek-aspek tersebut, dengan berfokus pada kepuasan pengguna, kualitas sistem, dan kualitas layanan, yang penting untuk mengevaluasi keberhasilan berkelanjutan platform digital, terutama dalam konteks filantropi Islam. Dengan menggabungkan dimensi-dimensi ini, model ISS menyediakan kerangka kerja yang lebih komprehensif yang mempertimbangkan penerimaan awal dan efektivitas jangka panjang serta keselarasan dengan prinsipprinsip Islam seperti Infaq dan Shadaqah.
Infaq dan Sadaqah
Infaq merupakan perbuatan baik yang dianjurkan untuk membantu mereka yang membutuhkan, menjaga kesejahteraan sosial, dan menumbuhkan keharmonisan ekonomi dalam masyarakat. Istilah sedekah berasal dari kata Arab 芦sadq禄 atau 芦sidq禄, yang berarti kejujuran dan ketulusan. Dalam hukum Islam, sedekah didefinisikan sebagai pemberian amal kepada fakir miskin, yang diberikan atas nama Allah SWT, dengan tujuan mendapatkan pahala dari-Nya. Sedekah adalah tindakan mulia yang menunjukkan keutamaan memberi daripada menerima dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Generasi Z
Gen Z memiliki banyak kesamaan karakteristik dengan generasi milenial, tetapi menunjukkan ciri-ciri khas yang dibentuk oleh pola asuh mereka di era digital. Dibandingkan generasi sebelumnya, Gen Z lebih adaptif terhadap teknologi baru dan merupakan bagian dari kelompok 芦digital native禄. Hidup di dunia yang didominasi oleh komputer, ponsel pintar, dan perangkat digital, Gen Z mengandalkan ponsel pintar sebagai perangkat dan pendamping utama dalam hidup mereka. Gen Z tertarik pada gawai dan teknologi digital serta lebih menyukai transaksi yang efisien dan cepat. Mereka sangat bergantung pada konten digital, seperti ulasan dan peringkat, saat mengambil keputusan. Penelitian sebelumnya telah mengeksplorasi kontribusi Gen Z terhadap praktik filantropi melalui pembayaran digital, dan telah menyoroti keterlibatan aktif Gen Z dalam filantropi digital.
Lebih lanjut, ditemukan bahwa sikap, lingkungan sosial, kendali perilaku, persepsi kemudahan dan kegunaan teknologi, serta ketersediaan fasilitas yang memadai memengaruhi keputusan generasi milenial untuk berdonasi daring. Allah Pitchay (2023) lebih lanjut menyoroti bahwa efektivitas donatur dan kewajiban moral memotivasi generasi milenial di Malaysia dan Indonesia untuk berkontribusi. Meskipun faktor-faktor seperti sikap dan lingkungan sosial paling memengaruhi Gen X, Generasi Baby Boomer lebih dipengaruhi oleh kendali perilaku yang dirasakan. Perbandingan ini menyoroti bagaimana kelompok generasi, dari Generasi Baby Boomer hingga Gen Z, menunjukkan motivasi dan pengaruh yang berbeda-beda dalam perilaku donasi mereka.
Metode dan Hasil
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui survei daring menggunakan skala Likert 5 poin dari 293 responden. Populasi penelitian ini terdiri dari individu Gen Z yang berkontribusi pada Infaq dan Sadaqah melalui platform digital. Dalam hal ini, kriterianya meliputi beragama Islam, lahir antara tahun 1997 dan 2012, memiliki penghasilan tetap atau bekerja, dan pernah berdonasi (seperti Infaq dan Sadaqah) melalui platform pembayaran daring. Purposive sampling dipilih daripada stratified dan random sampling agar lebih selaras dengan tujuan penelitian. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan structural equation modelling (SEM-PLS).
Studi ini menemukan bahwa kualitas sistem, kualitas informasi, kualitas layanan, persepsi risiko, dan kepercayaan secara signifikan memengaruhi kepuasan pengguna dan niat pengguna untuk terus berinfaq dan bersedekah melalui pembayaran daring. Lebih lanjut, kepuasan berpengaruh positif terhadap niat pengguna untuk terus berinfaq dan bersedekah daring.
Penulis: Prof. Dr. Ririn Tri Ratnasari, S.E., M.Si.
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Bonang, D., Zaki, I., & Ratnasari, R. T. (2025). Muslim Gen Z檚 intention on Infaq and Sadaqah through online payment: an insight from Indonesia. Journal of Islamic Accounting and Business Research.





