Periode kritis perkembangan perilaku berisiko dan gaya hidup terjadi selama masa remaja. Remaja awal sangat rentan terhadap pengaruh teman karena pada tahap ini mereka mulai beradaptasi dengan lingkungan baru dan mengalami tekanan teman sebaya dan akhirnya mencoba perilaku berisiko kesehatan seperti merokok dan minum minuman keras. Perilaku kesehatan secara signifikan dipengaruhi oleh faktor efikasi diri. Pencegahan perilaku berisiko kesehatan pada remaja merupakan tanggung jawab orang tua sebagai pengasuh dan panutan bagi anak. Merokok dan minum-minuman keras termasuk dalam kategori risiko yang menghambat perkembangan remaja untuk mencapai tahap optimal. Menurut data WHO, ada 1,2 juta remaja meninggal pada tahun 2015, sebagian besar karena masalah yang dapat dicegah atau tidak dapat diatasi. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab kematian paling signifikan di kalangan remaja. Selain itu, setiap tahun ada 44 kelahiran per 1000 anak perempuan usia 15-19 tahun.
Faktor penyebab perilaku merokok dan minum pada remaja adalah lingkungan, teman sebaya, status ekonomi keluarga, persepsi tentang rokok, iklan rokok, lingkungan psikologis, dan kurangnya interaksi orang tua dengan anak. Faktor lingkungan keluarga meliputi pola asuh, komunikasi anak dengan orang tua, status sosial ekonomi. Gaya pengasuhan merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku berisiko kesehatan pada remaja.
Penelitian terhadap 704 orangtua remaja di wilayah Jawa Timur melalui system daring, diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-efficacy orang tua dengan pencegahan perilaku berisiko pada remaja di wilayah Jawa Timur. Selanjutnya komitmen orang tua juga berhubungan dengan pencegahan perilaku berisiko Kesehatan pada remaja.
Orang tua membutuhkan self-efficacy untuk membentuk komitmen pencegahan perilaku berisiko kesehatan pada remaja. Selain merokok dan minum minuman keras, perilaku lain yang dianggap perilaku berisiko bagi kesehatan menurut WHO, yaitu kehamilan dan persalinan dini, HIV, penyakit menular, kesehatan mental, perilaku kekerasan, alkohol dan obat-obatan, cedera, gizi buruk dan obesitas, olahraga dan diet, dan hak asasi remaja. Orang tua membutuhkan efikasi diri untuk menjalankan perannya dengan baik untuk mengasuh anak dengan baik. Self-efficacy dapat didefinisikan sebagai keyakinan yang dimiliki untuk mencapai tujuan tertentu. Keyakinan akan mendorong orang tua untuk merencanakan serangkaian tugas secara efektif.
Peran orang tua sangat penting untuk mencegah perilaku berisiko kesehatan di kalangan remaja. Wajar saja, orang tua tentu ingin mengambil tindakan untuk mencegah anaknya melakukan perilaku berbahaya, terutama yang berkaitan dengan kesehatan. Namun hal sebaliknya dapat terjadi dimana orang tua tidak dapat melakukan tindakan preventif karena kurangnya rasa percaya diri atau efikasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan orang tua sangat bervariasi. Bahkan ada orang tua yang kurang percaya diri untuk n melakukan tindakan preventif terhadap perilaku berisiko kesehatan pada remaja. Skor terendah terdapat pada item pertanyaan tentang kepercayaan orang tua terkait kenyamanan dalam mencegah perilaku berisiko kesehatan pada remaja. Orang tua akan merasa percaya diri jika tindakan tersebut tidak mengganggu kenyamanannya. Sebaliknya, ketika orang tua merasa percaya diri, kebosanan tidak akan muncul. Hal ini ditunjukkan dengan skor tertinggi pada aspek kebosanan.
Orang tua merupakan penentu perilaku remaja. Self-efficacy yang dimiliki oleh orang tua menjadi dasar tumbuhnya komitmen untuk mencegah perilaku berisiko pada remaja. Efikasi diri yang tinggi juga akan membentuk komitmen yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi diri memiliki hubungan positif dengan komitmen orang tua. Semakin tinggi tingkat kepercayaan orang tua maka semakin tinggi pula komitmen orang tua untuk mencegah perilaku berisiko kesehatan pada remaja. Keterlibatan orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat mencegah perilaku berisiko kesehatan seperti merokok, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas. Self-efficacy akan menentukan komitmen orang tua agar perilaku yang ditampilkan dapat bertahan lama. Melalui komitmen yang tinggi, orang tua memiliki rasa tanggung jawab terhadap perilaku remaja, sehingga dalam kondisi stres tidak menghalangi upaya pencegahan perilaku berisiko kesehatan pada remaja. Komitmen yang tinggi mendorong orang tua untuk memiliki motivasi yang tinggi tanpa mengenal kebosanan dalam mengambil tindakan.
Penulis: Ilya Krisnana, S.Kep., Ns., M.Kep.
Artikel ini juga dapat dilihat pada artikel jurnal dengan judul Self-Efficacy and Parental Commitment to Prevent Health Risk Behavior Among Adolescents in East Java terbit pada Jurnal Enfermeria Clinica 32 (2022) S20-S23, Ilya Krisnana, Praba Diyan R, Iqlima Dwi Kurnia.





